Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026

Anita Edita Manullang, si Pencerah Remaja di Daerah Terpencil

- Minggu, 13 Desember 2015 19:43 WIB
416 view
Anita Edita Manullang, si Pencerah Remaja di Daerah Terpencil
Medan (SIB)- Selama Desember 2015, tiap hari Pdt Anita Edita Manullang STh mengadakan dan mengikuti perayaan Natal bersama rakyat. Tetapi yang paling membahagiakan hatinya ketika menjadi penyelenggara pesta peringatan kelahiran Sang Penebus Dosa Dunia di Pos Pelayanan Gereja Kristen Injili di Indonesia (Gekisia) Lau Dendang Deliserdang. "Selain warga tumpah ruah, yang hadir pun dari lintas agama. Remajanya sangat menikmati. Terpujilah namaNya," tegas perempuan imut tersebut usai Ibadah Perayaan Natal Gekisia Jemaat Medan, Jumat, (11/12), didampingi Frans Sianipar, jemaat Gekisia yang baru tiba dari Dubai.

Rasa syukur kebahagiaan Pdt Anita Manullang semakin tinggi karena perayaan Natal di daerah pesisir tersebut pun menjadi perekat kebersamaan di tengah perbedaan. Kenyataan tersebut terwujud setelah 17 tahun tanpa henti menyebar kabar kesukaan. "Kejadian itu menjadi penyemangat remaja lintas agama dan lintas etnis bahwa perbedaan adalah indah," lanjutnya. "Selama ini, khususnya di lingkungan kami itu, perbedaan selalu diperuncing hingga menjadi bibit sentimen negatif!"

Pdt Anita Manullang datang ke daerah tersebut membawa missi memberi pencerah pada generasi muda. Selain mengembala dalam bendera Pos Pelayanan Gereja Gekisia, ia seorang guru di daerah yang jauh dari keramaian kota. "Meski di daerah yang katanya terpencil, kami justru bahagia dan merasa ramai dalam sukacitaNya," ujarnya.

***
Lahir di Doloksanggul pada 14 Maret, Anita Manullang semula tak mencita-citakan diri untuk jadi pelayanNya. Menimba ilmu di sekolah negeri di daerah kelahirannya hingga melanjut ke PGA Medan serta konsentrasi theologi di STII Medan. Jadi guru adalah profesi mulia. Begitu selesai pendidikan kesarjanaan, langsung diterima mengaplikasikan ilmunya di Perguruan Karya Bunda Lau Dendang Deliserdang.

Profesinya menuntut bersentuhan langsung dengan generasi muda. Kadang, karena ingin membantu orangtua di ladang bahkan ke laut, anak didik tidak ke kelas. Di situlah Anita Manullang membujuk agar memprioritaskan pendidikan. Jika masih berbenturan dengan waktu, ia siap mengajar dan membimbing di luar jam belajar formal. Kekesalan selalu muncul sebab anak didik kadang lebih tertarik ke dunia digital seperti main game. "Dalam tiap aktivitas, saya terus mengandalkan Yesus untuk kekuatan dan keberhasilan," ceritanya. Dengan kekuatan itulah sentimen negatif masyarakat yang kadang berubah jadi sinis dapat dihalaunya. "Awal-awal menerima sinisme, saya sedih. Apalagi fanatisme sempit itu kadang menjurus fisik. Tetapi saya fikir, Yesus saja pun disakiti...apalagi saya yang manusia biasa!"

Lama-kelamaan, sejak tahun 1998 fokus mencerahkan masyarakat, khususnya anak dan remaja,kini berbuah bahagia. Disebabkan metode pendekatan pada warga dengan sistem entertain, banyak yang bilang Pdt Anita Manullang seorang artis. Soalnya, ia tak segan bernyanyi bersama remaja-remaja yang nongkrong di komunitas di luar jam dinas. Nyanyiannya lagu sekuler tapi syairnya digubah memuliakanNya.

Dasar dari perjuangan tersebut kan kasih. "Keyakinan saya kan berlandaskan kasihNya. Kasih itu lemah lembut dan apapun outputnya pasti kebahagiaan. Sekarang kami sama-sama bersorak memuliakanNya," tutup perempuan yang kini hampir menyelesaikan pendidikan pascasarjana di III Batu Malang, Jawa Timur itu. (R9/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru