Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat Tadius Tukari Hati Giawa, PA Raphael Simalingkar Medan

Mama, Masih Doa yang Dapat Kulakukan

- Minggu, 21 Desember 2014 17:54 WIB
296 view
Natal itu suci. Natal itu damai. Natal itu suka cita. Natal itu segalanya yang indah karena dosa manusia ditebusNya. Tetapi tidak mutlak semuanya berlaku bagiku. Soalnya, setiap Natal datang pasti mengudak kenanganku pada bumi yang retak dan diamuk air. Air yang menggunung bergejolak dan beriak, menggumpal-gumpal dan menggulung menimpa tempat tinggal kami di Teluk Dalam, Nias Selatan hingga menelan mamaku.

Ya, mamaku, perempuan yang melahirkanku dipanggilNya melalui bencana maut tersebut. Waktu itu aku tak tahu apa itu gempa bumi dan tsunami.

Yang kuingat, dalam pekatnya malam, tiba-tiba rumah kami berguncang. Air bah mengguyur. Kami basah... dan tiba-tiba rumah ambruk.

Tangisan pun sambung-menyambung. Sama seperti di rumah kami, yang karena rasa sakit, tangisan merubah menjadi jeritan. Di luar pun teriak histeris  pun terdengar.

Esoknya diketahui bahwa ratusan orang meninggal karena amuk bumi tersebut. Banyak sih kerabatku yang juga jadi korban, tapi yang kuingat adalah mamaku juga berada dalam jejeran mayat yang dikebumikan dalam satu upacara besar.

Bukan main sedihnya karena kehilangan orang yang kusayangi. Dalam hidupku, itulah kesedihan yang paling menyesakkan. Dalam sakit, waktu itu aku berdoa, kiranya tak ada lagi duka yang lebih parah dari kehilangan mama. Tetapi, doaku belum dijawabNya.

Tak lama setelah aku dipisahkan oleh kematian mama, aku pun dipisahkan dari papa. Bukan... papaku tidak mengikuti kepergian mamaku ke surga tapi aku yang dipisahkan dari papaku. Soalnya, karena gempa bumi dan tsunami serta kehilangan mama, papa tak kuat menanggung bebas hingga pikirannya tidak stabil. Tidak ada biaya untuk membesarkanku dan bersekolah.

Oleh saudaraku, aku diantar ke panti asuhan di Medan. Hidup dalam satu keluarga baru, pasti sama sekali asing. Tetapi, bercengkerama dengan kawan-kawan yang berlatar belakang sama, menyatukan pikiran bahwa ternyata ada orang lain yang juga senasib denganku. Tidak punya orangtua karena satu dan lain sebab.

Di panti, menyadarkanku bahwa hidup tak harus berada dekat dengan orangtua tapi harus tetap memegangNya sebagai tuntunan agar jalan ke arahNya semakin jelas. Bahkan, dengan tetap menjadikanNya pegangan, konon,  suatu waktu aku bisa bertemu dengan mama yang sudah di rumah Bapa.

Di panti ini pula yang membuatku tahu kenapa mamaku dipanggilNya.

Waktu itu terjadi gempa. Tepatnya 28 Maret 2005. Pusat gempanya berada, 30 km di bawah permukaan Samudra Hindia, 200 km sebelah barat Sibolga, Sumatera atau 1400 km barat laut Jakarta, sekitar setengah jarak antara pulau Nias dan Simeulue. Catatan seismik memberikan angka 8,7 skala Richter. Gempa itu getarannya terasa hingga Bangkok, Thailand, sekitar 1.000 km jauhnya. Gempa ini kemungkinan terpicu oleh gempa sebelumnya pada bulan Desember 2004, gempa Bumi Samudra Hindia 2004.

Sampai sekarang, meski tidak gempa, aku masih merasakan guncangannya. Apalagi bila mendekat Natal seperti ini. Orang-orang selalu beroleh baju baru, merayakan bersama orangtuanya.  Tetapi tidak dengan aku.

Aku merayakan dalam suka cita tapi tanpa mama. Meski tak pernah lagi bertemu, aku masih ingat wajah mama. Aku ingat terakhir kali mama menggendongku, memindahkan aku ke tempat tidur. Ketika terlelap, esoknya mama pun terlelap untuk selamanya.

Menjelang Natal ini, rasa rindu ingin bertemu Mama makin terasa. Ingin bertemu papa, makin mengemuka. Tetapi, sudah kuyakini, impian tersebut sulit terlaksana.

Sama seperti tahun-tahun lalu, masih doa yang dapat kulakukan. Dan kuyakin, satu saat nanti, aku kembali dipeluk dan digendong mama... juga papa. (h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru