Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026

32 Remaja Berprestasi Luar Biasa Se-Indonesia Dibimbing Jangan Nyontek

- Minggu, 29 Maret 2015 21:33 WIB
772 view
32 Remaja Berprestasi Luar Biasa Se-Indonesia Dibimbing Jangan Nyontek
Purworejo (SIB)- Tiga puluh dua remaja berprestasi luar biasa dari 9 Keuskupan Agung yang ada di Indonesia dimondokkan di Asrama Stella Divina, Bayan, Purworejo, Jawa Tengah. Asrama didirikan untuk membimbing anak-anak menjadi pribadi yang tidak hanya unggul dalam bidang intelektual, tetapi juga matang dalam iman dan peduli terhadap sesama sebagai realisasi dari semboyan Clear, Clever and Care.

Ketua Yayasan Seraphine Bakti Utama — yang menaungi Asrama Putri Stella Divina — Sr Elisabeth ADM mengatakan, di banyak tempat, mereka yang jawara masih ada yang sumbernya tidak dari kualitas sendiri tapi remaja di asrama dibimbing untuk tidak menyontek. “Saya tidak akan ikut-ikutan. Di asrama saya diajar untuk jujur dan percaya diri,” ujarnya seperti disiarkan HidupKatolik.Com, Jumat, (27/3)

Pada 2010 Stella Divina mulai menerima sembilan orang penghuni pertama dan menempati empat unit ruang kelas SMA Pius Bhakti Utama yang tidak terpakai. Dua ruang dipakai untuk kamar tidur, satu ruang untuk belajar dan makan. Untuk memulai aktivitas pagi hari, anak-anak asrama biasa diajak olahraga.

Selanjutnya, mengikuti misa harian yang dipersembahkan oleh paroki St Yohanes Rasul Kutoarjo, Keuskupan Purwokerto. Usai misa, mereka berangkat ke sekolah ke SMA Pius Bhakti Utama.

Saat ini dihuni 32 anak berprestasi. Untuk dapat masuk ke asrama ini harus lulus kriteria, salah satunya nilai rata-rata raport minimal delapan. Lulusan 2013, Veronika Rosa Silalahi, tercatat meraih nilai tertinggi untuk Jurusan Bahasa Se-Jawa Tengah, dengan nilai rata-rata 9,38.

Di asrama, pendamping serius membimbing para remaja penghuni asrama untuk belajar teratur mulai membiasakan diri melakukan hal-hal sederhana, seperti menyapu, mencuci, dan menyeterika.

Untuk meningkatkan mutu hidup rohani, setiap malam sebelum tidur, harus menulis refleksi pengalaman harian. Di akhir bulan, refleksi dikumpulkan dan dikoreksi Sr Evarista. Diberi bimbingan rekoleksi yang diadakan setiap dua bulan sekali. Sedangkan untuk memupuk keterlibatan di gereja, mereka dilibatkan dalam kegiatan kor, misdinar, lektris dan pendampingan anak-anak Sekolah Minggu.

Tiga bulan pertama, anak-anak biasanya sulit beradaptasi di asrama. Seorang anak asal Sumba, Nusa Tenggara Timur, Rosvi mengungkapkan bahwa seminggu pertama di asrama sering menangis. Ia sedih karena hanya dia sendiri yang berasal dari Sumba, sementara teman- temannya berasal dari Jawa yang memiliki kebiasaan berbeda. Tapi dalam dua bulan, akhirnya dapat menyesuaikan diri. (t/r9/c)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru