Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026

Sr Lucy Agnes MC Pelayan Anak Jalanan Dunia

- Minggu, 27 Desember 2015 23:02 WIB
4.869 view
Sr Lucy Agnes MC Pelayan Anak Jalanan Dunia
Calcutta (SIB)- Sr Lucy Agnes MC menjadi satu dari sedikit warga Indonesia yang menjadi pelayan, pendamping anak jalanan di dunia. Perempuan yang berasal dari kerabat keluarga terkaya Indonesia itu memiliki tarekat yang dibangun dan dikembangkan Mother Teresa di Calcutta, India.

Pertengahan Desember 2015, sang biarawati kembali ke Indonesia menumpang di kediaman keluarga Paul – Cecil, Bulungan Jakarta. Bertemu dengan keluarga dan kawan-kawan alumni Regina Pacis, namun menolak semua kemewahan yang ditawarkan padanya. Bahkan untuk makan di tempat mewah, ditampiknya. Bukan dengan kata-kata tapi hanya menundukkan kepala sambil tersenyum lebar.

***
Sr Lucy Agnes MC lahir dari keluarga berada. Menimba ilmu di sekolah pilihan. Selesai pendidikan di Indonesia, melanjut ke negeri adidaya, mulai sarjana hingga S2 di Australia dan Amerika Serikat.

Suatu waktu, saat liburan studi, ia jalan-jalan ke Hong Kong. Menetap di hotel supermewah. Melihat anak jalanan, bukan main alergi. “Pertama kali melihat gelandangan yang sakit dan kotor di Hong Kong, saya lari karena jijik dan mau muntah. Tetapi begitu membelakangi mereka, seolah ada yang menarik saya untuk kembali pada mereka, kaum miskin yang tidur di jalanan,”  ujarnya seperti ditulis di akun milik Usi Karundeng, penyiar televisi paling terkenal di Indonesia tahun 1990-an.

Tarikan datang untuk melayani kaum papa sedemikian kuat. Suster bernama asli Maria Donna Dewiyanti Darmoko kelahiran Kudus, Jawa Tengah namun remaja di Jakarta itu mengikuti suara hati dan  memilih untuk melayani kaum miskin, gelandangan yang sakit dan yang terbuang mengikuti Mama Teresa di Calcutta.

Panggilan melayani pertama kali dilakukan ketika berada di di Illinois, AS. Anak jalanan terlantar dijadikan keluarganya dan dilayani seperti anak sendiri.

Riwayat pelayanan pun pernah  di Weoe, Timor Barat dan di Aileu, Timor Leste. Keseharian, Sr Lucy Agnes MC hanya memiliki dua set pakaian. Bahkan, bila bertemu dengan orang tak berbusana, ia rela memberi seragam kebanggaannya. Baginya, busananya adalah kasih sayang. “Aduh…aku memang tidak punya baju fisik mewah tapi baju kami adalah persaudaraan,” ujarnya seperti ditulis di Facebook.

Kebahagiaan terindah baginya bila berada bersama kaum papa dan diberi kesempatan mendampingi orang saat menghadapi sakratul maut, dengan menguatkan dan mendoakan sesama. Hal yang tak pernah dilihat, kini dilakukan seperti mencabuti belatung-belatung dari luka-luka yang membusuk di tubuh dan kepala pasien.

Di Indonesia, salah satu pusat pelayanan tarekan Mama Teresa ada di bilangan Duri Kepa, Jakarta Barat.

Di luar dari pelayanan, ia biarawati yang wajahnya terlihat seperti bocah itu bermeditasi dengan total waktu 4 jam di sela kesibukannya sebagai sekretaris pimpinan kongregasi MC di Calcutta, India. (T/R9/d)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru