Suara deru ombak kencang dengan semilir angin sepoi serta sang mentari jingga kemerah-merahan yang mulai kembali keperaduannya. Suara burung yang terbang sambil berkicau melewati pantai yang mulai sepi pengunjungnya. Namun sepertinya tidak pada orang tersebut. Rambutnya yang lurus menjuntai hingga batas sepunggung melambai-lambai tertiup angin dengan tatapannya hanya lurus ke depan dengan sorot sendu seperti ditinggal oleh orang terkasihnya. Tapi sepertinya memang begitu dengan pakaian formal hitam juga foto yang terus melekat di genggamannya menandakan bukti bahwa dia telah ditinggal oleh orang teristimewanya.
Dia terus berdiri tanpa menjauhkan kakinya yang terus dijilat-jilat oleh ombak laut. Hingga dia seperti tersadar dari lamunannya dan langsung pergi dari tempat tersebut tidak lupa dengan membuang foto yang tadi digenggamnya, tanpa melihat ke belakang lagi. Sekilas seperti ada perasaan ragu untuk tidak memungut gambar itu lagi, namun sepertinya dia lebih memilih melupakan masa lalu yang menyakitkan baginya.
***
Dia sampai di rumahnya yang terletak di sebuah kampung yang bernama. Di kampung tersebut dia terkenal cukup ramah dengan orang-orang di sana. Di rumahnya dia tinggal berdua dengan suaminya. Namun orang terkasihnya telah tiada dalam kecelakaan pesawat terbang. Kejadiannya dua pekan yang lalu.
Pesawat jatuh dikarenakan angin yang tidak stabil mengakibatkan burung besi tersebut oleng dan jatuh.
Dia duduk termenung sambil mengelus rambutnya. Seharusnya dia memberitahukan apa yang ada di fisiknya pada sore ini, namun apa yang mau dikata takdir berkata lain. Orang terkasihnya telah tiada untuk selama-lamanya. Namun entah mengapa sejak mendengar berita tersebut dia tidak pernah menangis. Jangankan menangis, mengeluarkan ekspresi lain saja seperti tidak bisa.
Tatapannya tetap datar dengan wajah pucat seperti seorang mayat yang baru saja kehilangan nyawanya. Suasana di rumahnya pun tetap sunyi. Kalau saja dia tidak menghidupkan lampu mungkin orang-orang akan menyangka kalau rumah tersebut tidak dihuni.
Sambil duduk termenung di depan TV dia terus menatap lurus ke depan tanpa arah yang dituju. Sambil menekuk kakinya dia mulai menenggelamkan wajahnya di antara kaki-kaki yang ditekuk berlipat tersebut. Capek dengan posisi seperti itu dia mulai membaringkan badannya di depan TV tersebut. Hingga dia mulai kelelahan dan tidur dengan sendirinya.
***
Matahari mulai menampakkan sinarnya, suara ayam yang berkokok membangunkan seorang wanita yang sedang terlelap dari tidurnya. Sambil membuka mata dia mulai bergerak untuk duduk. Dia melihat sekitar rumahnya ternyata memang benar orang yang dikasihinya telah tiada.
Percahan bekas kain kafan yang berlebih masih ada di dekatnya. Dia mulai berdiri sambil membersihkan rumahnya yang seperti kapal pecah. Dia sudah bertekad untuk keluar dari keterpurukannya.
Setelah membersihkan rumah dan dirinya, dia berniat ke tempat di mana orang-orang yang tidak mempunyai keluarga berada. Menurutnya mungkin karena dia sudah mulai melupakan Sang Maha Pencipta makanya Sang Pencipta mengambil orang terkasihnya, agar dia tetap berdoa, beribadah dan memohon ampun kepada Sang Pencipta.
***
Setelah sampai di panti asuhan dia mulai menyapa sang ibu panti asuhan dengan tak lupa juga beberapa oleh-oleh yang dibelinya waktu perjalanan menuju panti asuhan ini. Menurutnya tempat yang paling ingin dikunjunginya sekarang adalah panti asuhan. Ketika dia masuk ke dalam rumah panti asuhan tersebut ia langsung diserbu oleh anak-anak panti asuhan namun sepertinya seorang anak menyendiri di sudut ruang tamu tersebut.
Karena penasaran dia menjumpai ibu panti dan menanyakan tentang anak tersebut.
Anak tersebut ternyata ditinggal kecelakaan pesawat tahun lalu. Mendengar hal itu wanita tersebut terkejut. Dia berpikir ternyata ada juga orang yang bernasib malang seperti dirinya. Entah setan apa yang merasuki dirinya, dia mengatakan dia ingin mengasuh anak tersebut dia merasa dia harus dekat dengan anak tersebut.
Setelah mengurus segala keperluan yang perlu dibawa dia langsung pulang dengan membawa anak tersebut tak lupa juga dia berpamitan dengan seluruh penghuni panti. Selama di perjalanan dia mencoba mengajak bicara anak tersebut namun tidak ada jawaban dari anak tersebut seperti bicara dengan batu. Karena merasa percuma saja, jadi wanita tersebut diam sambil melihat jalanan di luar.
***
Hari-hari terus berlalu namun kehidupan mereka seperti tidak kenal sama sekali wanita tersebut terus mencoba mengajak bicara namun sama saja hasilnya tetap sama. Hingga pada suatu hari wanita tersebut melihat anak itu menangis dengan deraian air mata yang tanpa henti mengalir, melihat hal tersebut dia langsung memeluk anak tersebut dan mengatakan bahwa dia ada di sini untuk anak tersebut. Dari situ pulalah wanita tersebut mulai menangis untuk pertama kalinya semenjak suaminya meninggal. Dan untuk pertama kalinya pulalah anak tersebut memanggil wanita tersebut dengan sebutan ibu. Wanita tersebut awalnya kaget namun dia hanya tersenyum sambil memegang wajah anak tersebut. “Kamu kenapa menangis sayang, ibu ada di sini kamu tidak usah takut ya!â€
“Aku teringat dengan kedua orang tuaku, Mbak. Aku takut tidak ada lagi yang menyayangiku namun, melihat ibu yang sepertinya terus mencoba untuk dekat denganku aku merasa bersalah bu. Aku sadar tidak ada gunanya aku terus berdiam diri Mbak.â€
“Sayang, kamu memang anak Mbak, walaupun masih kecil pikiran kamu sudah dewasa tidak seperti Mbak. Terima kasih ya sayangâ€
Dan wanita itu menyadari tidak ada gunanya menangisi orang yang telah pergi meninggalkan kita, kita tidak hanya harus melihat ke masa lalu namun kita juga harus melihat masa depan, karena masa lalu tidak menentukan masa depan, namun masa lalu menentukan hari ini dan hari ini pasti akan menentukan masa depan. ***
(q)