Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026

Menakar Bumbu untuk Ayam dan Iga Panggang

- Minggu, 26 April 2015 22:57 WIB
665 view
Menakar Bumbu untuk Ayam dan Iga Panggang
Jakarta (SIB)- Rupa-rupa makanan panggang semakin menjamur dan tak pernah sepi pembeli. Ada ayam  bakar Solo, ayam bakar Lumajang, ayam Taliwang dan sebagainya. Kreativitas pun menyentuh pada makanan etnik seperti iga panggang Batak dan yang semakin terkenal panggang Karo. 

Dalam menjaga cita rasa, yang harus diperhatikan adalah kualitas bumbu yang dapat disesuaikan dengan selera.

Khusus untuk makanan yang diolah secara panggang, yang harus diperhatian adalah bumbu yang disesuaikan dengan berat ayamnya. Bumbu harus melumuri ayam dengan merata. Selain itu, harus pula diselaraskan dengan ukuran ayamnya. Jangan terlalu besar karena bumbu akan sulit meresap ke dalam daging. 

Untuk ayam bakar gunakan ayam dengan berat maksimal 300 gram atau cukup untuk 2 porsi. Dagingnya pun harus dimemarkan khusus di persendiannya supaya bumbu lebih meresap atau bisa juga ditusuk-tusuk dengan tusuk satai.

Ada bagusnya merendam ayam dengan bumbu atau diungkep. Untuk proses itu maksimal sejam supaya bumbu benar-benar meresap. Dalam memanggang, tulis Kompas.Com, harus diperhatikan tingkat panasnya. Jangan sekali-kali memanggang di atas api berkobar karena ayam akan menjadi hangus dan rasanya jadi pahit. 

Sama halnya untuk bahan daging lainnya seperti iga panggang B2. Koki spesial baberkiu Hendri Duin Sembiring memastikan lezat iga panggang bersumber dari pilihan daging dan ramuan serta bumbu-bumbu. Salah satu prioritas penyedapnya adalah memasukkan tanaman khas Batak andaliman. Buah pedas spesial tumbuhan yang hanya ada di Toba itu menentukan kenikmatan. “Sehat karena kandungan andaliman,” tandas pria yang mengibarkan bendera Rumah Makan Tesalonika yang berpusat di  Jalan Letjen Djamin Gintings - Simp Selayang Medan dan Lubukpakam, Deliserdang serta lima lokasi lainnya.

Menurutnya, semua iga panggang nikmat seperti iga sapi atau jenis hewan lain. Tetapi, sesuai menu spesial hasil kreativitas BPK Tesalonika, iga B2 panggang jadi favorit. Kuncinya, daging iga yang sehat dari hewan maksimal usia 6 bulan dan masih virgin. Belum pernah dikawinkan hingga iganya empuk untuk dikunyah. “Jika konsumsi ternak sembarang, alamat dagingnya kenyal dan mengurangi cita rasa serta tak lagi sehat!”

Mengolah iga panggang, Bahan-bahan secara umum: 16-20 tulang iga, garam, minyak, jahe yang dihaluskan. “Jahe merah lebih memberi rasa  hangat yang lengkap,” tambahnya sambil mengatakan bawang bombai yang dihaluskan, bawang putih yang dihaluskan, kecap asin encer. “Jangan campur dengan bahan makanan yang mengandung zat kimiawi karena tidak sedikit orang mencampurkan dengan tepung,” jelasnya sambil mengungkap adonan lain seperti minyak cabai dan — sesuai selera — campur nira.

Khusus untuk bumbu, yang bahasa kerennya saus, lebih baik diadon sendiri karena menjamin kesehatan dan steril dari  bahan kimiawi. Yakni gula, cuka hitam, tomat, kecap dan garam, lada hitam bubuk. “Meski sudah pasti lezat dengan cita rasa pedas, andaliman jangan dilupakan. Masing-masing rempah yang memberi rasa pedas tersebut, beda,” tambah suami dr Liona Ginting tersebut.

Cara Memasak. Buang kelebihan lemak pada tulang iga dan lumuri dengan garam. Tetapi, untuk hewan pilihan, lemak sudah tidak ada. Baurkan dengan minyak ke dalam wajan, lalu tumis jahe, bawang putih, dan bawang bombai hingga mengeluarkan harum. Masukkan tulang iga dan tumis selama 6 menit. Pindahkan ke atas piring dan diadon dengan bahan, rendam selama 10 menit.

Campurkan semua bahan ke dalam wajan dan didihkan perlahan. Masak dengan api kecil selama 2-3 menit lagi, lalu tambahkan tulang iga serta kuah rendamannya. Semua bahan dipanggang hingga matang. Olesi secara teratur dengan kuah dan minyaknya yang ada di loyang. Tulang iga akan menjadi kecokelatan dan bumbunya meresap ke dalam daging. Sajikan panas atau dingin.

Resep turun-temurun yang harus dipanuti, ujarnya orangtua dari pelajar SMA St Thomas Odri Prince Agustinus Duin Sembiring itu, saat memanggang, jangan sekali-kali memaksakan kematangan di atas pembakaran. “Memanggangnya harus dengan arang manggrove. Bela dengan bahan bakar lain, diyakini mengurangi kelezatan bahkan aromanya beda!” (t/r9)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru