Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026

Kuasai 5 Bahasa Dunia, 2 Pelajar Batak Peroleh Penghargaan di Qatar

- Minggu, 26 Juli 2015 20:30 WIB
743 view
Kuasai 5 Bahasa Dunia, 2 Pelajar Batak Peroleh Penghargaan di Qatar
SIB/Dok
Daniel France Hasidungan Hasibuan dan Anggia Pande Zethania Hasibuan bersama orangtuanya.
Doha (SIB)- Dua pelajar berdarah Batak memperoleh penghargaan dari sekolah internasional Prancis di Doha, Qatar. Abang beradik — Daniel France Hasidungan Hasibuan dan Anggia Pande Zethania Hasibuan — tersebut menimba ilmu di sekolah Lycee Bonaparte yang siswanya berasal dari ragam penjuru dunia. “Di sekolah kami tidak ada pemeringkatan untuk posisi terbaik, misalnya. Sistem itu bukan memotivasi apalagi mendidik tapi membuat mental down.

Misalnya mereka yang berada di posisi juru kunci, kan dipermalukan. Yang ada adalah pengelompokan. Misalnya untuk kelompok terbaik dapat raport dengan bubuhan congrat’s,” ujar Daniel saat menghadiri ibadah syukur Pesta Emas, 50 Tahun Pernikahan Drs Ruman Sinaga - St Alimah Br Damanik di JW Marriot Hotel Medan, Sabtu, (25/7).

Dalam kelompok congrat’s tersebutlah Daniel berada. Secara pribadi, Daniel tahu keunggulan pribadinya yakni dalam pelajaran Kimia. Bukan hanya menghafal rumus-rumus tapi telah melakukan uji coba dalam laboratorium. Untuk humaniora, Daniel memfavoritkan pelajaran Sejarah Eropa. “Maafkan saya. Saya boleh dikatakan buta dengan sejarah Indonesia tapi semaksimalnya ingin mendalaminya,” ujar remaja yang juga musisi yang menguasai piano modern tersebut.

Prestasi yang sama pun diperoleh sang adik, Anggia. Semua mata pelajaran unggulan di sekolah dikuasainya tapi yang paling divaforitkan adalah Fisika dan Matematika. “Kata orang, pelajaran itu membuat wajah berkerut tapi tidak dengan saya,” ujar vokalis di grup band gabungan musisi ragam latar belakang warga negara tersebut.

Untuk menjadi pelajar di Lycee Bonaparte tak sekadar mendaftar, tapi melewati seleksi ketat. Yayasan pendidikan dimaksud memiliki kurikulum yang disesuaikan dengan model kebijakan Prancis secara keseluruhan. Standar sekolahnya disesuaikan dengan perkembangan dan peran serta negara menara Eiffel itu di dunia.
Selain itu, pelajarnya harus paham bahasa Prancis. “Bahasa pengantarnya memang bahasa Prancis. Bahasa Inggris adalah bahasa pengantar kedua,” ujar Daniel.

***
Daniel lahir di Balikpapan, 5 Februari 1998 sebagai putra pertama pasangan Togar Martua Raja Hasibuan - Lisvera Susanti Sinaga. Menimba ilmu di pulau terbesar di Indonesia tapi langsung menimba ilmu di TK Paris, Prancis.  Berpindah ke SD KPS Balikpapan dan melanjut ke SD Lycee Bonaparte Doha, Qatar  hingga SMA. Sekarang Daniel duduk di kelas 12. Untuk Indonesia sama dengan kls 3 SMA.

Anggia lahir di Balikpapan, 24 Agustus 2000. Menimba ilmu di TK Paris, Prancis dan melanjut studi SD - SMP Lycee Bonaparte Doha, Qatar.

Abang beradik ini memelajari bahasa Prancis ketika bermukim di negara tersebut. Mahir bahasa Inggris karena menjadi bahasa dunia. Sekolah di Doha, ada pelajaran bahasa Arab. Tak sekadar bahasa lisan, tapi Daniel mahir membaca dan menulis aksara Arab gundul yang tingkat kesulitannya amat tinggi.

Memahami tiga bahasa  — Prancis, Inggris, Arab — tersebut masih ikut kursus bahasa Spanyol.  “Bahasa Spanyol itu kan bahasa dominan di negara-negara Amerika Latin dan Afrika,” ujar Daniel yang kini ingin memahami bahasa Batak  plus memperlancar bahasa Indonesia. “Tapi bingung... bahasa Batak Toba kan dari papa, Batak Simalungun dari mama. Yang mana ini diprioritaskan!”

Meski kesuksesan terbentang lebih luas tapi Daniel dan Anggia belum mematukkan cita-cita bahkan mengesampingkan teman spesial wanita. “Yang pasti, ompung menuntun kami untuk tetap memuliakanNya dalam nama Yesus Kristus!” (R9/k)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru