Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Cerpen

Selembar Halaman Istimewa

* Karya Juli Elisabet Gurning- SMAN 4 Pematangsiantar
- Minggu, 22 November 2015 16:54 WIB
428 view
Selembar Halaman Istimewa
Ketika senja telah memasuki gerbang malam yang telah terbuka lebar seakan ingin meneriaki si penu lis agar meninggalkan senja itu. Si penulis pun seakan mendengar teriakan senja tersebut dan akan menurutinya. Kebiasaan selama dua pekan dilalui dengan melamun, menggali inspirasi. Masuk ke rumahnya yang gelap untuk ukuran sekarang, si penulis duduk di sofa sambil mengambil beberapa novel sastra dari kamarnya dan juga beberapa pensil yang kurang lebih berukuran 10 cm lengkap dengan penghapus juga rautan kayu yang selalu digunakan, dirawat dan disimpannya setelah kurang lebih 15 tahun.

Kali ini disapunya seisi ruangan seperti hendak menumpahkan kekesalan hatinya. Diambilnya kotak hitam tua yang disimpan di almarinya. Di dalam kotak itu diambilnya sebuah buku yang sangat tebal, kira-kira 15 cm. Buku itu adalah buku pertama dari puluhan buku yang sudah ditulisnya. Tidak sadar, satu persatu air mata si penulis pun jatuh, ia mengenang waktu saat menulis buku dimaksud. Di buku itu tertulis semua kenangan manis maupun pahit bersama abahnya, yang selalu menemani kehidupannya yang kurang lebih ditulisnya selama 15 tahun.

Perlahan-lahan dibaca dan buka. “Pada hari ini, Selasa 22 Juli-1975 aku mulai menulis, dan aku berjanji untuk memberi kejutan pada abah dengan memberi buku ini padanya pada tanggal 22 Juli-2000 tepatnya pada hari ulang tahunku yang ke 25 tahun, aku berjanji tidak akan memperlihatkan ini kepada abah sebelum waktunya, aku berjanji akan merahasiakan ini kepada abah, aku berjanji supaya menjaga selalu abah, bersama abah, selalu baik suka maupun duka, dan intinya aku harus membaca ini sebelum menulis lembaran-lembaran ini”.

Di buku tersebut si penulis menuliskan setiap hal yang dialaminya bersama abahnya setiap hari. Sewaktu si penulis kedatangan bulan lahirnya yaitu pada hari ulang tahunnya, tepatnya pada umur 10 tahun di tanggal 22 Juli 1985, abahnya memberikannya sebuah buku yang amat tebal sebagai hadiah ulang tahunnya, kala itu dia sangat jenius, anak yang gemar membaca dan menulis, tapi sayang kehidupan mereka yang serba kekurangan tidak cukup untuk bisa menyekolahkannya. Setiap hari, pukul 09:00, si penulis menuliskan apa saja yang dilakukannya dengan abahnya dalam 1 hari tersebut. Si penulis menuliskan tulisannya itu minimal 3 paragraf dalam sehari, 21 paragraf dalam seminggu, 84 paragraf dalam sebulan, 1008 paragraf dalam setahun dan kurang lebih 15.000 paragraf dalam kurang lebih 15 tahun.

Si penulis sejak lahir menderita cacat fisik yaitu buta mata sebelah kanan. Setelah si penulis mulai menulis buku tebal itu, si penulis menjadi lebih rajin menggoreskan pensil-pensil hitamnya ke atas kertas putih, abahnya sering membelikannya bukubuku kosong yang murah lengkap dengan penghapus putih, dan rautannya dibuat secara langsung oleh tangan abahnya. Satu kali dalam seminggu si penulis menuliskan cerita-cerita dongeng, cerita-cerita khayalan, dan masih banyak lagi bukubuku mahal yang ditulis oleh tangan kecilnya pada masa itu. Buku-buku yang penuh dengan imajinasi itu, dia simpan selalu di bawah tikar yang menjadi alas peristirahatannya dengan abahnya di kala badan lelah dan ngantuk. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya ia menuliskan novel yang berjudul Aku Mencintai yang Tidak Kulihat yang semua menceritakan tentang ibundanya yang telah tiada. Ia berjalan menuju makam yang namanya bertuliskan Maya Erika.

Ia duduk di makam itu dan berdoa lalu menggali lobang di makam itu berdiameter kurang lebih 20 cm. Lalu di lobang tersebut dimasukkannya novel yang indah yang sudah ia tulis. Selesai melakukan hal tersebut, ia kembali berdoa. Kembali ke rumah, ia menemui abahnya. Si penulis merasa sangat curiga dengan isi plastik yang digenggam abahnya. Dengan penuh pertanyaan si penulis ingin membuka plastik tersebut dan sesaat si penulis membuka plastik berwarna biru tersebut, dia menemukan obat-obatan yang banyak dan si penulis sangat bingung. Ia tidak mengerti obat apa saja itu. Berminggu-minggu berjalan, si penulis menjalani hari-harinya menjadi buruk dan mereka semakin miskin.

Abahnya sangat lemah, abahnya hanya bisa terbaring di tikar sementara dia harus kerja menjadi bertambah kesibukannya dalam menulis karena sudah sangat banyak kopian novelnya yang terjual untuk keperluan maupun kebutuhan mereka berdua. Tiga tahun berjalan dia menjadi banyak dikenal orang oleh karena tulisan-tulisannya yang sangat luar biasa itu. Akhirnya dia memiliki cukup uang untuk membawa abahnya cek kesehatan ke Rumah Sakit. Dan betapa teririsnya hatinya ketika si penulis tahu bahwa abahnya menderita penyakit radang selaput otak dan penyakit tersebut adalah salah satu penyakit yang sangat-sangat sulit untuk disembuhkan. Si penulis terus berusaha keras atas kesembuhan abahnya dari penyakit yang amat sangat ganas itu. Si penulis tiap hari menjadi sangat sibuk dan dia sudah sanggup mengobati ayahnya ke segala rumah sakit. “Abah....abah harus janji ya, akan selalu menjadi temanku, sahabatku, pendampingku hingga aku sukses.

Kita harus menjalani suka dan duka bersama-sama. Aku akan selalu berada disampingmu abah. Aku akan berusaha kesembuhan abah,” ucap si penulis sambil mengerat tangan abahnya dan menatap mata abahnya dengan penuh kasih. “Ia Nak, abah janji akan selalu bersamamu, akan selalu mendampingimu, dan supaya kau tahu nak...Abah tidak merasa kesakitan, kau tenang saja putraku!” Setahun setengah kemudian, abah si penulis tidak sanggup lagi menahan penyakit yang sangat berat itu pun pergi menyusul ibunda dari si penulis menghembuskan nafas terkhir. Itulah yang membuat si penulis menjadi kehilangan hasrat untuk berbuat apa-apa. Ia sangat terpukul dan hampir menghancurkan harapan hidupnya dan janjinya kepada dirinya supaya memberikan buku tebalnya tentang sejarah kehidupannya dengan ayahnya selama 15 tahun si penulis menulis.

Di saat si penulis selesai membaca halaman terakhir, ia menemukan sebuah tulisan tangan pada halaman terakhir yang bertuliskan: “Nak, abah sudah membacanya ya nak, terima kasih sudah membuatkan buku tebal yang luar biasa ini kepada abah, abah sangat sayang padamu nak. Walaupun kamu tidak memberikannya secara langsung, ini sudah lebih dari apa yang kamu harapkan, jadi jangan sedih. Mungkin abah sudah tiada saat kamu membaca tulisan ini, tapi ingat, abah selalu ada di hatimu selamanya. Jangan sedih lagi, supaya abah tidak sedih di sini. Dan maaf ya nak, diam-diam, ketika abah mencari obat di lemari, abah menemukannya di dalam lemari dan mengambilnya. Semoga kau juga menyayangi abah di sana. Salam Abah tercinta.” Seketika si penulis memeluk erat buku tebal itu sambil menangis haru menggunakan matanya dan mata abahnya yang diberikan abahnya dahulu. Dan halaman terakhir buku itu lah, sebagai halaman terakhir istimewa dalam hidupnya selama-lamanya. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru