Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat

Ciuman Terakhir Mamak

* Veronika Sitanggang (Kisaran)
- Minggu, 15 November 2015 14:58 WIB
370 view
Ciuman Terakhir Mamak
Saat teduh kali ini khusus untuk pahlawan hidupku, bapak dan mamak. Enam tahun lalu, bapakku dipanggilNya dalam usia 83 tahun. Ketika hendak tutup peti jenazah, mamak mencium suaminya.

Hal biasa dilakukan, tapi peristiwa tersebut adalah yang pertama kali aku melihat mamak menangis. Suer, selama hidupku, mamak tidak pernah kuketahui sesenggukan seperti itu. Jangankan menangis, bersedih saja tidak pernah.

Kami sepuluh orang bersaudara. Kedisiplinannya dalam hidup sangat ketat. Waktunya sudah dibagi secara rinci yakni berkarier sebagai suri rumah tangga dan istri yang baik. Tetapi, yang utama adalah untukNya.

Aku tahu betul, mamak tak pernah lupa melakukan saat teduh. Untuk memuliakanNya, kami semua dilibatkan. Tetapi, saat-saat tertentu, mamak berdoa sendiri di kamarnya. Jika sudah demikian, tidak ada satu orang pun berani mengusiknya. Kewajiban lain, mamak tidak pernah lupa menyisihkan perpuluhannya.

Aku heran. Entah dari mana sumbernya, tapi mamak tidak pernah melupakan tanggung jawabnya sebagai mahluk ciptaanNya. Kepada semua anak-anak, mamak tak pernah marah. Mungkin cara demikian pula yang membuat raut wajahnya tetap bersinar.

Kerut ketuaan sih ada, tapi tetap bercahaya. Di wajahnya sudah dipatri senyum ikhlas, yang sampai saat ini, sulit untuk kuikuti. Keikhlasan itu pula yang membuat mamak setara dengan wonder women bahkan the herois bagi kami.

Satu contoh, saat tertentu, bapak mengajak mamak makan di restauran. Anak-anak tak semua dibawa, tapi bergilir. Pulang dari jalan-jalan, mamak membawa makanan seperti yang disantap di rumah makan.

Bungkusan diletakkan di atas meja dan anak-anak yang tak ikut, langsung memakan. Setelah selesai, aku baru menanyai apakah mamak sudah makan. Mamak mengangguk sambil senyum tapi bapak bilang mamak belum makan.

Dari senyumnya, aku bisa menangkap bahwa mamak belum makan. Akhirnya, aku menyesal menghabiskan makanan tersebut karena mamak belum  makan. Tetapi apalah daya, semua sudah masuk ke perut.

Mamak juga seorang perawat idola. Pasien di RS Katarina Kisaran selalu berebut ditanganinya bila hendak disuntik. Soalnya, suntikan yang dilakukan mamak tidak sakit. Akulah salah satu penikmatnya. Aku ingat bila mamak menyuntikkan neurobion. Suntikan itu datang dari seorang perawat sekaliber mamak yang kerap dianugerahi perawat teladan.

Mamak juga perempuan yang menjunjung tinggi tradisi. Semua anak diajarkannya martutur termasuk marumpasa. Tak satupun persoalan anaknya dibiarkan berlarut, termasuk saat belajar.

Bila ngantuk, apalagi aku sudah mengajar privat les, mamak menyediakan waskom air hangat diaduk bersama garam. Kedua kaki kami dibasuhnya hingga mata  terbeliak dan nafsu belajar kembali terbangun.

Setahun setelah ciuman terakhir itu, mamak mengikuti bapak. Mamak menutup usianya dalam hitungan 80 tahun.

Usai saat teduh, aku memasak mi kuning. Hidangan tersebut menjadi favorit mamak dan selalu kuhidangkan di saat-saat terakhir usianya. Sekarang, tak dapat lagi kupersembahkan pada komandanku, bapak dan pahlawanku, mamak.

# RIP bapak mamakku. (r)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru