Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Curhat

Cuma Sebentar

* Kevin - Ardi - Andreas SMAS Methodist 2 Rantauprapat
- Minggu, 13 Desember 2015 19:45 WIB
450 view
Cuma Sebentar
Aku mungkin bukan anak terbaik di dunia tapi aku ingin menjadi bagian dari kelompok yang bagus. Banyak sih keinginan orangtua yang tidak kusuka tapi— demi memegang teguh prinsip dan ingin menjadi the best — kulakukan juga.

Misalnya, ketika aku punya agenda sekolah namun karena dimintai mengerjakan pekerjaan rumah, instruksi orangtua yang kudulukan. Saat janjian malam Minggu sama kawan-kawan, tiba-tiba orangtua minta aku mengantarkannya ke persekutuan doa, semua agenda jadi batal. Kawan-kawan kemudian mengejekku bahkan menjauh dariku. Aku cuek. Kupikir, inilah yang terbaik dari seorang anak. Soalnya, mencari kawan gampang tapi kalau orangtua kan cuma satu di dunia ini.

Bagiku, apapun yang dilakukan anak pada orangtuanya, pasti belum tertutupi besarnya pengorbanan orangtua pada anaknya. Kan ada pepatah, kasih orangtua sepanjang hayat, kasih anak cuma sepotong daging tersayat.

Tetapi, untuk yang satu ini, aku  menolaknya. Aku dikenalkan pada seorang anak, yang baru kuketahui sebagai famili. Anak itu tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia.

Demi mengakrabkan persaudaraan, aku diminta ke ibu kota negara semenanjung tersebut. Enak sih... ke luar negeri gratis. Soalnya, dibiayai oleh famili tersebut. Sesampai di sana, aku diperlakukan seperti tamu terhormat.

Tetapi, sekali lagi tetapi... aku kurang suka dengannya. Familiku itu seorang manusia yang tidak setipeku. Sudah kukatakan, aku ingin menjadi anak terbaik, yang hidup dalam lingkup adat dan budaya timur.

Kami memang sama-sama satu rumpun tapi familiku tersebut terbiasa dengan kehidupan west. Gak adil pula mengatakan kalau kebudayaan dari barat sono tak baik karena ada juga yang cocok namun familiku ini punya sifat yang melebihi kebiasaan orang-orang beragama. Ia menganut kehidupan bebas tanpa batas.

Hanya saja, semua pergulatan hatiku itu tak kusampaikan pada orangtuaku. Satu cara yang kuambil, aku tetap saja menolak untuk pergi lagi bertemu dengannya meski diongkosi.

Orangtuaku mencari akal. Kini dia yang hadir ke kampung halamanku. Meski datang jauh-jauh dari Malaysia, aku menghindar. Orangtuaku jadi marah karena sikapku. Aku tetap menolak bersua dengannya. Meski dipaksa oleh orangtuaku untuk bertemu dengannya, aku menolak. Aku tak mau bertemu meski cuma sebentar. Suer...

Ingin sekali aku berterus-terang tapi aku takut orangtuaku marah padanya. Mungkin, tak sampai hanya pada marah... karena bisa jadi orangtuaku memutus hubungan persaudaraan.

Jika pembaca dalam posisi diriku, apa yang harus kulakukan?
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru