Terkadang aku merasa perjalanan hidup ini seperti aliran sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang terkadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut. Walaupun sulit dan melelahkan tetapi harus tetap dijalani. Aku tinggal di kota kecil yang selalu dipenuhi dengan keramaian yang sangat membisingkan.
Pagi ini aku bangun dari tidurku yang terlelap. Aku mandi, sarapan dan bergegas untuk pergi sekolah, di mana tempat aku mendapatkan sebuah ketenangan dan tak luput dari pelajaran. Berjumpa dengan kawan-kawan sepermainan. Aku mempunyai dua orang sahabat karib, bahkan sangat karib.
Namanya Tina dan Ayuk. Saking karibnya kami bertiga, orang lain sampai tidak suka dengan tingkah kami yang sering tertawa terbahak-bahak, terutama Niken, Lando dan Lany. Mereka bertiga selalu mengomel di saat kami bercerita dan tertawa satu sama lain.
“Tin jangan lupa yah! Nanti aku dan Ayuk datang ke rumahmu untuk mengerjakan tugas fisikaâ€.
“Iyah! Tapi jangan kesorean yah!â€.
“Okeh boss†seruku.
Lengkingan bel sudah terdengar dan aku bergegas pulang agar nanti ada waktu luang untuk mengerjakan PR fisika bersama Tina. Sesampainya di rumah aku mengerjakan tugas rumah sehari-hari dan bersiap untuk pergi ke rumah Tina.
Gemercik gerimis sudah mulai turun selembut sutra namun cukup membasahkan. Huft! Cuacanya mendung, mungkin sang raja siang enggan menampakkan diri,†ujarku dalam hati. Tapi semuanya itu tidak mengubah keputusanku.
Aku pergi dengan mantel hujan yang ditemani payung sambil merangkul beberapa buku dan alat tulis. Di sana aku berjumpa Ayuk yang hendak mengetuk pintu rumah Tina sambil memanggilnya.
Aku pun menghampiri Ayuk dan kami berdua memanggil Tina. “Tiin?â€
“Aku disamping!†teriak Tina dengan keras keserakan.
Aku dan Ayuk berjalan dari samping rumah dan menemui Tina berada di bawah pohon mangga.
Kami mendekati Tina dan melihat matanya berkaca-kaca. “Kamu kenapa Tin?â€.
“Aku gak kenapa- kenapa kok,†ucapnya sambil menghapus bening-bening kaca di matanya.
“Kamu gak usah bohong deh! Emangnya kita baru mengenalmu,†ucapku. “Udah deh, mendingan kamu beritahu kepada kami! kita kan bersahabat†sahut Ayuk.
“Kedua orangtuaku bertengkar lagi. Ayahku membentak ibuku kalau mereka akan bercerai. Aku tak tahan dan langsung pergi menjauhi merekaâ€.
Aku berusaha untuk menghiburnya dan Ayuk mengelus rambutnya sambil menghapus butiran air mata yang jatuh rumit.
Pelajaran pun kami gagalkan dan memilih untuk curhat bersama.
Setelah bercerita beberapa hal, aku dan Ayuk segera pulang dan meninggalkan Tina karena sang mentari jingga sudah mulai memperlihatkan kebolehannya setelah beberapa saat gerimis turun.
* * *
Kami melanjutkan cerita kami pagi ini di sekolah. Dengan keadaan yang sudah menenangkan kami berusaha untuk mencari solusi dari semua perkara ini.
“Tumben bercerita dengan hening! Biasanya satu kelas ini dipenuhi tawa kalian bertiga,†sindir Lany secara halus.
“Kalau kau ingin mencari masalah, mendingan pergi menjauh sana! Daripada ada pertikaian nantinya,†ucap Ayuk dengan tegas. Lany pun menjauhi kami.
Keesokan harinya Tina tidak mengikuti pelajaran hari ini tanpa alasan yang jelas. Padahal hari ini pembagian kelompok biologi dalam pengamatan berfotosintesis.
“Apa?, Aku satu kelompok dengan Lany! OMG, kenapa sih?. Teriakku dalam hati dengan sangat kesal. Dengan ini membuatku seakan malas dalam melaksanakannya.
Di hari berikutnya Tina juga tidak datang. Aku pun bertanya-tanya dalam hati. Dan siang ini aku mendapat kabar dari Ayuk kalau Tina sedang “broken homeâ€. Kedua orangtuanya bercerai dan Tina entah bagaimana tujuan hidupnya. Sejak hari itu Tina tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya dan hubungan persahabatanku dengan Ayuk sudah mulai pudar.
Di saat giliran kelompok kami melakukan presentase, Lany menjelaskan mengenai bagaimana tumbuhan yang berklorofil mendapatkan makanan dari sinar matahari. Aku pun memperhatikan dia berbicara, semakin lama aku memperhatikannya, aku melihat ada sosok ternilai yang tersembunyi di dalamnya. Seakan membuatku ingin mengenalnya lebih dalam lagi. Aku melihat kalau Lany memiliki kemampuan spiritual dan mental di dalamnya yang dapat membuatnya tenang dalam menghadapi masalah, sehingga ketertarikanku dengan Lany semakin hari semakin bertambah saja. Persahabatanku dengan Ayuk putus tiba-tiba di saat dia sudah mengetahui dengan mata kepalanya sendiri bahwa aku semakin akrab dengan Lany hari demi hari. Saat itu juga aku mengingat perbincanganku dengan Tina di belakang Ayuk bahwa Ayuk adalah orang yang peramah dan pemarah.
Semakin lama aku mengenal Lany, kami berdua semakin akrab saja. Setiap melakukan sesuatu hal, kami selalu bersama. Urusan tugas tak ada sedikit pun yang terlewatkan. Dan seperti ada rasa yang tak biasa di saat bersama dengan Lany.
“Lany! Jangan lupa yah! Nanti tunggu aku di taman sekolahâ€.
“Mau ngapain sih? Kalau hanya mau cerita mendingan besok ajah!â€.
“Penting! Pokoknya kamu datang ajah yaâ€.
“Hm. . Iya dehâ€.
Setelah pulang sekolah, aku langsung pergi menuju taman sekolah. Aku melihat Lany duduk di kursi taman. Tanpa basa-basi aku langsung mendekatinya.
“Maaf lama nunggu!â€.
Dia merespon apa-apa sama sekali. “ Kamu nggak marah kan padaku?â€.
“Ehem! enggakâ€.
Setelah beberapa saat hening, aku mencoba untuk mengambil nafas tenang. “Sebenarnya, aku hanya mau bilang kalau aku sayang sama kamu dan aku ingin memperdalam kisah kita,†ucapku dengan serius. Awalnya wajahnya mengeluarkan ekspresi kebingungan tetapi perlahan-lahan dia mulai senyum dan tertawa.
“Are you seriously?â€.
“Yes, and I’m really love you!â€.
Kupegang erat tangannya dan kami berdua tertawa. Aku bahagia saat itu. Tanpa sadar, aku melihat Ayuk mengintip kami berdua dari sebuah bunga dan dia langsung pergi menjauhi kami. Aku tahu perasaan Ayuk saat itu. Dan mungkin dia telah menganggapku tidak lebih dari sekedar pengkhianat. Tetapi kubiarkan saja. Dan biarlah yang berlalu tetap berlalu. Dan yang penting, aku membuka lembaran baru dan hari ini kami resmi menjadi pasangan kekasih.
Terkadang aku berpikir, jika bersahabat terlalu akrab, maka akhirnya akan berantakan juga. Dan sama saja bagaikan tumbuhan yang berklorofil menerima cahaya matahari untuk membuat makanan dan jikalau cahaya itu terlalu banyak, maka bunga itu sendiri akan layu.
(d)