Tidak pernah ada kata cinta yang terucap. Semua seakan sengaja disimpan rapat karena angin semilir selalu membisikkannya bersama detik-detik waktu yang berjalan dan udara juga telah merekamnya dengan sempurna. Itulah sebabnya aku tak pernah memaksa agar dikatakannya. Aku sudah cukup merasakannya mengalir sampai ke tandas tulang dan membelai sampai ke lubuk jiwa yang terdalam.
***
"Kala itu kamu sedang patah hati loh, dan itu berarti aku datang di saat yang tepat."
Dia sangat bahagia mengatakan itu, jelas sekali tergurat di wajahnya. Aku hanya mencoba mengingat sejak kapan aku mulai menyukainya, sejak kapan aku mulai mencintainya. Semua berjalan secepat kilat. Satu hal yang kutahu adalah bahwa saat ini aku terlalu membutuhkan dia. Aku adalah bunga layu tanpanya. Suaranya adalah siraman rintik hujan yang menyegarkan. Melihat wajahnya adalah obat manjur dengan dosis yang pas.
Dia bukanlah tipe pria romantis seperti yang kuminta kepada Tuhan dalam doaku. Namun, aku menyadari bahwa aku mencintainya saat aku mulai membenci dan berusaha mengusirnya.
Lama aku memikirkan pertanyaannya. Itulah pertanyaan yang saat ini sedang kucari jawabannya. Pasalnya perasaanku masih berontak saat mulut mengatakan aku tidak mencintainya. Ini saat pertama aku tak bisa membohongi hati. Semua rasa yang dulu pernah kumiliki telah kukikis dan benar-benar tercabut sampai ke akar-akarnya. Hanyalah dia kini yang mengisi seluruh relung dalam jiwa.
"Dijawab dong, emang sekarang belum cinta ya?"
Aku hanya menimpalinya dengan senyum.
"Kalau hati sudah mantap, kenapa kita gak menikah ya Nad?"
Oh my God, aku seketika terkesiap mendengarkan kalimat yang tidak terduga itu dan berusaha mengumpulkan semua kata yang menggantung di udara untuk dirangkai menjadi kalimat-kalimat yang tidak akan terdengar konyol olehnya.
"Apaan ngajak nikah begitu, romantis sedikit loh."
Dia tidak menjawab.
"Nada, aku cuma punya sekeping hati, separuhnya telah kuberikan untukmu saat kusadari ada sebuah rasa yang berbeda tumbuh selama aku bersamamu.
Kalau kamu menolak entah apa yang kulakukan. Ke mana harus kucari belahan jiwa yang sudah retak? Masih maukah kamu mengembalikannya tanpa harus membuatku kecewa?"
"Aku gak bisa jawab sekarang. Bisakah kuberi jawaban bulan depan?"
"Bulan depan? Apa terlalu sulit pertanyaanku ya, Nad sampai kapan kamu membutuhkan begitu banyak waktu untuk menjawabnya."
Baru kali ini dia ngotot seperti itu dan mau tak mau emosi pun menyeruak sampai ke ubun-ubun dan dengan nada sedikit meninggi kujawab dia dengan tegas.
"Kalau memang gak bisa nunggu lagi yau dah gak usah ditunggu."
"Gak usah pake emosi Nada. Kita masih punya banyak waktu untuk mendiskusikannya ya. Jangankan satu bulan, satu tahun lagi pun aku akan menunggu."
"Kamu tahu gak, banyak hal yang menjadi alasan aku gak bisa menjawab pertanyaan ini."
***
Setelah sekian lama aku mengembara, mencari jawaban akan hati ini, akhirnya, kuputuskan akan berlabuh di hatinya. Jurang itu telah kami seberangi bersama dan semua benteng penghalang kami daki dengan bergandeng tangan. Begitulah cinta, dia memiliki kekuatan tersendiri. Aku bahagia karena menomorsatukan Tuhan dalam hidupnya. Baginya cintaku dan diriku adalah nomor dua. Dia meminta agar aku melakukannya juga karena suatu saat kami bisa saja saling menyakiti tanpa harus melukai. Jadi, dasarnya haruslah cinta kasih yang tanpa tepi seperti kasihNya.
Hatiku merasa siap dan mantap untuk bersanding dengannya. doa-doa yang selalu dikirimnya telah mengikis semua ragu yang sengaja kubekukan. Lewat angin dititipnya sejuta warna rasa yang telah kupintal menjadi sebuah cinta yang teramat dan kutata dengan saksama di relung-relung hati yang masih tetap sengaja kukosongkan.
***
"Mak, aku telanjur memakai hati untuknya. Aku terlalu mencintai dia Mak."
"Kalau masih ada yang lain, yang lainlah. Pikirkan masa depanmu!"
Wajah itu tampak jelas mengguratkan penolakan dan nada itu juga seakan mau berteriak untuk mengatakan agar aku tidak menikah dengannya. Tubuhku kaku, tapi hatiku tak henti berdoa agar hati mereka dilembutkan.
"Kasih dia kesempatan untuk membuktikan bahwa dia akan membahagiakan aku Mak. Aku berharap izin dan doa Mak."
***
Kumantapkan hati untuk memulai semuanya. Aku yakin dengannya ada satu kebahagiaan yang takkan habis. Harta bukanlah tujuan hidup utama. Aku hanya mencoba mengikuti kata hati yang terucap saat mendengar doanya. Lalu, kuputuskanlah untuk mengatakannya di sore yang rindang ini.
"Aku jawab iya untuk pertanyaanmu itu?"
Dia sangat terkejut dengan kalimatku yang telah berlalu sedetik lalu."
"Kamu serius? Jadi, sekarang aku bisa bicara dengan tulang dan nantulang?"
Lega rasanya hati ini saat menjawabnya. Semua beban yang tersimpan seakan terbuang dan semua tidak sesulit yang kubayangkan. Nyatanya aku bahagia dan aku ingin bahagia ini bukanlah sementara.
"Serius Nad? Asal kamu mau, aku sanggup menjalankan semua syarat tulang dan nantulang. Apapun akan kulakukan Nada."
"Aku sudah bicara dengan mereka, tapi kamu harus bicara juga supaya semakin mantap."
***
Hari ini banyak doa yang mengantar kita ke altar dalam pemberkatan pernikahan kudus. Janji yang kita ucap dalam hati cukup Tuhan saja yang tau. Biarkan cinta itu tetap dalam jiwa dengan sejuta warnanya. Kita akan menikmati hari bersama setiap detik. Kita akan menghirup udara yang sama, kita akan dibelai oleh angin yang sama dan kita akan menjadi satu selamanya dalam cinta yang sama, yaitu cintaNya.
(c)