Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat

Kisah Kasih di SMP Via Bu Nurcahaya

* Liestya Priskila Silviana, SMAS Methodist 2 Rantau Prapat
- Minggu, 13 September 2015 16:39 WIB
1.134 view
Kisah Kasih di SMP Via Bu Nurcahaya
Ini ceritaku ketika masih menimba ilmu di Tunas Harapan Mandiri. Masih SMP lho. Saat hari pertama masuk kelas, langsung bertemu dengan guru matematika dan fisika. Pengajarnya seorang perempuan. Guru-guru lain menyebutnya Bu Nurcahaya. Nama aslinya cukup panjang tapi dengan nama itu saja membuat murid bertanya-tanya sendiri.

Jika ada pelajaran ekonomi kata, maka Nurcahaya itu sudah mubazir. Soalnya, arti nur kan cahaya. Lalu, jika dipanjangkan berarti nama bu guru kami cahaya-cahaya. Cahaya kuadrat.

Begitu masuk kelas, Bu Nurcahaya langsung minta perjanjian dari seluruh isi kelas. Kepada siswa Bu Nurcahaya menegaskan bahwa perjanjian antaranya  dengan murid demi kebaikan siswa. Butir perjanjian adalah semua pelajaran harus mengerjakan PR. Apapun alasannya, home work harus dikerjakan. Siapa yang tidak, maka wajib menyelesaikannya di papan tulis saat pelajaran dimulai. Artinya, siswa tidak dimungkinkan mengikuti pelajarannya.

Perjanjian yang lain, semua PR harus dikumpulkan tepat waktu yakni sebelum bel masuk sekolah berbunyi. Jika tidak membawa buku pelajaran, maka harus scott jump kelipatan sesuai jumlah soal dikalikan jumlah siswa yang tidak mengerjakan. Ingat lho, scott jump itu beda dengan push-up. Scott jump dilakukan di depan pintu kelas. Alasannya biar jangan mengganggu murid lain yang rajin di kelas.

Hmm... memang tidak mengganggu murid tapi mempermalukan. Soalnya, bila dihukum saat siswa dari kelas lain pelajaran olahraga dilapangan, apa tidak jadi tontonan.

Sebelum menyatakan setuju, aku sudah menolak. Tapi dalam hati. Manalah berani aku menyanggah. Selain masih merasa asing juga tergolong baru kelak. Hanya saja yang kuherankan, kenapalah Bu Nurcahaya punya kamus menghukum seperti itu.

Soalnya, bila memerhatikan wajahnya, tak mungkinlah melakukan hukuman sekejam itu. Raut wajah Bu Nurcahaya tergolong manis. Tidak secantik Miss Universe tapi dapat dikategorikan di atas rata-ratalah. Omku yang masih lajang itu saja mengaku suka dengan ramah dan baiknya Bu Nurcahaya. Tapi cepat-cepat kuhalangi. Soalnya aku takut. Takut, kalau adik papaku jadian dengan Bu Nurcahaya, bukannya  jangan aku makin ringan tapi justru diperberat. Pertimbangannya, Bu Nurcahaya itu tak pernah mau toleransi pada sikapnya. Katanya demi pembinaan mental.

Walau tak percaya membandingkan wajah dengan perbuatan, apa yang dikatakannya benar-benar dilaksanakan. Pekan pertama pelajarannya, hampir separo isi kelas melakukan kesalahan, termasuk aku.

Semua yang melanggar, mendapat hukuman sama. Harus scott jump. Terbayang di benakku bagaimana Johny Depp melakukan olahraga itu dalam membentuk kekuatan kaki. Manalah kubisa.

Tetapi, Bu Nurcahaya tidak peduli. Hukuman darinya harus dilaksanakan. Usai menjalani, pulang dari sekolah rasanya kakiku mau putus. Urat kaki tegang.
Sejak saat itu, tetap tak sukanya aku melihat Bu Nurcahaya . Jika disuruh memilih, lebih baik aku mengutip sampah di areal sekolah ketimbang ikut pelajarannya dan melihat raut manisnya.

Tetapi, suer..karena takut akan hukuman itu, aku jadi tekun belajar. Soalnya, dalam mengerjakan PR, walaupun salah, Bu Nurcahaya menerima dengan baik. Baginya, yang penting mengerjakan tugas.

Karena terbiasa seperti itu, hingga kini aku jadi disiplin mengerjakan pelajaran di sekolah.

MASA PUTIH BIRU

Aku bersekolah di Tunas Harapan Mandiri ketika SMP. Banyak hal yang sudah aku lewati dan aku hadapi selama 3 tahun di masa SMP. Dari hal yang menyenangkan sampai menyedihkan juga sudah aku rasakan. Tapi, sekarang tidak terasa aku sudah memasuki masa SMA. Aku telah berpisah dengan sebagian teman dekatku yang dulunya kami selalu bersama bercanda tawa di kelas, mengerjakan tugas bersama hingga kami dimarahi oleh guru. Itu semua telah kami alami bersama. Aku sangat berharap kalau saja kejadian tersebut dapat terulang lagi. Tetapi, itu tidak akan bisa terjadi kembali karena keadaanlah yang mengharuskan kami berpisah.

Sungguh banyak kenangan yang ada di masa SMP ku. Di mulai saat aku memasuki tahun ajaran pertama kali SMP yaitu di kelas 7. Pada saat itu aku bukanlah murid baru. Aku dan sebagian temanku ada yang memang sudah murid lama di sekolah Tunas Harapan Mandiri. Oleh karena itu kami sangat senang menanti kehadiran murid-murid baru yang akan terus ada bersama dengan kami selama 3 tahun.

Hampir setengah tahun kami menjalani proses belajar mengajar bersama teman-teman dan guru-guru di sekolah. Kami sudah mulai akrab satu dengan yang lain. Bahkan kami juga sudah mulai akrab dengan wali kelas kami sendiri. Kami sangat beruntung sekali pada saat itu bisa mendapatkan wali kelas  yang baik yang akan terus menjadi wali kami selama 3 tahun. Wali kelas kami bernama Ibu Julis. Selain menjadi wali, dia juga memegang mata pelajaran biologi. Wali kelas ku bisa dibilang guru yang paling baik tidak seperti guru-guru yang lain. Menurutku Ibu itu orangnya susah marah hahaha. Karena asal kami tidak mengerjakan tugas dia paling hanya memberikan  hukuman ringan. Tidak seperti guru lain yang memberikan kami hukuman berat.

Hmm... aku teringat dengan seorang sahabat lamaku yang bernama Cindy. Dia itu orangnya humoris sekali di kelas. Satu kalimat yang diucapkannya saja bisa membuat kami satu kelas tertawa. Entah kenapa dia bisa membuat kami tertawa seperti itu. Kalau menurutku dia itu sangat berbeda dengan teman-teman yang lainnya. Dia itu orangnya sangat menghibur sekali untukku  hehe.

Satu tahun sudah berlalu,kini aku telah kelas 8. Situasi di kelas 8 tidak jauhbeda dengan situasi pada saat di kelas 7. Siswa-siswinya masih tetap sama seperti tahun lalu. Hanya saja di kelas 8 ini kami sudah mulai dewasa dan mulai mengerti tentang semua hal.

Oh ya...aku teringat dengan salah satu guruku yang bernama Ibu Nurcahaya. Dia adalah guru yang mengajar kami di bidang studi matematika dan fisika. Dia adalah salah satu guru yang mengerikan bagiku. Awal memasuki pelajaran pertama, dia sempat membuat suatu perjanjian kepada kami. Perjanjiannya yaitu jika kami tidak mengerjakan PR maka kami harus mengerjakan semua PR itu di papan tulis dengan jawaban benar. Yang kedua PR sudah dikumpulkan tepat waktu yaitu sebelum bel masuk sekolah. Dan bukan hanya itu, jika kami tidak membawa satu buku saja kami harus scottch jump sebanyak 40 kali. Jumlah buku yang harus kami bahwa pada saat itu 4 buku. Jadi jika kami tidak bawa semua buku kami, kami akan dihukum dengan scottch jump sebanyak 160 kali.

Aku dan teman-temanku pada saat itu sangat kecewa terhadap ibu itu. Kami semua merasa takut dan tertantang oleh perjanjian yang diberikan oleh ibu itu.
Perjanjian tersebut kami terima pada saat itu walaupun kami merasa kecewa terhadap ibu itu. Sungguh, karena merasa takut dengan hukuman-hukuman yang diberikan oleh ibu itu, aku menjadi sangat rajin mengerjakan tugas-tugas yang ibu itu berikan. Tapi, pernah suatu kali aku mendapatkan hukuman ketika aku tidak membawa buku fisika. Waktu itu aku meninggalkan bukunya di rumah. Ya... mau gimana lagi aku harus melaksanakan perjanjian yang telah kami sepakati sebelumnya itu aku harus scottch jump sebanyak 160 kali. Aduh... pada saat itu aku sangat kesal sekali pada perjanjian yang telah ditetapkan. Tapi aku tetap melaksanakannya supaya suatu saat aku tidak meninggalkan bukuku ketika belajar.

Sungguh! Ibu ini adalah satu-satunya guru yang takkan kulupakan dari cara mengajarnya yang begitu tegas kepada kami.  Hanya saja kami yang tidak mengerti dengan semuanya itu. Padahal jika kupikir-pikir lagi sebenarnya niat ibu itu seperti ini kepada kami juga untuk kebaikan kami supaya kami lebih sungguh belajar dan tidak santai dalam belajar.

Tidak terasa dua tahun sudah  perjalanan masa SMP ku. Tahun ini adalah tahun terakhir aku bersekolah di THM. Keadaan sih masih tetap sama seperti tahun lalu dengan murid-murid yang sama dan tak berubah satu pun juga dan juga wali kelas yang selalu setia menjadi wali kami dari kelas 7. Tahun ini adalah tahun terakhir kami membuat onar hahah. Kelas kami ini terkenal dengan ributnya. Apalagi anak cowoknya ributnya minta ampun. Hampir sema guru tidak suka dengan kelas kami karena sangkin ributnya dan sudah dibilangi. Tapi aku yakin setelah kami semua lulus nanti, guru-guru pasti juga akan rindu sama kebiasaan kami di kelas hehe.

Seiring berjalannya waktu, ini lah saat-saat terakhirku berada di THM mengenakan seragam putih biru dan meninggalkan semua kenyamanan bersama teman-teman SMP. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dilewati dan tak kan pernah terlupakan. Masa putih biru sudah membawa banyak kenangan yang begitu indah dalam hidupku. Aku bisa bertemu dengan teman bahkan sahabat yang hadir untuk mengisi hari-hariku selama menjadi murid SMP. Begitu berat rasanya meninggalkan semuanya ini. Tapi seperti kata pepatah yang mengatakan  bahwa “setiap pertemuan pasti ada perpisahan”. Di mana aku sudah merasa nyaman, seneng sama kalian dan harus terpisah. Tapi inilah kenangan kita yang tak akan pernah terlupakan sampai kapanpun selama di SMP. Walaupun kita semua berpisah untuk mengejar cita-cita kita masing-masing, aku yakin kelak kita akan bertemu dan tak saling melupakan. (c)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru