Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat

Kumaafkan tapi Tak Dapat Kulupakan

* Marlina Situmeang, SMK RK Bintang Timur - Pematangsiantar
- Minggu, 23 Agustus 2015 16:06 WIB
381 view
Kumaafkan tapi Tak Dapat Kulupakan
Aku dan AGT adalah sahabat lama. Selain pernah satu institusi ketika sekolah dasar, kami  berdekatan tempat tinggal. Selain aku, seluruh keluarga intiku mengenal AGT. Sama halnya denganku. Keluarga AGT mengenalku. Pasti.

AGT bukan inisial nama sahabatku tapi akronim dari anak gadis tetangga. Sengaja kusebut AGT agar bilamana yang bersangkutan membaca curahan hatiku, tidak sampai memukul hatinya. Suer, aku tak ingin membalas apa yang dilakukannya padaku.

Berat memang berbuat seperti aku tapi—sekali lagi—sumpah, aku tak mau AGT merasakan perih hati hanya karena ambisi sesaat.

Ceritanya berawal dari perkenalanku dengan cowok dari sesekolah AGT. Cowok itu mengaku mengagumi puisi-puisi yang setiap pekan muncul di koran di kota kami. Tak hanya satu media cetak, tapi puisi yang terbit bergilir di banyak tempat.

AGT mengaku tulisan itu hasil inspirasinya. Dengan cara demikian, AGT berhasil menggaet hati cowok idaman kami. Kukatakan kami karena aku dan AGT sama-sama suka.

Siapa yang tak suka dengan cowok tersebut. Selain tampan, pintarnya selangit. Selama sekolah, tidak pernah berada di posisi tiga besar. Jika tidak juara pertama, juara dua. Selain itu, jago ilmu bela diri. Sudah begitu, dari keluarga kaya.

Aku tahu AGT mengklaim sebagai penulis puisi-puisi yang dikagumi cowok tersebut secara dadakan. Ketika itu, si cowok memposting puisiku ke media sosial. Dalam keterangannya, si cowok mengaku semakin mengagumi AGT karena puisi-puisinya mengisi ruang hatinya yang pernah kosong.

Padahal, yah... itu tadi. Puisi itu karyaku. Memang, sebelum terungkap kasus tersebut, AGT tiap pekan mengunjungiku. Tujuannya cuma satu, minta dibikini puisi.

Caranya, AGT cerita tentang suasana hatinya. Kemudian kutulis dengan setulus hati seolah aku yang merasakannya. Setelah selesai, AGT yang mengantar ke media cetak. Alasannya abangnya kenal sejumlah redaksi media yang kami tuju.

Rupanya, setiap AGT bertemu dengan cowok yang kami suka, mereka bercerita. Saling mencurahkan isi hati. Semua suara hati si cowok itulah direkamnya dan disampaikan padaku untuk digubah menjadi puisi. Kadang, sebelum muncul untuk konsumsi publik, AGT sudah mengirimnya ke si cowok. Karena kerap demikian, hati mereka jadi bertaut.

Atas kejadian itu, aku marah. Sudahlah puisiku diklaim miliknya, AGT pun berhasil menggaet hati cowok idamanku. Setelah tahu, aku tak bereaksi. Seperti mencari cara bagaimana menjelaskan pada si cowok? Soalnya, bagaimana mungkin aku harus memutus hati mereka yang sudah bertaut. Akan kelakuan AGT itu, aku memaafkan tapi tak dapat kulupakan.

Yang pasti, tak akan pernah ada lagi puisi kasmaran untuknya. (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru