Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026
Curhat

Pecah Sudah

* Riani Sartika Lumbanraja, Pematangsiantar
- Minggu, 07 Juni 2015 18:24 WIB
405 view
Pecah Sudah
Kata orang, aku dan Togu itu berjodoh! Soalnya, selain ada kemiripan wajah kami berdua juga selalu kontak batin. Misalnya, saat jam makan. Meski perut sudah lapar tapi tetap saja malas menyuapkan nasi ke mulut.

Di sana pun begitu. Masih mengulur waktu untuk mengisi kampung tengah. Alhasil, nasi yang sudah dibawa dari rumah, tak tersentuh hingga pulang sekolah. Bertemu di satu titik, sama-sama membuka bontotan, lalu dimakan. Selalu saja kejadian serupa terulang. Suer lho, gak janjian lebih dulu.

Aku dan Togu sudah lama jadian. Saking lamanya, tidak tahu persis kapan dimulai. Yang pasti, sejak SMP sudah kenal, berteman dan bermitra terus sampai sekarang.

Aku tidak dapat menjawab kapan getar-getar hati yang pernah tumbuh itu menyatu dan bersemi. Saking buta dengan waktu, tak ada penanda kebersamaan hati kami di jejaring sosial. Padahal kami sama-sama menggunakan Facebook, Twitter dan WA.

Justru mitra di lini massa yang selalu kepo dengan olok-oloknya. Soalnya, jika aku bicara mellow di Facebook, Togu melakukan hal hampir mirip di Twitter. Seolah janjian, tapi sebenarnya — suer... — tidak! Semua mengalir begitu saja.

Memang, jika suatu saat bertemu, kami membahas apa saja. Kontemplasi bahasan itulah yang dituangkan di dunia maya. Tetapi, belakangan, sudah jarang demikian.

Folowers pada heran. Aku lebih penasaran lain. Kenapa sekarang berbeda. Aku selalu menulisisi hati hasil pertemuan dengan Togu yang semalam, tapi dia menulis entah apa-apa. Kadang seperti orang sakaw.

Itu membuatku curiga. Kecurigaanku benar karena diam-diam kubuka akun pribadinya. Di ruang khususnya Togu menulis kata mesra pada pihak lain. Itu kudapat setelah aku mendapat nomor paswordnya.

Sedihnya, Togu tak pernah mengaku. Meski sudah langsung tunjuk hidung siapa nama perempuan yang kerap digodanya, dia tetap bungkam. Untuk terus terang karena aku membuka akun pribadinya, aku takut Togu marah dan menghukumku.

Meski sudah kuimbau, kumohon dan kuutarakan segamblangnya, Togu tetap bergeming. Kusimpulkan, dia sudah menomorsatukan perempuan lain. aku pun undur diri.

Dalam kebisuanku kulewati detik-detik pahit yang terus menghujam hatiku. Aku tejebak dalam ruang kebingungan, antara mempertahankan Togu atau mencari yang lain. Ada sih pria lain yang menggoda bahkan terus terang ingin mengisi hatiku tapi aku tak dapat membukakannya. Mungkin karena kuncinya ada pada Togu dan disimpan rapat eksklusif ya.

Hari-hariku nyaris seperti mati. Apalagi setiap membaca pesan-pesan mesranya pada perempuan lain, duniaku seperti berhenti. Kiamat buatku.

Rumitnya, aku berkesimpulan mencintainya bukanlah sebuah kesalahan dan mencintainya bukanlah satu keniscayaan kepalsuan.

Aku hanya berdoa, kiranya Togu kembali ke janji-janji yang pernah kami patri bersama.
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru