Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026

Jul Frenki Sinaga Remaja Porsea Bertugas di Lebanon

- Minggu, 13 September 2015 16:41 WIB
850 view
Jul Frenki Sinaga Remaja Porsea Bertugas di Lebanon
Medan (SIB)- Dari sekian banyak personel tentara di bawah kendali Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) dalam misi menjaga perdamaian di perbatasan Israel-Lebanon, terdapat Jul Frenki Sinaga. "Semula saya pikir tugas tersebut biasa karena sebagai prajurit harus siap ditugaskan di mana saja. Tetapi, karena membawa misi perdamaian dan menunjukkan Indonesia cinta damai, ada kebahagiaan tersendiri," ujarnya di Medan, di jeda pameran alutsista dalam rangka pembinaan karakter mahasiswa untuk meningkatkan wawasan kebangsaan di Kompleks Auditorium USU Medan, Kamis - Sabtu, (10 - 12/9).

Jul Frenki di tempat itu tak hanya bersama sejumlah prajurit yang berada di Stand Polisi Militer I/BB tapi punya tugas bertukar pikiran dengan pengunjung yang mayoritas mahasiswa di daerah ini. Beda dengan yang lain, Jul Frenki memakai seragam PBB dan baret biru, khas United Nation.

Tidak mudah memakai seragam dimaksud. Jul Frenki memiliki uniform tersebut karena Indonesia mengutus pasukannya menggunakan seragam nasional masing-masing, plus baret biru PBB atau helm biru PBB dengan emblem PBB dan bendera nasional masing-masing di bahu kanan. Seragam demikian pun dipakai dalam kegiatan resmi. "Ada kebanggaan!"

Jul Frenki bertugas di Ebel el Saki,  UNP7-3 Marjayon. Lebanon mulai 2013 - Januari 2015 dengan tugas dan tanggung jawab menjadi polisi bagi militer yang berasal dari 35 negara. Selain bertugas menjadi penegak hukum bagi militer negara tetangga yang tergabung dalam misi perdamaian, pun memperkenalkan Indonesia. Tugas-tugasnya seperti menilang militer yang salah dalam berkendaraan, termasuk ketika melanggar aturan merokok dalam mobil. "Kalau dibanding dengan militer Indonesia, jauh lebih berdedikasi karena pasukan dari Indonesia adalah prajurit profesional sementara dari negara lain direkrut karena tentara di sana dari wajib militer."

Setelah menjadi anggota TNI, Jul Frenki dapat keliling Indonesia dalam rangka tugas dengan medan pengabdian seperti di Sibolga, Bukittinggi, Padang dan Medan. Lokasi terjauh berdinas adalah di Lebanon.

***
Jul Frenki Sinaga lahir di Pangombusan, Porsea, Tobasa, pada 7 Juli 1989, sebagai putra kelima dari tujuh bersaudara anak pasangan Bonar Sinaga - Kartini Sitindaon. Menimba ilmu di SD Indorayon, SMP Indorayon dan berlanjut ke SMAN 1 Porsea. Kualitas pendidikan yang didapatnya membawanya ikut SMPTN dan diterima di Fakultas Teknik Universitas Udayana Denpasar. Karena ingin mengabdi pada Negara Kesatuan Republik Indonesia, Jul Frenki memutus pendidikan hanya semester tiga dan tahun 2009 masuk TNI di Pematangsiantar berlanjut masuk Pusdik POM di Cimahi. Itonya, juga mengabdi di TNI sebagai Kowad dan kini Pembina SMAN 2 Plus Soposurung. Ketika ada seleksi untuk menjadi pasukan perdamaian PBB, Jul Frenki mendaftar meski pada orangtuanya sempat berbohong dengan alasan ke Mabes TNI untuk pendidikan. Tatkala dinyatakan lulus, menyampaikan kabar suka pada orangtuanya tapi dengan berat hati dilepas. "Soalnya, bertugas di daerah konflik bukan sesuatu yang membahagiakan orangtua tapi bagi saya keharusan!"

Benar juga, ketika berdinas di perbatasan kedua negara yang bertikai, pernah nyawa hampir melayang disniper tentara setempat. Ceritanya berawal ketika mendampingi kendaraan water tank milik Kontingen Spanyol untuk menyedot air di wilayah Bravo 82, Marjayoun, Lebanon Selatan. Penyedotan dilakukan karena warga Lebanon mengharamkan air yang mengalir dari wilayah Israel.

Dari cerita warga setempat, orang Lebanon tidak mau menerima air yang berasal dari Israel. Dalam cuaca yang cukup dingin dan sebelumnya turun salju, Jul Frenki ikut mengatur lalu lintas yang cukup ramai. "Jalur ini merupakan jalur panorama yang sering dikunjungi para wisatawan mancanegara maupun lokal," kenangnya tapi kala petang itu, saat mengawal, tiba-tiba dikejutkan adanya cahaya laser di badannya. Cahaya laser mengartikan dirinya dalam intaian penembak jitu.

Jul Frenki dan rekan dari Indonesia seketika bersembunyi dan menyampaikan hal itu pada militer Spanyol. Anggota dari negara Eropa Barat kemudian langsung menyelamatkan diri. Kepepet dan khawatir macam-macam, atas perintah pimpinan, Jul Frenki melambaikan bendera PBB dan melintas cepat. "Bila terlambat sedikit, mungkin sudah jadi korban sniper," kenangnya.

***
Menjadi salah satu pasukan perdamaian dunia, kenangnya, tak lain karena jasa orangtuanya. Kala masih di sekolah, orangtuanya memaksanya untuk les dan kursus bahasa Inggris. Dengan waktu yang mepet, meski mulanya agak terpaksa, dilakukannya. "Coba waktu itu saya tidak patuh, pastilah tidak terpilih menjadi salah seorang pasukan perdamaian di bawah naungan PBB." (R9/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru