Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat

Keringat Untuk Nafas Papa

* Oleh Ain Aydira - Rantauprapat
- Minggu, 05 April 2015 15:57 WIB
584 view
 Keringat Untuk Nafas Papa
Kata banyak orang, tak punya orangtua adalah suatu kesedihan. Tetapi, tidak demikian denganku. Meski selalu didera rasa rindu yang tak tertahan tapi ketiadaan ibu justru dapat membangkitkan semangat untuk berbuat yang terbaik bagi ayah.

Sudah segede ini, tak pernah sekalipun tahu bagaimana bentuk rupa raut wajah perempuan yang melahahirkanku. Kata ayah sih ibu menghadapNya ketika melahirkanku. Ada kok nisannya yang bila rindu dapat diziarahi. Kadang aku cuma menyesali, zaman sudah secanggih ini tapi kok tidak ada secuil pun dokumentasi tentang ibu.

Namun semua itu belakangan tak jadi soal. Justru andai tahu wajah ibu aku bisa jadi terus mencari dan melamunkan. Lebih baik berdoa, kiranya ibuku tenang di alamNya. Amin.

Sama seperti doaku. Sepanjang nafasku memohon padaNya agar Sang Maha Kuasa mengangkat penyakit ayahku. Aku tak tahu persis virus apa yang menggerogoti tubuh pria yang jadi pahlawanku. Yang pasti, ayahku selalu batuk-batuk.

Kata dokter, ayahku mengidap TB. Penyakit yang menyerang paru itu konon tak dapat disembuhkan tapi bisa ditekan. Ih, vonisnya kok sekejam itu.

Doaku yang lain, ayah serta abang kakakku dan aku diberikan kemudahan usaha dan rizki. Sama seperti saat ini. Meski ayah sudah berobat menggunakan BPJS tapi penyakitnya belum sembuh total.  Ha ha ha, sudah dibilang dokter tak dapat sembuh, aku kok berharap pulih seratus persen.

Sambil melamunkan impian, aku pun harus berusaha. Ayah perlu suplemen, butuh obat paten. Karena keperluan itu, aku harus putar otak. Bagaimana caranya mendapatkan uang untuk ikut membeli vitamin tambahan. Mengonsumsi asupan berkualitas sama dengan memperpajang nafas ayah. 

Karena keinginan itu, kini aku tiap hari pergi ke sekolah lebih cepat dan pulang lebih lama. Ayah selalu bertanya, tapi alasanku tetap  bilang karena sudah dekat ujian jadi harus punya waktu ekstra. Padahal, sesungguhnya aku kerja.

Tiap hari memulung. Pagi-pagi berangkat dari rumah tapi langsung kerja. Baju seragam kumasukkan ke ransel, kuganti dengan seragam kerja. Agar jangan terlihat orang lain, wajah dan kepalaku kusarungi. Kayak ninja itu lho.

Sama seperti ketika pulang sekolah. Terus terang, kalau berpapasan dengan kawan sekolah, aku rada malu. Tunduk dan cepat-sepat jalan. Padahal, mungkin mereka tidak menandaiku lagi yang hanya dapat dilihat dari sorot mata.

Pakai seragam ninja justru aku merasa makin seksi. Soalnya, kulit wajah dan sekujur tubuhku jadi terlindung dari sinar matahari dan debu. Cara alami tersebut justru tak mengeluarkan biaya seperti selama ini untuk beli lotion atau sun block.

Istimewanya, meski waktuku semakin banyak di luar rumah dan tetap mengerjakan pekerjaan rumah tangga, badanku menjadi lebih ringan. Mungkin makin sehat ya... karena aktivitasku seperti olahraga.

Vitamin dan suplemen khusus untuk penyakit TB, tak murah. Sekali beli, minimal Rp375 ribu. Tak gampang lho mendapatkan uang sebanyak itu. Soalnya, hasil memulung misalnya dari bekas botol minuman mineral, sekilo cupa Rp750. Kalau kertas Rp1.500 / kilo. Kalo dapat 100 kilo baru terkumpul Rp150.000.

Tetapi, beli vitamin dengan mencicil pun tak apa. Soalnya total Rp375 ribu itu untuk seminggu. Jadi, berapa pun dapat penghasilanku, langsung kubeli.

Justru aku jadi segan bila membeli ke apotek. Tiap hari, om penjual obat itu selalu menanyai rinci untuk siapa obat itu kubeli dan dari mana uangku. Kadang aku mau marah, kok kayaknya aku dicurigai gitu.

Tetapi aku jadi heran, kenapa uang yang sedikit untuk membeli selalu cukup. Lama kelamaan aku mengerti, si om yang punya apotek iba dan berbelas kasih padaku. Sekarang, selain mendoakan kedua orangtua dan keluargaku, aku pun wajib mendoakan om yang punya apotek. “Ya Allah ya Rob, murahkan rizki dan beri khidmat karuniaMu. Amin!”. (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru