Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Curhat

Di Doa Ibuku Namaku Disebut...

* Sofie Anna Sibaan - Padang Hijau, Sunggal - Deliserdang
- Minggu, 08 November 2015 17:05 WIB
387 view
Di Doa Ibuku Namaku Disebut...
Ibuku kuklasifikasikan sebagai perempuan terhebat di dunia. Ya... di jagad bumi ini. Selain sebagai suri rumah tangga, juga membantu ayahku memperkuat ekonomi keluarga. Ibu ikut dagang dan membuka komunitasnya sendiri guna memasarkan produknya.

Tiap hari, sebelum kami bangun, ibuku sudah terjaga. Biasalah, mempersiapkan sarapan dan segala keperluan kami, anak-anaknya.

Biasa juga ibuku tetap membangunkan anak-anaknya untuk Saat Teduh sebelum melakukan apapun. Tetapi, mohon maaf ya Tuhanku... aku paling sering tak ikut.
Soalnya, lagi enak-enaknya tidur, ibu membangunkan untuk berdoa bersama. Pasti menggangguku. Kalaupun memaksa bangun, tidak konsentrasi berdoa.

Seperti tadi pagi, ibu membangunku tapi kucuekkan saja. Anehnya, meski mataku tertutup, telingaku mendengar dengan persis apa yang didoakan ibuku.

Pasti aku tak salah mendengar. Ibuku mendoakanku dengan menyebut namanya secara berulang-ulang. Dalam doanya, ibuku minta padaNya agar aku dibimbingNya. Agar aku tidak terikut kawan-kawanku yang sekarang sangat mengkhawatirkannya.

Aku ingin berteriak. Kok ibu spesifik mendoakanku dengan perangai seperti statusku di Twitter dan Facebook. Sambil menikmati doa ibuku, aku berpikir sendiri. Ah, tidak mungkin ibu tahu jika tidak  mengikuti statusku di medsos.

Usai mendoakanku, ibuku bernyanyi dari Buku Ende. Suaranya begitu merdu tapi kali ini terganggu. Suara ibu tercekat tapi tetap memadahpujian bagiNya.
Pelan-pelan kubuka mataku. Kupastikan, ibuku menangis ketika menyebut namaku dalam doanya. Derai air mata itulah yang membuat suaranya terganggu.

Kupikir, apa yang kulakukan seharian tidak diketahuinya tapi kenapa ibu paham.  Aku jadi menyesali diriku. Air mataku pun ikut menitik.

Usai ibu berdoa, langsung kupeluk dari belakang. Pelukanku membuat ibu terkejut dan buru-buru menghapus air matanya. Aku mendahuluinya dengan meletakkan jariku ke pipi ibuku. Kuseka air matanya.

Sambil minta maaf dan berjanji  akan mengikuti semua arahannya, aku minta pada ibuku mengulangi doanya untuk kuikuti.

Pulang marminggu, aku membuat status di jejaring sosial. Ibuku pun membagi hal serupa di akunnya dan mendapat like dari kawan-kawannya. Aku sediha lagi.

Ibuku memang perempuan terhebat.
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru