Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
CERPEN

Bayangan Roma di Tepi Sungai Siene

* Karya: Ruthya Aruan-SMAN 2 Balige
- Minggu, 02 Agustus 2015 14:50 WIB
454 view
Bayangan Roma di Tepi Sungai Siene
Keindahan kota Paris tenggelam bersama senja sebelum kemudian keindahan lain muncul ketika bintang dan cahaya lampu mengambil alih. Dewani berjalan di antara padatnya Paris. Dia terlambat mengejar kereta terakhir ke Amsterdam jadi gadis itu memutuskan untuk menginap di salah satu apartemen sahabatnya.

Melalui etalase kaca diliriknya ke dalam kafe-kafe yang bertebaran di pinggiran sungai Siene. Beberapa mahasiswa Jerman, Prancis dan Inggris sedang berpesta di salah satu bar. Di samping bar itu berdiri sebuah restaurant pizza yang malam ini padat hingga harus menambah beberapa meja di luar. Restaurant asia yang baru saja dilewatinya sedang merayakan Lebaran bersama masyarakat muslim yang tinggal di tepi sungai Siene. Dewani dengan mudah menyadari hal itu karena melihat seorang ibu muslim baru saja masuk ke sana bersama dua orang anaknya.

Bicara soal Ramadhan, ini mungkin Ramadhan keduanya tidak bersama keluarga. Gadis itu harus mengurus beberapa hal menyangkut skripsinya di Paris lalu kembali ke Amsterdam. Terpaksa Dewani harus menahan keinginannya menyantap hidangan hari raya atau mencubit pipi sepupunya yang semakin lama semakin tembam.

Tadi siang ia sudah berbicara pada kedua orangtuanya serta sanak saudara. Bertata krama dan meminta maaf meski hanya lewat telepon. Ia ingat bagaimana tahun lalu ibunya marah-marah karena ia lupa menelepon di hari raya. Malang sekali nasipnya karena harus mendengar ocehan ibunya selama sejam penuh.
Welcome  to  Paris  Amica,,,

Selamat  Hari  Raya  Idul  Fitri 

Maaf  tidak  bisa  menyambutmu  di istanaku…..

Aku  berangkat  ke  Roma siang hari  dan  kembali  dua  hari lagi

PS : Ada  makanan  di  kulkas  dan  jika  bosan  pergilah  ke  perayaan  yang  diadakan  di restauran di  bawah.

Begitu isi surat Ratna, sahabatnya, yang menyambutnya di pintu apartemen. Kali ini Dewi Fortuna memang tidak sedang berpihak padanya. Setelah tak bisa merayakan lebaran bersama keluarga sekarang gadis itu ditinggal sahabatnya. Ratna sendiri mungkin sedang bersama seorang pria Italia yang akhir-akhir ini sering ia ceritakan padanya.

Dewani berjalan ke arah balkon dan sungai Siene menyambut pandangan matanya. Diliriknya jam dinding yang menunjuk ke angka Sembilan, masih belum terlalu larut. Setelah berpikir lama ia memutuskan untuk ikut merayakan lebaran di restauran tadi.

Diobrak-abriknya lemari pakaian Ratna. Tentu saja ia harus memakai pakaian yang lebih pantas dari kaus dan jeans panjang yang ia kenakan sekarang. Soal Hijab, Dewani memang belum memakainya. Ia belum siap untuk mengamalkan amanat itu. Orang tuanya juga tidak terlalu memaksa, ini urusan hati, begitu ibunya sering berkata.

Sebelum pergi Dewani mengunci kembali apartemen Ratna dan meminjam mantel kalau-kalau suhu di luar menjadi semakin dingin. Kakinya menapaki jalan yang sama dan berhenti di restaurant yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari apartemen.

Suasana lebaran tampak di dalam ruangan. Disini ia tidak hanya menemukan orang Indonesia, ada juga muslim india -jika dilihat dari pakaian mereka yang khas-, pemuda dari afrika dan penduduk kota Paris sendiri.

Lebaran disini memang sedikit berbeda dengan di tanah air. Banyak orang yang datang belum saling mengenal satu sama lain. Misalnya, sebuah keluarga yang beberapa saat lalu diajaknya berbicara adalah dua remaja yang bertemu di acara ini beberapa tahun yang lalu kemudian menikah. Seorang nenek yang sendirian bertemu teman-teman seusianya di acara ini juga. Lebaran tidak hanya mendekatkan yang jauh tapi juga mempersatukan yang belum mengenal.

"Minuman Nyonya…" tawar seorang pelayan.

Dewani dengan senang hati menerimanya tapi kemudian wajah si pemuda mengagetkannya. Si pemuda yang awalnya tersenyum manis juga ikut terkejut dan secara bersamaan mereka menyerukan nama yang lain,
"Dewani…"

"Zikri.."
Dunia ini memang kecil, setelah beberapa tahun berpisah dengan pemuda yang sempat mengisi hari-harinya, mereka bertemu lagi di tempat yang jauh dari rumah. Sebelum berbincang-bincang, Zikri harus melayani dulu beberapa pendatang lain di restaurant, barulah setelah itu ia duduk di samping Dewani.
"Apa kau sehat?" Zikri bertanya duluan mengingat Dewani bukanlah tipe orang yang terlalu suka membuka pembicaraan.

"Sehat. Kau bekerja disini?" Tanpa menanya pun sebenarnya Dewani sudah tahu jawabannya.

"Ya. Kerja sambilan, sekaligus membantu keuanganku selama kuliah disini"

Setelah jawaban itu mereka terdiam beberapa saat. Tidak bertemu selama beberapa tahun membuat hubungan keduanya menjadi canggung. Ditambah mengingat kejadian bagaimana dulu mereka berpisah, udara di ruangan rasanya menjadi terasa kering bagi Dewani.

Gadis itu meneguk susuk coklat hangat di depannya. "Kau tidak banyak berubah. Bagaimana dengan kuliahmu?"

"Benarkah" Zikri tersenyum kecil "Tahun depan semester terakhirku. Aku berangkat ke eropa setahun setelah kau pergi jadi selesai setahun lebih lambat"
Dewani tersenyum kecut," Padahal dulu kau sendiri yang bilang tidak tertarik sekolah di luar negeri"

"Ha ha ha,, benar juga. Dulu aku pernah bilang kalau sekolah di eropa itu tidak ada bagusnya" Zikri tertawa lepas lalu kemudian wajahnya berubah serius. " Tapi jika dipikir kembali, saat itu aku mengatakannya karena kau yang tiba-tiba mengatakan ingin sekolah ke Amsterdam"

Dewani menjadi merasa bersalah. Banyak hal yang harus ia sesali atas perbuatannya pada Zikri, terutama pertengkaran mereka sebelum ia berangkat ke eropa. Meminta maaf sekarang mungkin adalah hal yang paling tepat.

"Zikri… Aku,,,"

"Tapi itu dulu" Zikri memotong perkataannya. " Sekarang aku berpikir untuk berterima kasih telah membuka mataku"

Dewani memandang Zikri dengan pandangan tak mengerti sedangkan pemuda itu sendiri memandang ke luar restaurant melalui etalase kaca.

"Banyak hal yang terjadi ketika aku datang ke Prancis. Aku belajar bahwa banyak hal di dunia yang menakjubkan, aku belajar bagaimana peradaban diciptakan, belajar cara bertahan hidup dan yang paling penting aku belajar bahwa mencintai seseorang dimulai dari hal yang sederhana dan tidak mengambil semua kebebasannya…."

Dewani mengikuti pandangan pemuda itu yang mengarah pada seorang gadis pelayan muda yang melayani pelanggan lain. Gadis itu sedikit mengerti sekarang dan tanpa sadar ia merasa lega serta ikut tersenyum seperti Zikri.

"Jadi aku benar-benar berterima kasih padamu.." Bisik pemuda itu kecil.

Pembicaraan mereka berdua perlahan mengalir ke arah yang lebih menyenangkan seperti kuliah, tempat-tempat indah di Paris, pengalaman dan hal-hal lain. Tanpa disadari restaurant mulai sepi dan sudah saatnya gadis itu kembali ke apartement.

Zikri mengantarnya hingga ke pintu luar. Tak lupa ia minta titip salam untuk keluarga Dewani dan gadis itu mengangguk senang. Sebelum berpisah Dewani mengucapkan satu kalimat lain yang mungkin hanya sungai Siene dan Parislah yang mendengarnya.

"Aku mencintaimu…." (K)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru