Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026

Dunia Anak-anak Harus Disterilkan dari Persoalan Kedewasaan

- Minggu, 26 Juli 2015 20:33 WIB
673 view
Dunia Anak-anak Harus Disterilkan dari Persoalan Kedewasaan
Medan (SIB)- Anggota DPR RI Prananda Surya Paloh menegaskan, dunia anak-anak Indonesia harus disterilkan dari persoalan kedewasaan. Persoalan saat ini, oknum warga di luar anak-anak di tanah air masih dalam proses pendewasaan diri dan melibatkan anak-anak. Kenyataan itu menjadikan masa ceria anak-anak terenggut.

Penegasan tersebut disampaikan anggota legislatif dari daerah pemilihan Sumut 1 di jeda Sosialisasi 4 Pilar Kehidupan Berbangsa di PSP Center Medan, Jumat, (24/7). Kegiatan yang diikuti remaja dan pemuda dari lintaskampus tersebut dimoderatori Zulhamdhani dengan pendamping nara sumber staf ahli DPR RI di antaranya Gandi Febraska Manurung yang Koordinator PSP Center Medan dan Rudiansyah.

Prananda mengatakan, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak telah mengakomodir kepentingan anak-anak. Tetapi, menurutnya, perlu langkah preventif dalam menempa masa depan anak-anak yang kurang beruntung. Misalnya, anak yang dari panti asuhan yang membutuhkan orangtua asuh secara penuh. Dengan cara itu, ujar Wakil Ketua Fraksi partai NasDem DPR RI tersebut, seluruh anak Indonesia beroleh perlindungan secara psikis dan fisik, beroleh kasih sayang dan diperhatikan fisik dan batin.

Sebelumnya, melalui dunia maya dalam kaitan Hari Anak pada 23 Juli 2015, Prananda mengimbau semua pihak untuk melindungan anak Indonesia seperti bagian dari dirinya. Harapan tersebut beroleh apresiasi dari pengikutnya hingga membuka dialog interaktif seperti dari Evri Lestari Panggabean, Nina Agoestina,Poltak Simanjuntak, Berlian Siregar, Arga Net Palopo, Novita MiQorazon, Dicky Sulistyo dan Rahmat Munthe.

Anggota Komisi I DPR RI itu mengatakan, kadang orang dewasa tak paham bahwa anak-anak tidak perlu kemewahan tapi butuh perhatian. Ia bercerita mengenai masa kecil indah ketika belajar naik sepeda dituntun orangtuanya. “Kala jatuh, meringis kesakitan. Tetapi ketika sudah mulai bisa mengayuh tanpa dituntun, rasanya seperti terbang melayang. Nikmat,” tutup Prananda. (T/Rel/R9/k)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru