Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat Santa Kristiani Simatupang, SMAN 2 Rantau Selatan

Catatan di Bulan Dua Belas yang Lalu

- Minggu, 28 Desember 2014 16:14 WIB
269 view
Aku-  tinggal di Tarutung, Tapanuli Utara. Ritual yang tak boleh terlewatkan bila Tahun Baru adalah berkumpul. Seluruh anak-anak oppung dari ragam penjuru, harus datang. Apapun alasannya, apapun kondisinya, tak boleh tidak hadir.

Bagiku, satu kebahagiaan tersendiri bertemu dengan kerabat secara turun-temurun. Kadang, pertemuan Tahun Baru tak sekadar sharing dan berdoa bersama tapi kujadikan menambah pengalaman. Soalnya, ada sepupu-sepupu yang datang dari Jakarta, kota yang serba glamour. Ada juga yang datang dari Bandung. Bahkan datang dari Surabaya yang di ujung Jawa.

Memang, kehidupan di ibu kota menjanjikan kenikmatan. Khususnya untuk ukuran aku yang tinggal jauh dari keramaian, jauh dari ibu kota. Sama seperti libur Natal dan Tahun Baru, begitu dapat rapor, langsung berkemas ke Sidikalang, tempat tinggal oppung.

Kalau dipikir, jauh benar perjalanan darat dari tempat kos ke kampung oppung. Belum lagi harus pula menuju ke kota kelahiranku karena ada agenda bertemu dengan oppung dari pihak ibu.

Beda dengan sepupu yang begitu menikmati suasana di tempat tinggal oppungku. Mereka mengaku betah dan senang dengan alam yang sejuk. Udara yang anomali, kadang panas menyengat dan tiba-tiba berganti dingin menusuk, jadi satu tantangan bagi mereka.

Bila bertemu dengan oppung, kami para cucu berlomba merapat. Rata-rata ingin dapat perhatian yang lebih. Masing-masing memberikan hadiah Natal. Mulai coklat lezat sampai baju indah. Aku? Mungkin oppung paham dengan kondisiku.

Aku anak rantau. Hidup pas-pasan. Jangankan punya uang lebih, uang jajan saja sulit. Dari kampung, dikirim uang, utuh untuk biaya sekolah mulai dari uang sekolah hingga uang kos. Jika ingin yang lain, cari sendiri.

Posisi itu selalu membuatkan terjepit. Ingin juga rasanya membelikan oppung coklat tapi ya itu tadi... Sejak sebulan lalu, kupikir hadiah apa yang hendak kuberi tapi karena keterbatasan, semua cuma impian. Menutupi kekurangan itu, aku memang lebih dulu datang ke rumah oppung.

Karenanya aku lebih leluasa membantu oppung. Misalnya, menyediakan air untuk mandinya. Kadang aku memanaskan dan menyediakan untuknya. Cara itu membuatkan semakin dekat dengan oppung. Satu yang paling menyenangkannya, aku diajarinya memasak naniura. Bahkan, menurut oppung, naniura masakanku jauh lebih enak ketimbang yang dilakukannya.

Bagiku sih biasa saja, tapi oppung bilang enak. Saking gemarnya, oppung memuji-mujiku di depan yang lain hingga sepupuku dari Jakarta ingin membuat hal serupa. Menurut mereka, naniura itu shasimi yakni makanan yang tidak dimasak tapi matang dan sehat untuk disantap.

Terserah sajalah. Yang pasti resep oppung itu membuatku semakin dekat dengannya. Sama seperti kali ini, aku ingin menghidangkan makanan favorit oppung tersebut tapi ya itu tadi... aku tak punya uang membeli ikan mas istimewa. Sudah kucari tapi tidak ketemu juga.

Bahkan sampai perayaan Tahun Baru usai, anganku tak juga kesampaian. Justru oppung kini sakit. Serius. Saking seriusnya, anak-anak oppung tak jadi pulang.
Sembilan Januari 2014, oppung menghadapNya. Sebelum dimakamkan pada 13 Januari, prosesi dilakukan menuju Gereja GKPI Sigambal. Tujuh belas Januari adikku berulang tahun. Duka masih menggantung di hatiku saat perayaannya. Aku masih ingat oppung dan membuatkan makan khas dari resep oppung, naniura.

Untuk memasaknya, aku diberi uang oleh mamak. Aku teringat pada oppung. Jika keinginanku menghidangkan makanan kesukaan oppung, pastilah aku diberi uang untuk membeli ikan.

Aku hanya dapat berdoa, dialamNya oppung tetap menyukaiku dengan keterbatasanku. (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru