Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026

Untukmu Indonesiaku Tercinta

* Curhat Daniel France Hasudungan Hasibuan, Doha - Qatar
- Minggu, 16 Agustus 2015 15:43 WIB
572 view
Untukmu Indonesiaku Tercinta
Libur dua bulan! Sekolah di jajirah Arab memang demikian. Bila Ramadan tiba, diberlakukan vakansi panjang. Termasuk dengan sekolahku, Lycee Bonaparte di Doha, Qatar.

Kawan-kawan yang datang dari penjuru dunia, punya agenda kembali ke negara masing-masing. Sama halnya denganku, mudik ke tanah air, Indonesia tercinta. Kebahagiaanku karena dapat berkumpul dengan keluarga besar. Kebetulan kali ini menghadiri ulang tahun Pernikahan Emas ompungku, Drs Ruman Sinaga - St Alimah Br Damanik di JW Marriot Hotel Medan, Sabtu, (25/7).

Tetapi rasa bahagia berubah jadi kekhawatiran. Sejak tiba di Bandara Kuala Namu International Airport, Deliserdang terjadi kegalauan. Pelabuhan udara bertaraf internasional tapi kok hanya memiliki fasilitas jauh dari apa yang dibayangkan. Tidak seperti bandara internasional yang ada di negara yang pernah kusinggahi. Mulai dari Singapura dan Malaysia hingga Thailand. Atau yang ada di Eropa seperti Paris apalagi sampai Amerika Serikat.

Namun, betapapun ada kekecewaan, aku tetap membanggakan bahwa negaraku terus membangun. Hanya saja, nasionalisme yang tetap terpatri, runtuh lagi. Di jalanan, tidak ada ketertiban. Kehidupan seperti terbalik 180 derajat. Circulation chaotique. Ibuku mengibaratkan kesemrawutan lalu-lintas seperti sarang lebah yang diganggu. Lebahnya beterbangan ke sembarang arah ketika sarangnya diguncang.

Begitulah gambaran pengemudi kendaraan yang menerobos sesukanya. Meski lumière traffick (traffick light) teratur tapi pelintasnya yang sesuka hati sepanjang saat. Bagaimana tidak macet? Belum lagi infrastrukturnya yang tidak mulus.

Yang bikin pilu, anak-anak berkeliaran. Tak di jalanan, di sekitar sekolah dan di warnet-warnet. Tidak demikian di sekolahku di negara yang kutumpangi.
Pada saat sekolah, ya... harus belajar. Waktu liburan, misalnya Minggu, tetap digunakan belajar dan aktivitas keimanan. Terlalu sayang waktu dibuang. Bila berkeliaran saat waktu sekolah, malu karena tidak ada orang yang berlalu-lintas di jalanan.

Jikapun ada, pasti karena ada kebutuhan mendesak. Itu pun tidak dapat bergerombol tapi bersama keluarga, minimal dengan pendamping.  Kuncinya, tidak ada kesempatan untuk main-main yang tidak berfungsi. Soalnya, betapapun ada waktu luang, masih dapat dimaksimalkan mengisi kualitas diri. Misalnya ikut ekstrakurikuler. Bermusik, menulis syair atau apa saja yang bermakna positif.

Pemandangan seperti itu ternyata tak hanya di Medan tapi juga di Jakarta. Sepekan di ibu kota Sumut, berlanjut libur ke ibu kota Indonesia. Ah, sama saja. Macet alang-kepalang menyiksa. Orangtuaku sampai bingung sendiri. Padahal, ketimbang aku, orangtuaku lebih banyak tinggal di Indonesia. Sama halnya dengan anak-anak remaja yang banyak menghabiskan waktu untuk nyantai melulu.

Meski demikian, aku tetaplah bagian dari Indonesia. Suatu waktu nanti, aku harus menjadi bagian dari pemecahan persoalan itu. daniel.hasibuan98@yahoo.com
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru