Namanya Angin. Dan mungkin memang, dia bagiku seperti angin. Datang tanpa diketahui, pergi tanpa memberitahu. Mungkin dia tidak tampak bagi sebagian orang. Tapi bagiku dia adalah pria yang menawan. Aku menyimpan hal itu dalam lipatan hatiku yang terdalam. Rasanya aku belum pantas memikirkan hal itu selain sekolahku.
Hari ini, Tuhan benar-benar membuatku takjub. Awal di mana aku pertama kali bertemu pria itu, yang sangat menarik, sekaligus dia juga mencuri perhatianku.
Hufff..!!! rasanya gimana gitu. Campur-campur dechh pokoknya. Tempat aku dan dia pertama kali bertemu yaitu di sebuah Hotel Berbintang. Saat itu, aku tengah duduk sendirian, dengan di tangan kananku memegangi, segelas minuman!!!...
Aku merasa bosan dan jenuh, menurutku tidak ada yang menarik di tempat ini. Dina dan Tania ninggalin aku sendiri di sini, mereka asik mengobrol dengan teman mereka yang lainnya, sementara aku, satupun tidak ada yang kukenal di tempat ini, selain Dina dan Tania.
“Tega amat sich mereka,†pikirkan. Dina dan Tania adalah sahabatku. Sejak SMP kami sudah bersama, papa dan mamaku juga mendukung persahabatan kami. Dalam hal apapun kami lakukan selalu bersama, saling membantu, saling berbagi, baik sedihnya maupun bahagianya.
Satu jam telah berlalu. Sesuatu aneh telah terjadi pada diriku seorang, aku merasa canggung dan itu membuatku merasa tidak nyaman. Dan aku mulai mencari sesuatu yang aneh itu. Kulihat ke samping kiri dan kananku, terakhirnya ke depan dan ke belakang. Nah mataku berhenti tepatnya ke arah depanku, menyorot seseorang yang berada di atas panggung memainkan sebuah alat musik yaitu piano. Yaa, seseorang itu adalah seorang pria, pria yang berpakaian rapi, pakai kemeja lengan panjang warna biru langit, pakai celana jins, sepatunya yang hitam kilat mengkinclonk. Mataku tidak sengaja berpapasan dengan matanya, satu menit saja. Awalnya aku merasa biasa dengan tatapannya, tapi setelah kupikir-pikir cara tatapan dia aneh gitu, membuat aku takut dan merasa tidak nyaman, nih orang pasti ada maksud tersembunyi. Kualihkan pandanganku, tapi tidak bisa. Karena rasa ingin tahuku ini, apa maksudnya. Akhirnya kami tatap-tatapan sekian menit. Seketika aku tersentak dibuatnya karena dia berbicara sesuatu di atas panggung.
“Malam semua. Malam ini saya akan membawa sebuah lagu, dan lagu ini saya persembahkan buat seorang wanita, semoga anda semua menikmati.. Terimakasih!! terus dia sempatin lihat ke arahku.
Oooh dia nyanyi... ya ya ya, tentunya orang-orang akan bertepuk tangan, prokk prokk!!.
“Wukhhh†Aku menyorakinya dan sebagian orang berpihak kepadaku, dan aku melihat senyum di bibirnya, ‘mungkin karena aku menyorakinya’ batinku.
“Woh†buat suaranya, pikirku... Saat dia bernyanyi kupandangi wajahnya.... eehhh aku kepergok olehnya, langsung kualihkan pandanganku ke arah lain pura-pura tidak melihat. “Bego-bego, kenapa sih aku mungkinkah aku jatuh cinta padanya, hahahaha, dalam hati bicara.
Yakh akhirnya dia selesai bernyanyi, pria itu turun dari atas panggung, dia menuju kearahku, “mungkin dia mau menghampiriku, dan mungkin juga mau ngajak aku kenalan, atau mungkin juga ngajak pacaran juga tidak apa-apa, kapan lagi coba, masa cowok keren dan setajir ini dilewatkan... mumpung aku lagi jomblo nih,†batinku... Sampai-sampai aku jadi salah tingkah, Tas, tas yah ini tas nya, sisirnya mana? Ini lagi kacanya ada di mana... di sini rupanya. Pas aku lagi sisiran, dia sudah sampai didepanku, teruss kaca aku terjatuh, diambilkan pria itu ‘hati-hati Nona’ katanya sambil tersenyum, aku hanya terpelongo... Tapi pria itu jalan teruss, tak seperti yang aku harapkan..
Ternyata dia sudah punya pacar, pacarnya dari tadi duduk di belakangku, dia peluk tuh cewek, pegangan tangan lagi... Aku merasa sedih, kesal dan malu. Percaya diri banget kalau aku diliatin tuh cowok, ternyata tidak. Dari tadi yang dilihati dan diperhatikannya, cewek yang duduk di belakang aku ternyata....
Sesaat kemudian Dina dan Tania menghampiriku, “kamu kenapa?†marah ya sama kita berdua’?? tanya Tania. “Iyaa jangan marah donk... soalnya yang kita bicara’in sama teman-teman yang lain itu penting banget, suer!!!†sambung Dina. “Hmmm aku marah,,, kenapa kalian tega ninggalin aku???. “Sorry ya. Kita lupa!!!,,, Tapi aku dan Dina janji, gak ninggalin sendiri kamu lagi, dan kita juga janji tidak akan mengulanginya lagi,†kata Tania “Yang benar??†tanyaku. “Iyaaa!!! Tania dan Dina mengulanginya. “Iya iya aku sudah maafin kalian kok, sebelum minta maaf juga sudah dimaafin, kita kan sahabat tidak seharusnya saling bermusuhan. Tuhan saja maha pemaaf kenapa aku tidak, benar- tidak teman-teman?â€.
“Kamu benar†Tania dan Dina bersamaan. “Kok kamu kayaknya masih sedih??â€. Dina bertanya. “Eeh tidak kok, nih gue senyum. Ya udah kita pulang yuk!!!â€. “Baiklah†jawab Tania. “Maafin aku yah teman-teman, aku terpaksa bohong pada kalian bahwa aku sedih bukan karena kalian, hanya saja aku merasa kecewa pada diriku, aku merasa dicintai seseorang, padahal pria itu baru saja kukenal, dan apa yang kuharapkan tak seperti yang kunginkan.
Dan aku menoleh ke belakang untuk melihat pria itu untuk terakhir kalinya,,, Selamat Tinggal†dalam hati berbicara.
Karya: Meta Evanali Hutabarat
SMA N 2 Rantau Selatan