Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat

Ketika Kau Sampai di Tujuan, Kembalilah...

* Conny Oktaviani Sitompul - SMA Van Duynhoven, Saribudolok
- Minggu, 06 September 2015 16:38 WIB
310 view
Ketika Kau Sampai di Tujuan, Kembalilah...
Suer, aku dengan Stefanus tidak punya hubungan spesial. Jika selama ini selalu bersama, semua sebab kebetulan. Ya, hanya karena kebetulan. Kami satu sekolah dan sekelas. Rumah kami berdekatan, satu lorong. Aku tak punya kendaraan khusus bila ke sekolah.

Karena masing-masing punya kebutuhan serupa, wajarlah selalu berdua. Tetapi, alasan tersebut selalu tidak masuk dalam pikiran dan akal kawan-kawan. Rekan-rekanku menuduh, aku menyembunyikan perasaan suka karena Stefanus telah punya gebetan.

Tuduhan yang mengada-ada. Justru aku yang sudah punya gebetan. Tak ada yang tahu, tentang perasaanku pada seorang pria. Lelaki itu adalah abang dari perempuan yang disukai Stefanus.

Kendalanya, sahabat sekelasku itu justru sedang galau. Niatnya ingin menghentikan usahanya menaklukkan hati si cewek tapi kadung gengsi. Soalnya, Stefanus sudah bersumpah harus berhasil menaklukkan hati perempuan incarannya.

Kugarisbawahi ya. Stefanus tidak suka sama sekali. Alasannya, perempuan itu selalu menyepelekannya. Suka membeberkan kekayaan orangtuanya.

Mengagungkan cowok lain yang lebih kaya dan obral ketimbang Stefanus. Aku pun ikut-ikutan benci karena sahabat dekatku itu terlalu dipandang sebelah mata.
Akulah yang menyemangati Stefanus. Aku siap membelanya. Ketika aku dijadikan tumbal karena diklaim kekasih Stefanus, aku mengangguk saja. Soalnya, sahabatku itu ingin mengukur kadar hati gebetannya.

Ternyata benar! Skenario bahwa kami berpacaran membuat gebetan Stefanus cemburu. Ia marah. Melabrakku di kelas. Kejadian itulah yang membuat kawan-kawan semakin menuduh bahwa antara aku dan Stefanus ada udang di balik perkedel.

Belakangan, karena ragam curhatnya padaku, aku jadi punya perasaan istimewa pada Stefanus. Rasa itu pula yang membuat keinginanku memiliki abang si perempuan, pupus. Sumpah, aku cemburu melihat kemesraan Stefanus dengan perempuanĀ  itu. Hanya saja, rasa sakit tersebut tak kusampaikan pada Stefanus.
Terakhir, ia tahu bahwa aku terluka ketika membaca statusku di Facebook. Tatkala aku mengangguk bahwa aku menyukainya, Stefanus ingin memutuskan kekasihnya tapi kumohon padanya jangan menyakiti hati perempuan yang mencintainya.

Stefanus kemudian berjanji perlahan-lahan akan meninggalkan gadisnya karena ingin berpaling kepadaku. Aku cuma berpesan, ketika sudah sampai di tujuan, kembalilah... sebab aku tetap menyediakan ruang di hatiku. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru