Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026

Tuntun Anak-Remaja dengan Kearifan Lokal Buku Ende

- Minggu, 05 April 2015 16:38 WIB
1.189 view
Tuntun Anak-Remaja dengan Kearifan Lokal Buku Ende
SIB/Dok
Binahar Hutapea, konduktor yang berulang kali membawa paduan suara jawara dunia dan Suryadi Panjaitan, dokter spesialis yang jadi solois berdasar Buku Ende.
Medan (SIB)- Generasi muda, khususnya anak-anak dan remaja harus dituntun dengan kearifan lokal yang bersumber dari Buku Ende. Di seluruh dunia, hanya Buku Ende yang mengangkat budaya etnik bermuatan kearifan lokal untuk memuliakanNya yang diajarkan misionaris Barat (baca: IL Nommensen dari Jerman).

Demikian simpulan ucapan Binahar Hutapea dan Suryadi Panjaitan saat nonton bareng Svara Sacra Choir bertema The Story of Buku Ende dari Gedung Sabuga Bandung di kediaman St EW Lumbantobing di Jl Beringin III / 13 Medan. Kedua musisi yang berprofesi notaris di Sidikalang, Dairi dan dokter spesialis di Medan itu mengatakan, kearifan lokal Batak tak terbantahkan mampu mengantar anak-anak Bangso Batak ke jenjang terbaik nasional bahkan internasional. “Karena kearifan lokal tersebut dipadukan dengan moral agama, kekuatan tersebut makin sempurna!” tandas Binahar Hutape didampingi sejumlah nama populer di industri keatif Indonesia seperti Huger Saragih, Irwansyah Harahap, Director Art Svara Sacra Choir - The Story of Buku Ende Rithaony Hutajulu, Fredrick Edi Giri, Donald PL Tobng, Rediman Silalahi, Garda Sibuea, Ridha Sondang Hutajulu, Asiana Pakpahan, Gusti Koni Pakpahan, Elly T Silalahi dan Rolin Sihombing.

Suryadi Panjaitan dan Binahar Hutapea bilang, arus budaya global tak mungkin dibendung tapi dapat difilter. Dalam konteks seni, kearifan lokal dalam kesenian Batak dapat menjadi penyeimbang bahkan menuntun idealisme seperti uning-uningan yang harus tetap bertahan dan dipertahankan. “Dari masa ke masa, uning-uningan digunakan sebagai pedekate pada pujaan hati. Sekarang, bagaimana perkusi Batak jadi utuk memuliakanNya. Buku ende mengatur semua itu,” tandas mantan Ketua HUT Jubelium 90 Tahun SD St Yoseph Medan itu.

Dalam konteks agamis berketapatan dengan Paskah, keduanya menegaskan Buku Ende penting sebagai pedoman hidup khususnya bagi orang Batak, spesifik yang Kristen.

Edi Giri menegaskan, Buku Ende adalah buku nyanyian yang hidup, selaras dengan perkembangan zaman. “Dari sana pengikutnya tahu siapa Allah yang memberi keselamatan bagi manusia,” tandas pria berdarah Ambon yang dikenal sebagai jazzer handal dalam pertujukan internasional tersebut.

Dengan pemahaman tersebut, ujar Edi Giri, anak dan remaja dipersilakan akrab dengan lagu asing tapi paham dan memedomani ritme sesuai natsNya melalui benda dimaksud

Suryadi Panjaitan menambahkan, Buku Ende membuka tabir manusia itu sebenarnya siapa di mataNya. ”Buku Ende menggembalakan setiap orang yang menyanyikannya hingga menyegarkan jiwaku, jiwamu dan jiwa kita,” tandas pria yang mengaku menjadi menyatu denganNya setelah memedomani Buku Ende.

“Buku Ende disenangi Allah dan memberkati semua yang menyanyikannya!” (r9/qr)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru