Muncul dari pikiran bahwa desaku pernah indah dan permai. Memang indah. Tidak bisa dipungkiri bahwa alam menjadi sahabat yang tak pernah usang dan berlalu tanpa pesan. Alam lebih indah dari persahabatan dengan manusia. Manusia menjadi teman ketika dia bisa menguasai, tetapi alam menjadi sahabat ketika aku tidak menjadi racun baginya. Ringkihnya pelukan menjadi perihnya luka. Santunnya bicara menjadi ungkapan pemusnahan. Jernihnya danauku menjadi tumpukan sampah ide yang kotor dan serakah.
Sejukmu kurindukan dari kejauhan harapan. Berpelukan dengan pemandangan sore adalah kerinduan yang tak pernah usang ditelan usia. Ringkihnya pelukan bersama awan-gemawan adalah cita yang tak pernah lekang dari ingatan sang pendamba. Santunan manusia yang berada di bawahku menelisik hati yang paling dalam dan ingatan yang takkan pudar sembari aku tinggal nun jauh di sana. Kini, tanah yang kupijak telah menjadi usang dan tak bernyawa. Andaikata, aku telah mengerti ini aku tidak akan menginjak tanah ini lagi. Langkahku menjadi pesimis ketika menoleh dari gunung itu. Aku melihat kerapuhan yang menjadi-jadi di lereng gunung tempatku menatap desaku yang telah diambang jeritan. Pohon eucaliptus merambah disepanjang puncak gunung ini. Rasanya, aku tidak pernah bernazar tentang situasi ini. Rindu akan masa lampau pun mulai terngiang.
Renjana yang makin terasa membuatku harus mendaki gunung itu. Sembari mempersiapkan peralatan, aku telah bermimpi akan melihat pemandangan yang mengasyikkan jiwa yang membuat aku akan lupa pulang. Di sela-sela pikiranku, aku mencoba mengulang kembali pengalaman bersama teman sekelas ketika mendaki gunung itu. Hawa sejuk, rindangnya pohon dan potret desaku yang terpampang didepan mata. Padi menguning di pematang sawah menjadi saksi nyata bagiku untuk menorehkan aksi hidupku setiap harinya. Danau yang jernih menjadi tempat berenang seakan-akan aku sedang mengarungi zaman yang penuh kegembiraan ini. Keramahan penghuni desaku semakin membuatku semakin ingin pulang.
Ternyata aku sudah ada di desaku. Siapakah aku, tanyaku dalam hati sambil menoleh sekeliling. Aku harus meneriakkan ini semua di atas gunung itu. Jalan setapak harus kulalui dengan susah. Di lereng gunung, aku mendapatkan sekumpulan potongan kayu. Kumpulan kayu ditemani buldozer. "Mungkinkah kayu punya rasa takut, apalagi dia sudah tidak bernyawa lagi. Kini, hidupnya telah dipotong!"
Aku mencoba mempertajam sorotan mataku pada pemerkosa alam yang siaga menjaga gelondongan kayu. Seandainya aku salah satu dari pohon itu, aku akan berteriak minta tolong kepada penciptaku. Minta tolong! Rasanya itu konyol, tapi rasa konyolku mungkin berguna.
Aku melangkahkan kaki menuju puncak gunung. Tidak banyak yang bisa kukatakan karena aku melihat peristiwa yang sama dalam rute ini. Kumpulan cabang dan ranting kayu membuatku harus membuang waktu yang banyak untuk mencapai puncak penderitaan desaku. Puncak gunung pun mulai mendekat. Rasanya, aku tidak semangat lagi untuk menginjak puncak gunung itu. Aku tertambat oleh kepedihan hidup akibat kerakusan manusia. Kenapa ada mahluk pemusnah kehidupan dan keindahan, teriakku sambil membuang satu potongan kayu. Keinginan untuk mencapai puncak gunung bukan karena keindahannya, tetapi aku ingin melihat sayatan-sayatan yang sadis yang mereka lakukan. Rinduku kini dibalut dengan kekecewaan yang mendalam. Aku tidak menyangka bahwa alamku kini menjadi maut.
Satu lagi yang menyedihkan. Seekor rusa dihinggapi lalat biru. Dia tidak tahan dengan perihnya hidup. Tampaknya, dia kehausan dan harus mati. Mati memang jalan keluar dari penderitaannya. Dia terkapar dibentangan rongga tanah yang memanjang. Kini, gunung itu sudah haus. Gunung itu butuh air.
Tanpa pikir panjang, aku mengairi tanah yang berongga itu dengan satu botol air yang seharusnya untuk pelepas dahaga di puncak gunung. Aku tidak sanggup melihat penderitaan mereka. Tanah mulai meneriakkan keangkuhannya ketika manusia mengajarinya untuk tidak rela menjadi tempat yang nyaman bagi pepohonan. Tanah menghasilkan abu yang membuat mataku merasa perih ketika mendaki menuju puncak gunung.
Dengan amat susah, aku sampai pada puncak gunung. "Di mana indahmu? Kenapa engkau mau digenggam oleh tangan durjana dan berhati batu? Di mana sengatmu dan sejukmu?" tanyaku pada sekelilingku. "Kini, siapakah aku ditengahmu? Siapa aku bagimu?"
Pecahnya keheningan membuatku semakin kecewa. Tak ada yang menyahut pertanyaanku. Aku sudah terbiasa mendengar ciap kecil anak burung yang menunggu induknya membawa hidangan untuknya. "Aku tidak mungkin mengubahmu, sebab kamu sudah berubah setelah aku pergi", keluhku sambil menggenggam bongkahan rindu.
"Aku belum siap melepaskan kerinduanku akan sejukmu dan indahmu.
"Pantaslah, manusia dilerengmu telah menjadi budak zaman yang selalu mengintai dimana hartamu. Mereka tidak ramah lagi! Asyik dengan dirinya, entah apa yang sedang mereka cari".
"Para pejuang kematian dan kehausanmu telah berkumpul untuk mengorekmu dan kamu diam saja?", tanyaku pada sekumpulan balok kayu. Dari kaki hingga puncak gunung, aku tidak menemukan rindangnya pohon. Aku menemukan tumpukan kayu tak bernyawa yang siap disajikan ke pabrik.
"Kamu tahu, mereka semakin kaya, namun engkau semakin miskin bahkan melarat".
Rintihan rumput terdengar sendu ketika aku mencoba untuk bertanya kepada mereka tentang riwayat desaku. "Kapan kamu menjadi penguasa di gunung ini?", tanyaku pada rumput ilalang yang tumbuh mekar laksana padi nan indah. Entah apa jawabnya. "Kami tidak ingin senbanyak ini, tapi mereka mengizinkan kami hidup", jawab sang rumput yang tengah mengayunkan badan kemana angin berhembus. Saya belum yakin dengan jawaban mereka. Aku melihat seonggok gelondong kayu di danau yang dulu tempat ikan berkembang. Aku bertanya dari kejauhan mengapa mereka bisa berenang seakan-akan mereka iri dengan keindahan danau. Mungkin, mereka ingin menikmati keindahan danau itu. Aku kembali untuk tidak gampang yakin dengan peristiwa ini.
Sengatan matahari menambah perihnya kekejaman zaman yang dialami sekumpulan biji kayu yang sudah mulai tumbuh. Mereka haus dan bermimpi agar hujan datang. Sayangnya, mimpinya hanya tinggal mimpi. Apalagi berpikir tentang kesejukan, hanyalah mimpi di atas mimpi. Kumpulam ilalang siap menghimpit ruang gerak bibit pohon yang tengah bertumbuh. Citan-citanya untuk mengulang kembali kesejukan dan kehangatan gunung itu akan sampai pada batas kesia-siaan. Era kejayaan gunung itu telah sirna ditelan masa yang selalu menggorogoti mereka dengan ancaman dan dera yang silih berganti. Aku melemparkan senyum sinis kepada sekumpulan bibit pohon eucaliptus. "Mengapa kalian hadir?" tanyaku sambil digenangi rasa marah. Eucaliptus akan siap untuk mengisap kandungan air yang menjadi sumber pemuas dahaga tanaman yang masih tersisa di puncak gunung itu. Angin kencang di atas bukit berlalu begitu saja tanpa ada sapaan dari pohon-pohon. Pohon telah tiada. Sakit dan kecewa menghantui dan membungkus diriku ketika berada di puncak gunung.
"Siapakah aku bagimu wahai gunung yang pernah kupuja? Siapakah aku bagimu desaku ? Siapakan aku bagi manusia di lereng gunung ini?".
"Seandainya aku tidak pergi ke negeri orang untuk mencari jati diri, aku akan menemukan jati diri di desaku dan gunung ini. Seandainya tangan durjana tak pernah menyentuh desaku, aku akan menikmati hal yang pernah kunikmati,†ungkapku sambil menutup kekecewaanku.
(h)