Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026

Arjuna Manurung Inspirasi Lingkungan dari Flora untuk MemuliakanNya

- Minggu, 21 Desember 2014 17:48 WIB
602 view
Arjuna Manurung Inspirasi Lingkungan dari Flora untuk MemuliakanNya
Medan (SIB)- Arjuna Ventri Manurung punya cara lain dalam memuliakanNya. Siswa SMA Methodist - 1 Medan itu menjadikan lingkungan, khususnya flora, sebagai medianya. Setelah merawat dan menyukai, bunga-bunga diabadikannya lewat hobi memotret. Diperlombakan dan keluar sebagai pemenang, seperti dalam lomba foto yang diadakan Universitas Negeri Medan tahun 2014. “Seisi alam ciptaanNya, termasuk manusia. PerintahNya kan harus saling menyayani dan mengasihi sesama ciptaanNya,” ujarnya didampingi kolumnis Drs Naurat Silalahi di jeda Perayaan Natal Kantor Gereja Methodist Indonsia Wil I Medan, Kamis, (18/12) dengan ketua panitia Pdt Binran Sipayung.

Selain melalui bidikannya, Arjuna memuliakanNya pun dengan bergabung dalam band altar sebagai penabuh drum. Melalui dua media itu pria penyuka Bruno Mars dan Darwis Triyadi tersebut memuliakanNya. “Aku bersuka dengan sorak-sorai caraku sendiri,” tandasnya sambil mengutip Mazmur 126:2 ... mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: Tuhan telah melakukan perkara besar...
Meski paham dan memedomi nats Injil dalam kehidupannya, Arjuna tidak ingin menjadi seperti pencapaian yang diukir orangtunya, Bishop Gereja Methodist Indonesia. Alasannya, seperti yang diamati dalam perjalanan pengabdian orangtuanya, terlalu berat menjadi pengembala dengan jemaat yang relatif kritis sebab kehidupan semakin maju.

Arjuna yakin atas pilihannya karena orangtuanya pun tak memaksakannya untuk menjadi apa. “Orangtua hanya menekankan aku harus jalan lurus sesuai keinginanku!”
***
Arjuna terlahir dari pasangan Pdt Darwis Manurung STh MPsi - Esther Wong di Parlabian, Kotapinang, 15 Desember 1997. Sebagai anak gembala, bersama kakak-kakaknya —Citra Ekaris Manurung dan Nikita Grace Manurung — Arjuna menetap berpindah sesuai daerah pengembalaan orangtuanya. Hidup di banyak tempat seperti Kisaran, Pekanbaru dan Medan serta daerah kelahirannya justru menjadikan hidupnya berwarna.

 â€œTiap daerah memiliki kearifan lokal. Semua dirangkum dan dijalani untuk perjalanan kehidupan ke depan,” ujarnya sambil mengatakan dari kearifan lokal itulah pribadinya memiliki jati diri. “Aku ngeri menyeksamai kehidupan remaja sekarang... terlalu bebas!”

Otokritik yang disampaikan Arjuna tak menjadikannya steril dalam pergaulan dengan lingkungan. Ragam kalangan diakrabinya.

“Jika diminta memilih, aku lebih suka orang-orang tidak tahu bahwa aku ini anak seorang pengembala.

Bebannya berat. Bergaul bebas sedikit, langsung jadi sorotan!”

Dengan ragam pertimbangan itulah membuat Arjuna memilih mengisi waktu dengan hal-hal positif dan berteman dengan komunitas luar.

“Kuncinya, jangan pernah berbuat atau berpikir macam-macam di luar apa yang diajarkan di gereja dan sekolah!” tegasnya. (r9/c)

Arjuna Ventri Manurung
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru