Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026

Kreasi Cicin Hutabarat Melewati Karya Remaja

- Minggu, 18 Januari 2015 14:46 WIB
423 view
Kreasi Cicin Hutabarat Melewati Karya Remaja
Medan (SIB)- Selama bulan Natal 2014, Cicin Hutabarat memiliki kesibukan alang-kepalang ribet. Semuanya berhubungan dengan persiapan manggung dan urusan aksesoris seperti busana dan riasannya. Selama Desember, ada sejumlah kegiatan penting baginya, mulai dari menjadi peserta Festival Paduan Suara sekaitan Natal Oikumene Umat Kristiani Sumut hingga tampil di depan publik mancanegara yang dipusatkan di Kampus Sekolah Tinggi Theologi (STT) Paul, Simalingkar Medan. “Karena sifatnya sambung-menyambung, semua tinggal pemantapan. Yang perlu persiapan adalah kostum dan aksesoris,” jelasnya saat mengisi di perayaan Natal dan Tahun Baru 2015 di Alpha - Omega, Medan untuk kalangan Orthodox.

Sebagai konduktor Saint Paul Choir, Cicin punya tanggung jawab besar menyinkronkan personelnya. Pada festival yang diikuti paduan suara profesional, Saint Paul Choir beroleh tempat terhormat. Meski demikian, Cicin merasa tak puas dengan hasilnya walau kreasinya — sesuai penilaian sejumlah pihak — melebihi kreasi remaja seusianya. “Kekurangan yang didapat dalam festival, di sini dibenahi hingga lebih baik,” ujarnya.

Yang menohok darinya, semua diperolehnya secara otodidak. Mulai dari pemandu koor hingga menguasai alat musik. “Saya ini anak kampung. Gak kenal les atau apalah sejenisnya. Kalau mau, belajar sendirilah,” ujarnya pelan, seperti bergumanan dengan dirinya sendiri.

Meski demikian, hasilnya maksimal. Ada sejumlah penghargaan yang diraihnya, baik sebagai pimpinan kelompok maupun sebagai pribadi. “Pokoknya, di mana ada kemauan, di situ ada jalan!”

Terlahir dari pasangan Nicodemus Hutabarat - Ny Rosmery Siregar di Parsanggrahan pada 23 Mei 1993. Menimba ilmu di SDN Hutapadang, Pahae Jahe dan melanjut ke SMPN 1 Simangumban dan SMAN Simangumban. Meski dalam posisi pas-pasan, semua dilalui sesuai dengan agenda. Kemudian melanjut ke STT Paul Medan.

Hidup di rantau, membuat Cicin makin mandiri karena sudah terbiasa mengurusi diri sendiri sejak masa kanak dan remaja. Meski mendulang ragam penghargaan, hidupnya tak muluk. “Aku cuma ingin melayaniNya,” tutup Cicin. (r9/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru