Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Curhat

Suatu Senja dalam Kisah Kasih di Sekolah

* Hotmarulitua Siagian, SMA N Pematangsiantar
- Minggu, 22 November 2015 16:50 WIB
273 view
Suatu Senja dalam Kisah Kasih di Sekolah
Aku mengenalnya sebagai pria bersahaja. Sungguh. Ia tergolong sederhana, meskipun sebenarnya keluarganya dari kelas terpandang. Orangtuanya masuk dalam golongan kaya. Setidaknya menurut ukuranku.

Aku memanggil dengan nama gaulnya, Boy. Sebenarnya namanya panjang, sepanjang hartanya. Beda dengan aku yang datang dari keluarga pas-pasan. Miskinlah. Untuk membantu biaya sekolah, aku ikut berniaga. Membawa jajanan dan jus ke sekolah. Konsumennya rekan-rekan sekelas. Sahabatku bilang adonan makananku lezat, mengalahkan buatan kantin sekolah.

Dari sisi harga, lebih murah. Itu pula yang membuat rekan lain di luar kelas, ikut-ikutan memesan kuliner buatanku. Untuk keberhasilan ini, aku berterima kasih pada Boy. Soalnya, selain ikut menikmati kuliner olahanku, Boy pun yang memromosikan pada sesama siswa di lain kelas. Boy bahkan tidak sungkan membantu mengutip uang daganganku.

Terus terang, meskipun nyaman dengannya, aku jadi sungkan. Sama sungkannya untuk menanyakan kenapa belakangan ini Boy berubah tingkah denganku. Ia tidak ramah lagi. Setelah kuselidiki, kupastikan ia sudah tertarik dengan perempuan lain, rekan sekelas. Wanita itu datang dari keluarga mampu. Mungkin, samalah kekayaannya dengan harta orangtua Boy.

Aku jadi introspeksi diri. Apakah selama ini aku salah memandang Boy sebagai teman dekat. Ya, mungkin aku terlalu ge-er dengan perasaanku saat ini. Disebabkan pertimbangan itu, aku mencoba ikhlas jika Boy berpindah hati dengan rekanku yang lebih kaya. Apalagi kudapat informasi, Boy ternyata selama ini cuma kasihan padaku. Bukan sayang.

Meski aku mencoba ikhlas, ketika kulihat mereka berdua di kantin, hatiku seperti teriris. Luka itu makin dalam saat aku mendengar mereka tertawa berdua. Dengan hancur, aku mengurungkan langkah untuk menemui mereka. Cepat-cepat aku berlari ke rumah, minta padaNya agar aku kuat. Aku berharap, Boy tidak menjauh dariku meski rasa istimewa di hatinya atasku, sudah tidak ada.

Suatu sore, saat Boy berduaan dengan rekanku, kuberanikan menemuinya. Saat kumendekat, Boy terperanjat. Aku langsung menjulurkan tangan dan merangkul mereka berdua. Berat sekali terucap dariku memberi selamat. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru