Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026

Riset Anak Indonesia Ubah Obat Merah Jadi Bening Raih Perunggu di Korsel

- Minggu, 06 Desember 2015 22:01 WIB
370 view
Riset Anak Indonesia Ubah Obat Merah Jadi Bening Raih Perunggu di Korsel
Seoul (SIB)- Punya hobi eksperimen sejak masih duduk di taman kanak-kanak membuat Muhammad Hilal Ariq (11) berjaya di dunia internasional. Bocah yang kini masih menjadi siswa kelas 5 SDN Pedurungan Tengah 02 Semarang itu menyabet dua medali dalam ajang World Creativity Festival (WCF) 2015 di Korea Selatan.

Medali perunggu didapatkan dari eksperimennya berupa tes kandungan asam menggunakan cairan mengandung iodin dan cairan asam. Hilal awalnya membaca buku yang memperlihatkan proses cek karbohidrat pada nasi dengan meneteskan iodin yang terkandung dalam obat luka atau yang dikenal dengan obat merah. "Awalnya itu dari baca buku, jadi meneteskan iodin ke nasi dan nasi berubah jadi ungu karena mengandung karbohidrat," kata Hilal  di sekolahnya, Sabtu (5/12).

Karena penasaran, ia mencoba-coba mencampurkan iodin dengan berbagai bahan dan ketika dicampur air jeruk lemon ternyata air cairan iodin menjadi lebih jernih. Hilal pun segera mencari tahu alasan kenapa air iodin menjadi jernih. Setelah itu dibantu guru pembimbing dan dosen sains, Hilal maju ke Korea Selatan dengan hasil eksperimennya itu.

"Coba pakai lemon kok ternyata jadi bening, terus cari tahu kenapa reaksinya begitu. Eksperimennya sekitar sebulan. Sudah tiga kali eksperimen," tandas siswa kelas 5A itu.

"Ini fungsinya untuk tahu kadar asam, jadi semakin bening iodin-nya maka semakin besar kandungan asamnya. Selain itu bisa buat sulap juga, hehe," imbuhnya.

Untuk bisa ke ajang WCF 2015, Hilal harus berusaha memenangkan lomba sains mulai dari tingkat Kecamatan hingga Nasional. Dalam Olimpiade Sains Nasional 2015 di Yogyakarta bulan Maret lalu, Hilal memperoleh medali emas hingga akhirnya berlanjut ke ajang internasional. Oleh Kemendikbud, Hilal dipasangkan dengan siswa SDN 1 Randegan, Banjarnegara bernama Muhammad Iqbal Alviansyah untuk kolaborasi bakat sains dan seni.

Di Korea, Hilal dengan lancar mempersentasikan eksperimennya menggunakan bahasa Inggris walau sempat terkendala masalah teknis macetnya video persentasi. Sedangkan rekannya Iqbal yang andil dalam bidang seni membantu persentasi dengan seni pantomim. Hasilnya juri memberikan apresiasi karena bisa membuat penonton terhibur.

"Kolaborasi dengan teman, dia bisa pantomim, bagus, lucu. Penampilan sebelumnya pada diem, pas kita tampil semua ketawa. Kata juri tim ini yang paling lucu. Kita pas di sana juga pakai jas batik kembaran," ujar putra ketiga pasangan Ludy Bustomi (46) dan Richa Sulfiyanti (45).

Selain medali perunggu, Hilal yang juga pintar menggambar itu mendapatkan medali emas kategori "The Winner of In-Contest Problem". Dalam kategori tersebut Hilal membuat logo untuk WCF 2016 dan terpilih menjadi salah satu yang terbaik.

"Yang individu dapat emas. Buat logo, kemungkinan logonya dipakai buat lomba tahun depan," jelasnya.

Kepala SDN Pedurungan Tengah 02, Sutikno mengatakan pihaknya hanya memberikan dukungan motivasi dan pelatihan karena ajang di Korea tersebut didampingi langsung oleh Kemendikbud. Namun pihak sekolah juga sudah berusaha memberikan bantuan hingga bisa memenangkan OSN 2015 di Yogyakarta. "Sekolah hanya memberikan motivasi, yang bawa Kemendikbud. Setelah ini untuk hak paten kayanya enggak ya, soalnya ini bahannya sederhana, yang penting ilmunya," kata Sutikno.

Tertarik Sains Sejak TK
Bagi Hilal, sains merupakan hal yang menarik untuk didalami. Bahkan sejak kecil ia sering melakukan eksperimen atau pengamatan di lingkungannya. Beda dari anak biasanya, saat TK Hilal lebih tertarik untuk membeli kompas atau kaca pembesar daripada mainan, bahkan saat menginjak SD ia meminta dibelikan mikroskop. "Dari TK sudah suka. Kalau jalan-jalan sama ibu belinya kayak kompas atau kaca pembesar," paparnya.

Bahkan saat ini ia punya semacam laboratorium kecil untuk eksperimen di rumahnya di Jalan Mahesa Barat I nomor 32, Pedurungan Tengah, Semarang. Ia punya cita-cita mengembangkan sains untuk membantu manusia. "Sains itu mudah, menarik, dan dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Saya cita-citanya ingin jadi ilmuwan," ujarnya.

Guru pembimbing, Siti Alfi mengakui bakat sains yang ada pada Hilal. Bahkan para pembimbing tidak mengalami kesulitan saat mengarahkan Hilal ketika bereksperimen.

"Kesulitannya tidak terlalu, soalnya anaknya passion-nya di situ, mengarahkannya mudah," pungkas Siti Alfi. (T/detikcom/R9/f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru