Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Cerpen

Malaikatku Hari Ini …

* Karya Hendra Maringga - St Fransiskus - Pematangsiantar
- Minggu, 06 September 2015 16:47 WIB
366 view
Malaikatku Hari Ini …
Suara jam weker membangunkanku dari tidurku. Sesudah merapikan tempat tidur, aku duduk bersila. Segera kukatupkan mata dan kulipat tanganku. Aku berdoa kepadaNya karena Ia telah menjaga dan melindungiku sepanjang malam.

Aku bersyukur atas hari baru yang diberikan kepadaku. Pagiku disinari mentari yang cerah. Suara burung yang berkicau merdu menciptakan suasana damai di hatiku. "Tuhan kirimkan seorang malaikat bagiku hari ini. Seorang malaikat yang bisa menemaniku dan memberikan ketentraman bagi jiwaku," aku mengakhiri ibadat dengan doa singkat. Sesudah itu, aku bergabung dengan teman-temanku menikmati menu sarapan pagi.

"Kamu pergi ke mana siang ini, Natalia," Lisa bertanya kepadaku sambil mengunyah makanan di mulutnya.

"Aku tinggal di asrama saja hari ini. Adikku mau datang menemuiku," aku berkata kepada Lisa dengan tersenyum.

"Ehm … sebenarnya tadi aku ingin mengajak kamu ke swalayan. Kebutuhan pribadiku sudah habis," wajah Lisa tampak kesal.

"Maafkan aku, Lis," aku menatap gadis bermata belo itu.

"Tidak apa-apa kok, Natalia," Ria akhirnya memberikan senyum manisnya kepadaku.

Hari itu memang tidak banyak teman-temanku pergi ke luar asrama, meski mereka baru mendapat kiriman dari orangtuanya. Bilang dihitung, jari-jariku masih cukup menghitung anak asrama yang pergi shopping. Aku memastikan itu, karena seusai sarapan aku telah duduk di kursi pintu keluar. Aku duduk di situ sambil menunggu adikku.

Hari pun semakin siang. Tetapi adikku tidak kunjung datang. Aku mulai kesal, apalagi siang itu cuaca berubah menjadi mendung. Setelah makan siang, rintik-rintik hujan turun membasahi bumi.

"Akh, pasti adikku tidak akan datang," gumamku dalam hati. Dalam penantian aku membuka sebuah buku yang diberikan seorang teman padaku. Buku ini berisi tentang ilmu kejiwaan. Meski aku tidak terlalu banyak mengetahui tentang psikologi, aku sungguh menikmati isi buku itu. Bahkan, saking asyiknya membaca buku itu aku tidak menyadari Novia telah berdiri di depanku. Gadis bertubuh tambun itu langsung menutup buku bacaanku, karena aku tidak merespon kehadirannya.

"Dasar kutu buku," Novia mengambil buku bacaanku.

"Ada apa, Nov?" aku memandang Novia. Aku tahu Novia melakukan tindakan seperti itu karena ada sesuatu yang mau disampaikannya kepadaku.
"Ada seorang pria mencarimu. Dia sedang menunggu di ruang tamu," Novia mengembalikan bukuku. Lalu tangan kanannya segera memegangi tangan kiriku. Aku mengikuti Novia ke ruang tamu.

"Hei Natalia, apa kabar," pria itu langsung mengulurkan tanganku. Aku pun menjabat tangannya.

"Aku permisi dulu ya," Novia berpamitan kepada kami berdua.

"Makasih ya, Nov," aku tersenyum padanya.

Sepeninggal Novia, Roni langsung duduk di sampingku. Tanpa menunggu lama dia langsung membuka perbincangan di antara kami. Roni selalu bisa membuka tertawa. Ceritanya siang itu membuatku melupakan segala masalahku. Aku juga lupa akan niatku memarahi Roni. Begitu melihatnya sebenarnya aku mau memarahi Roni, karena dia menghilang begitu lama dari hidupku. Dia tidak ada di kala aku benar-benar membutuhkan telinganya untuk mendengarkan keluh kesahku. Bahkan, karena saking jengkelnya aku sudah berniat untuk melupakan Roni dalam hidupku. Aku sudah mau membuang jauh-jauh segala cerita persahabatan di antara kami. Tetapi di siang itu Roni berhasil mengubah segala-galanya. Kami saling bercerita mengenang masa-masa yang silam.

"Aku begitu bahagia dengan kehadiranmu," kataku jujur kepada Roni.

"Apakah kamu tidak bahagia dengan keberadaannya di tempat ini?" Tanpa menyebutkan nama aku tahu siapa orang yang dimaksud oleh Roni.

"Justru aku merasa tertekan dan tidak bebas dengan kehadiran dia di tempat ini. Aku justru mau cepat-cepat meninggalkan asrama ini, karena aku tidak mau melihatnya lagi. Dia katakan ia ingin menjadi sahabatku. Dia inginkan aku dekat kepadanya. Tetapi di kala aku sendirian ia tidak pernah mendatangiku, duduk di sampingku, dan mendengarkan ceritaku. Kalau orang lain mendekatiku, justru ia marah-marah kepadaku," isi hatiku kuungkapkan kepada Roni.

"Cobalah kamu yang mendekatinya dan mengerti dirinya," Roni menasihatiku.

"Ron, kamu tahu aku bukan tipe seperti itu. Sebagai pria, ia seharusnya yang datang kepadaku bukan malah mengekangku bersahabat dengan yang lain," nada suaraku semakin meninggi.

"Oke, tidak usah kita bahas dia lagi. Gimana keadaanmu sekarang?" Roni menatapku.

"Ron, sebenarnya aku membutuhkan bahumu sekarang. Aku ingin menangis, namun tidak mungkin. Jika ada orang yang melihat kita, mereka pasti akan terheran-heran. Mengenai sakitku, aku sendiri bingung. Terkadang sakit itu muncul, tetapi terkadang menghilang. Dokter sendiri bingung melihat keadaanku.

Hanya aku tetap diminta cek secara rutin tiap bulan ke rumah sakit untuk mengetahui perkembangan sakitku," aku bercerita tentang sakitku. Roni hanya diam saja. Cara itu cukup ampuh untuk mengurangi bebanku. Roni tahu aku hanya membutuhkan telinganya mendengarkan ceritaku tanpa perlu berkata apa-apa.
"Jadi, adakah kemungkinan untuk sembuh?" wajah Roni prihatin.

"Aku tidak tahu, Ron. Hanya penyakitku membuat keadaan kulitku seperti ini. Bintik-bintik ini sangat gatal, Ron," aku menarik lengan bajuku dan menunjukkan bintik-bintik di sekujur tanganku.

"Kamu sudah membuat obatnya, Natalia?" Roni memandangku dengan cemas.

"Obatku sudah habis. Sebenarnya aku tadi sedang menunggu adikku mengantarkan obatku. Tetapi sudah empat jam aku menunggu ia tidak kunjung datang ke sini. Padahal hari sudah mulai hujan," Natalia memandang keluar. Rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi.

"Kenapa kamu tidak mengatakan dari tadi Natalia. Aku kan bisa membelikannya buatmu. Apa nama obatmu itu?" Roni berdiri dari tempat duduknya.

"Tidak usah, Ron. Aku tidak mau kamu repot. Apalagi hujan sudah turun, nanti malah kamu yang sakit," Natalia mencemaskan keadaan Roni.

"Kamu bilang sekarang, biar aku beli," nada suara Roni memaksa.

Tidak mau melihat Roni marah, Natalia menyebutkan nama obat yang diperlukannya. Dengan segera Roni men-starter sepedamotornya. Roni tidak peduli hujan membasahi tubuhnya. Setelah dia membeli obat Natalia, ia segera mengantarkannya ke asrama.

"Makasih, Ron. Kamu sudah membelikan obatku, meski kamu harus kebasahan."

"Hmm ... apa sih yang tidak bisa saya buat Natalia," Roni tersenyum nakal.

"Kamu ini selalu saja bisa buat aku tertawa," Natalia mencubit pergelangan tangan Roni.

"Natalia, aku harus pulang. Kamu juga harus segera ibadat. Mudah-mudahan kita bisa bertemu dan bercerita lagi," Roni pamitan kepada Natalia.

Sepeninggal Roni, Natalia langsung menyimpan obatnya ke kamar. Sesudah itu ia bergabung bersama teman-temannya ibadat bersama.

"Terima kasih Tuhan. Engkau telah mengirimkan seorang malaikat padaku hari ini. Jagailah dan sertai dia selalu, ya Tuhan. Semoga ia sehat dan bahagia dalam menjalani hari-harinya. Dan semoga persahabatan kami tetap abadi," Natalia menyampaikan doa permohonannya di sore itu. (f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru