Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat Conny Octaviani Sitompul, SMA Van Duynhoven, Saribudolok

Aku Bisa Tanpamu

- Minggu, 18 Januari 2015 14:47 WIB
320 view
Pahitnyalah hidupku. Saking pahitnya, aku tidak tahu lagi apa rasa anggur. Bahkan, bagiku rasa gula murni pun sudah jauuuh dari manis. Rasa cabai yang pedas, masih belum menutupi kekecewaan yang diberikannya. Bagiku, lebih baik mengunyah dan menelan andaliman ketimbang menanggung rasa sakit seperti apa yang ada di hatiku saat ini.

Meski demikian, aku mencoba bertahan. Tegar. Pada semua orang aku coba senyum. Seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan pada ibu, aku tetap berbohong. Soalnya aku mengaku cuma sakit perut. Mungkin karena tamu bulanan hendak datang.

Ibuku sepertinya memahami alasanku dimaksud. Soalnya, ibu selalu bertanya kenapa wajahku muram, kenapa senyumku tak seindah biasanya. Kenapa aku lebih suka mengurung diri di kamar. Padahal, sebelumnya, akulah — mungkin — perempuan yang tak betah di rumah. Apalagi harus membenamkan wajah di kasur sambil pura-pura tidur.

Biasanya, sepulang sekolah, langsung mengerjakan tugas. Seusai itu buru-buru membantu ibu mencuci piring kotor sisa makan siang. Bahkan mencoba pura-pura lupa menyapu halaman karena mengaku sudah letih mengepel rumah.

Sekarang, semuanya kukerjakan sendiri. Entah apa penilaian ibu tentang kerajinanku saat ini. Tetapi, setelah kukatakan perutku sakit melilit, perempuan yang melahirkanku itu sepertinya mahfum. Hanya saja, ibu menyimpan curiga.

Ngaku sakit perut tapi kok makin rajin kerja. Sudah begitu, tidak ingat ke luar rumah. Alasanku, cuma satu, takut tiba-tiba datang tamu bulanan. Ibu pun menimpali agar aku periksa ke dokter.

Usul itu kutolak mentah-mentah. Bisa jadi ketahuanlah sebenarnya aku ini sakit apa. Aku lagi sakit hati. Sakitnya tuh di sini... tak ada obatnya. Meskipun aku goyang Dumang, toh tak akan mampu merontokkan kegeramanku.

Bayangin aja, tega-teganya Rey mengkhianatiku. Sudah begitu, masih berbohong lagi.

Semula katanya cuma ngantar perempuan itu karena sudah tak ada lagi angkot. Setelah kubeberkan bahwa Rey tidak langsung ngantar tapi mampir ke supermarket, masih juga berkelit.  Terus, kenapa harus makan minum  ice cream, barulah ngaku. Alasannya, hanya menghargai karena perempuan itu ulang tahun.

Duhai, berdua merayakan ulang tahun perempuan lain, apa namanya? Perempuan itu tak lain sahabatku. Jadi apa  maunya sih.... Jika memang sudah tak suka denganku, ya bilanglah. Aku juga tak apa-apa pisah darinya. Tetapi, ngomong... beo saja mau berterus terang. Masakan pria setampan Rey cuma pandai bohong.
Sudah begitu, kejadian bukan sekali. Yang dilihat kawanku saja dua kali. Belum lagi disaksikan SPG genit yang ternyata pun naksir sama Rey. Sudahlah...putus.
Meski aku yang memutuskan tapi tetap saja aku yang sakit. Soalnya, aku yang dikhianati. Dalam proses itu, aku coba menetralisir dengan introspeksi. Caranya dengan menarik jarak, tapi ada info, Rey pun mengulanginya lagi.

Hhh dasar pecundang. Lebih bagus aku undur diri. Biarlah aku seperti kalah perang. Yang   penting, aku tak menghunus pedang.

Dalam pada kesakitan itu, tiba-tiba Rey nelepon. Kurang ajarnya, tidak memakai nomor biasa tapi telepon mamanya. Yeah... karena orangtua, kuangkat panggilan tersebut.

Rupanya Rey ada di samping mamanya. Mamanya yang membujukku untuk datang ke rumahnya. Aku berkelit, tak  mungkin datang karena fokus belajar. Mamanya berkenan menjemputku. Hadooo, kayak mau martumpol aja pun. Tidak.

Karena didesak, aku berterus terang bahwa aku tersakiti karena sifat Rey. Mamanya menetralisir dan minta maaf atas sikap putra kesayangannya.

Mamanya menelepon. Terus menelepon lagi. Sebagai manusia, aku harus menerima permintaan maaf orang lain. Tuhan yang punya bumi dan isinya saja, berkenan memaafkan. Apalagi aku cuma perempuan lemah yang tersakiti. Aku bersedia berteman dengan Rey tapi cuma berteman saja! Titik. (i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru