Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat Ayub Tamba - Medan

Dari Trek Balap ke Penambal Ban

- Minggu, 27 September 2015 15:55 WIB
394 view
Dari Trek Balap ke Penambal Ban
Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna. Pepatah yang tepat untukku. Kala masih perkasa, semua hal kulakukan tak pernah berpikir panjang.
Kesenangan dengan sepeda motor kutuangkan dengan memodifikasikan fisik kendaraan. Tak cukup hanya bodinya tapi mengoprek mesinnya.

Pekerjaan dilakukan bersama tim. Meski bisa dilakukan hanya dengan membayar, tapi karena terus memodifikasi, aku jadi hapal hal-hal teknis. Semua peranti dalam sepeda motor kukuasai, mulai dari kompresi, heads dan porting, noken as atau kem, pengapian atau ignition dan lainnya. Termasuk hal yang lebih njelimet seperti rasio, setting karburator hingga setting sirkuit.

Muara dari semua itu adalah ikut balap. Selain di trek khusus di sirkuit adu cepat, juga beradu cepat di jalanan. Jika di arena balap, segala sesuatu dilakukan sesuai aturan tapi kalau di jalan umum, semua dikerjakan sesuai instinct.

Soalnya, tak hanya beradu kecepatan tapi harus punya perhitungan matang sebab kendaraan lain pun menggunakan jalan. Sensasi sebagai pemenang di jalanan justru berasa lebih bila dibandingkan memenangi pertandingan di arena balap resmi.

Setiap malam, balapan liar kulakukan. Tetapi, yang lebih enak jika malam Minggu atau malam menjelang libur. Siapa yang tak kenal dengan geng kami yang menguasai jalanan sepanjang aspal mulus kawasan Helvetia, perbatasan Medan - Deliserdang, Sumatera Utara.

Karena sudah hapal benar licin kasarnya jalanan, termasuk gelombang di tikungan jalan, aku bisa mengemudikan kendaraan sambil memicingkan mata. Tetapi  tidak kali ini.

Hari naas kudapati. Saat itu aku mengejar untuk menyervis kereta.   Memburu waktu, laju kendaraan kupacu. Ketika di simpang Zipur - PAB - Helvetia, kendaraan padat. Ada celah tepat di antara dua truk trailer. Kupacu sekencangnya.

Dari arah berlawanan, kendaraan serupa memacu. Laga kambing tak terelakkan. Aku terseret masuk ke kolong kendaraan 12 roda, sementara rekan dari arah berlawan nyungsep di bawah roda.

Entah apa yang terjadi selanjutnya. Yang pasti, badanku remuk dan stang jepit hasil modifikasiku menyucuk perutku hingga harus bedah berulang kali. Nyawaku memang terselamatkan, tapi hingga dua tahun pasca kejadian, kakiku masih dipasangi pen.

Kehidupan jadi berbalik 180 derajat. Dari hidup mewah sesuka hati menjadi manusia cacat. Untuk menyambung hidup, harus menjadi penambal ban karena untuk kerja formal tak punya ijazah. (q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru