Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026

Nikita Manurung, Unggul di Sekuler dan Jaya di Religius

- Minggu, 11 Januari 2015 17:34 WIB
402 view
Medan (SIB)- Nikita Grace Manurung punya perjalanan panjang berbaur dengan komunitas lintasetnis. Dari pergaulan tersebut, cewek kelahiran Kuala, Langkat 18 Juni 1992 tersebut merasa kaya sebab ragam kearifan lokal dari tiap puak budaya tersebut terakumulatif dalam pribadinya. “Dulunya sih merasa biasa-biasa saja, tapi setelah remaja dan bergaul dengan kawan-kawan dari ragam suku di Indonesia, baru terasa bahwa pengalaman batin yang kaya tersebut memberi manfaat,” ujar putri pasangan Bishop Darwis Manurung STh MPsi - Esther Wong di jeda Syukuran Tahun Baru Gereja Methodist Indonesia (GMI) Wil I, Jumat, (8/1).

Nikita hadir di antara tetamu dari ragam etnis. Perempuan yang menyelesaikan pendidikan SD Pekanbaru, SMP dan SMA Methodist Medan itu datang dari Bandung, Jawa Barat dalam rangka liburan Natal dan Tahun Baru bersama keluarganya.

Kesempatan itu pula dijadikan Nikita sebagai melepas rindu dengan rekan-rekan lama yang sudah tidak bertatap sua. Meski sebagai putri pimpinan tertinggi pimpinan jemaat GMI di wilayah ini, Nikita merasa posisi tersebut sebagai satu derajat yang lebih ketimbang yang lain. Alasannya, yang membedakan posisi terhormat individu yang satu dengan pribadi yang lain adalah kekayaan moral agama dan keistimewaan pengalaman yang dapat menginspirasi.

Menurutnya, era muda adalah saatnya menempa kualitas. Apa yang diperoleh saat anak-anak tersebut menjadi pijakan dalam menempa masa depan. “Tetapi, saat masih remaja, harus semakin diasah,” ujar Nikita didampingi cendikiawan Methodist Drs Naurat Silalahi, Ir Patar Manurung MSc dari Grand Antares Internasional Hotel Medan.

Pengalaman saat masih kecil adalah ketika Nikita harus berjuang dan mempertahankan prestasinya. Pernah menjadi terbaik, tapi apa yang diperolehnya harus didadar lagi. Persoalannya karena harus berpindah-pindah sekolah serta harus menyesuaikan dengan lingkungan. Berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain — seperti dari Kuala di Langkat, ke Pekanbaru, melintasi ke perbatasan Sumatera Utara yakni di Aek Nabara dan Perlabian — butuh waktu penyesuaian diri. “Tetapi itu, seperti yang tadi kubilang. Dulu, rasanya susah untuk pindah-pindah tapi sekarang baru terasa manfaatnya. Sebab pengalaman hidup dengan ragam latar budaya, tinggal di perantauan, pribadi seseorang jadi lentur,” cerita Nikita yang tinggal sendirian di Bandung.

Sebagai mahasiswi yang hidup di rantau membuat Nikita semakin dewasa sebab harus menyediakan sendiri keperluan, baik untuk urusan kampus maupun keseharian. Belum lagi urusan menempa jadi diri. Menurutnya, apa yang ditanamkan orangtuanya berasa bermanfaat besar. “Dulu, kalau ditinggal mama papa, marah. Rasanya mau berontak. Sekarang, baru terasa bahwa apa yang diberikan pada kami waktu masih anak-anak, berguna sekarang,” kenang Nikita yang tidak diarahkan orangtuanya untuk mengabdi menjadi pengembala. (r9/h)







SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru