Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Curhat

Masih Kusimpan Hadiah Natal Itu, Bu...

Murni Huber-Tobing, Medan
- Minggu, 27 Desember 2015 22:48 WIB
286 view
Masih Kusimpan Hadiah Natal Itu, Bu...
Waktu ditinggal ibuku untuk selamanya, duniaku seperti berhenti berputar. Aku benar-benar kehilangan arah. Tetapi, karena semangat ingin maju dan membuktikan bahwa boru Batak adalah perempuan terhebat di dunia, aku menyingsingkan semua sedih. Lara kujadikan cemeti untuk bangkit karena semua orang pasti merasakannya. Puji Tuhan, aku selamat dari pedih hati berkepanjangan.

Aku malah bersyukur. Dua puluh tahun lalu yang pekat menjadi terang benderang, meski sejak kepergiannya aku sudah tidak pernah lagi merasakan peluk hangatnya. Jasa perempuan yang melahirkanku itu justru menjadi virus positif kuarahkan pada semua orang agar tetap mengingat dan memuliakan pengorbanannya.

Berbahagialah orang yang masih punya orangtua, khususnya ibu. Sayangi ibumu biar lanjut dan bahagia usiamu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu.
Dalam perjalananku, aku banyak mengenal dan dekat dengan perempuan-perempuan tangguh. Yang usianya sepanter dengan ibuku, kuanggap sebagai ibu. Yang sepanter denganku, kuanggap sebagai kakak dan yang lebih muda, kuposisikan sebagai adik.

Tetapi beda dengan seorang pedagang sayur-mayur di Pasar Peringgan Medan. Meski menggelar dagangannya di lapak di emperan, semangatnya sangat kuhormati.

Selain berdagang, perempuan itu tidak paham baca tulis. Karena setiap membeli aku diperhatikannya mampu berbahasa asing, pedagang K5 itu minta diajari menulis dan membaca.

Aku langsung menolak karena terlintas di benakku berapa banyak waktunya berdagang tersita bila mengikuti kelas belajar denganku. Karena terus ngotot, aku bersedia mengajarinya. Semampuku dan sebisanya.

Luar biasa. Dalam tempo singkat untuk ukuran seusinya menyimak pelajaran, perempuan yang kuajari itu cepat sekali paham. Mungkin daya tangkapnya tinggi tapi nalarnya juga terpuji.

Setelah baca tulis mampu, ia pun mahir menganalisis perkembangan global dan lokal. Minatnya pada lingkungan pun tinggi. Kupikir, itu karena dagangannya sayuran hingga komit pada kesehatan lingkungan.

Ternyata tidak. Perempuan itu memang konsern pada lingkungannya. Buktinya, meski berdagang di daerah yang belum maksimal bersihnya, tapi di seputar lapaknya bukan main tertata. Aku bahagia dengan semua itu.

Pekan Advent keempat, sebagaimana biasanya sepulang kebaktian Minggu, aku membeli sayuran. Tetapi kali ini perempuan itu tidak bersedia menerima uang pembelian 2 kilogram kentang.

Aku justru mendapat hadiah sayur mayur berlimpah, yang mungkin tak habis dimakan seminggu oleh keluarga kecilku. Aku menolak. Ia memaksa dengan wajah ikhlas dang adong na boi huleon tu kakak Murni Huber ...On do na boi tar lean au kak. On ma hadiah Natal hu tu kakak da...

Aku tertegun sesaat. Saat mataku tertumbuk dengan pandangannya, aku tak dapat bertatap. Air mataku rasanya hendak menitik.

Ketika kuterima, perempuan yang sudah kukenal 15 tahun itu memelukku erat. Hangat sekali. Pundaknya berguncang. Aku pun larut dalam haru, antara bahagia dan sedih.

Masih ada ibu lain yang mencurahkan perhatian ikhlas padaku.

Dalam khusyuk doa Natal, aku mendoakan semua manusia di bumi ini, khususnya perempuan pedagang sayur itu agar beroleh rezeki berlimpah hingga orang lain pun mendapatkan hadiah lebih bermakna. (T/R9/y)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru