Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat

Tak Putus Dirundung Malas

*Roni B. Tampubolon - SMPN 1 Sigumpar, Toba Samosir
- Minggu, 09 Agustus 2015 14:07 WIB
281 view
Tak Putus Dirundung Malas
Kata kawan-kawan, aku sok idealis. Masih kecil sudah bicara kenegaraan. Tetapi sesungguhnya aku bukan sok sih. Tapi risih rasanya kalau melihat apalagi merasakan sesuatu yang gak tepat. Coba bayangkan. Sudah tanggal segini tapi masih sepi sekali umbul-umbul dipasang. Yang lebih miris, masih berapa bendera yang berkibar.

Padahal, Agustus kan Bulan Kemerdekaan. Ciri khasnya dengan memasang pernak-pernik yang diselipkan dengan warna merah-putih, warna khas keIndonesiaan. Karena belum ada yang tergerak, aku usul ke guru. Tidak usah beli jadi, tapi bikin sendiri saja. Ibuku mau kok menjahitnya.

Ada yang mau menerima tapi ada pula yang menuduhku AMAT: ambil muka angkat telor! Ah, menyakitkan. Biar sajalah.

Sesungguhnya aku sedih dengan kenyataan tersebut. Karena tak ada juga yang tergerak, aku beride mengumpulkan uang. Dari uang jajan atau uang apalah untuk disatukan. Kontribusi membeli bahan merah putih untuk dijahit.

Kalau seorang memberi Rp5.000 misalnya, sudah berapa jika dikalikan seluruh siswa. Andai yang diberi lebih dari itu, pasti lebih banyak lagi yang terkumpul. Tetapi... ide hanya tinggal ide. Meski demikian, tak ada surut untuk satu tujuan mulia.

Aku punya kemauan mengamen. Tak sekadar nyanyi tapi membawa kotak atau apalah namanya sebagai tempat sumbangan. Lagu-lagu yang diperdengarkan tentu nyanyi terkait Kemerdekaan Indonesia. Mudah-mudahan banyak yang tergerak.

Aduh, tak ada juga yang mau. Kawan-kawan tak mendukung. Bahkan semakin malas. Tetapi aku tak patah semangat. Alasan kawan-kawan, terlalu riskan kalau ngamen ke jalan-jalan dan berdendang di pusat konsentrasi massa. Tetapi, ketika kutanyakan solusinya, tak ada yang bisa memberi jalan ke luar.

Sebab waktu semakin mendesak, aku jadi memaksa. Minta kawan-kawan sekelas berkumpul di gereja. Niatnya ngamen sepulang marminggu. Perhitungannya karena jemaat sudah terkonsentrasi dan ngamen di luar pintu gereja.

Sebab tak ada respon positif. Aku yang kerja sendiri. Menyediakan kotak bekas minuman mineral. Membungkusnya dengan warna merah-putih dan menerakan tulisan ‘mengumpul dana untuk perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia’.

Setelah semua disediakan, kawan-kawan baru bersedia. Aku yang memotori. Bernyanyi dan bermusik seadanya. Tak disangka, aktivitas kami diapresiasi banyak orang. Bahkan abang kakak yang bergabung dalan naposo gereja berniat membantu. Tak hanya menyumbang uang tapi bersedia mendampingi kami menjadi musisi saat ngamen.

Dari niat bernyanyi hanya untuk mengumpul dana menyambut HUT Republik Indonesia justru melebar mengumpul dana untuk kegiatan sosial lain. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru