Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026

Glandy Menghimpun Remaja Medan untuk MemuliakanNya

- Minggu, 27 Desember 2015 23:04 WIB
568 view
Glandy Menghimpun Remaja Medan untuk MemuliakanNya
Medan (SIB)- Glandy Tulus Halattu masih tergolong onces tapi sudah memikirkan kehidupan di alamNya. Melalui musik, pria yang disapa Glen itu menghimpun remaja Medan memuliakanNya. “Kita mengalami sendiri, betapa kehidupan duniawi makin kotor. Peradaban semakin luntur karena dunia digital. Korban semakin banyak berjatuhan. Tengoklah pusat rehabilitasi narkoba. Yang disembuhkan usianya makin dini, anak-anak hingga remaja,” ujarnya Senin, (21/12) di KFC Monginsidi Medan.

Glen memilih jalur musik menghimpun remaja. Alasannya, musik adalah media yang sangat familiar dengan orang belia. Musik pun media paling gampang disusupi untuk merusak anak muda sebab selalu ditemani minuman beralkohol tinggi dan bahkan narkoba. Ia pun hampir sempat masuk ke salah jalur ketika fokus pada hip hop. Berdasar pengalaman, bermusik yang tepat harus diikuti doktrin moral agama.

Atas pemikiran itulah Glen mengajak remaja lintas denominasi gereja memuliakanNya untuk menyelamatkan manusia seusianya. Bendera yang dikibarkannya adalah Mezbah. “Mezbah adalah tempat korban dipersembahkan. Mezbah pertama yang dicatat Alkitab adalah mezbah yang didirikan Nabi Nuh tapi kmi tak merasa berkorban atau jadi kurban. Kami ingin memuliakanNya,” ujar Glen di salah satu tempat rendezvous remaja.

Bersama rekan-rekan sevisinya—di antaranya Bill Fajar, Cevas Soplanet, Rizky Nainggolan, Dodi Sinaga, Marco Sibuea, Ella Pelupesy, Naomi Harahap, Zion Pesolima— melayaniNya dengan cara menghibur.

Glen bulat terjun ke musik tahun 2009. Jalur hip hop dipilihnya secara tak sengaja. Padahal, awalnya tak suka. Waktu itu tahun 2005 di SMA Immanuel Medan. Rekan sebangkunya, Febri Aritonang melakonkan hip hop. Glen saat itu fokus pada olahraga bela diri Kala Hitam karena orangtuanya seorang karatekawan.

Benci jadi sayang pada hip hop. Glen membentuk Maximus Effeck di tahun 2009 dengan personel awal Bram Sembiring, Erick Panjaitan serta William Firman Sianturi dan Ricardo Sialagan. Perhatian penuh pada musik memuliakanNya kala mendirikan grup Mezbah.

Kamar pribadinya dijadikan studio dan kediamannya di Jalan Sei Putih 80 sebagai base camp.

***
Glen lahir di Medan, 31 Agustus 1989, sebagai anak pertama dari 3 bersaudara pasangan Godlief Hallatu - Ny Sondang Silalahi. Menimba ilmu di SD-SMA Immanuel Medan dan berlanjut ke FH Nommensen.

Di tengah kesibukannya berolah tubuh dan menggapai prestasi sebagai karatekawan, Glen mulai ngerap 2009 di kampusnya.

Mengembangkan kemampuan di bidang digital dan musik, Glen menemukan software lagu dan rekam hingga bikin lagu. Karya pertamanya diperkenalkan pada Bram tapi masih berwarna duniawi. Oleh rekannya yang aktivis gereja, syair digubah ke lagu rohani.

Lagu pertama yang digubahnya adalah Dihapuskan Dosaku yang diambil dari Kidung Jemaat 26. Setelah terhidang indah, berturut-turut lagu lain diciptakan seperti Dia Lahir. Jiwa sosialnya terasah dengan kondisi di lingkungan dengan menciptakan lagu Mati Lampu. “Saat itu sedang menulis lagu, tiba-tiba listrik padam,” kenangnya.

Lagu-lagu sekuler pun mengalir seperti Mau Bilang Apa dengan genre dangdut. Saat mengenang jasa pahlawan tanpa tanda jasa, Glen mengubah Hymne Guru serta Genaplah Usiaku. Ketika rekannya putus cinta, Glen mencipta Penantian Terakhir. “Putus cinta biasa, tapi jangan sampai stag dan tetap berpegang padaNya,” papar pengagum Eminem karena musisi tersebut satu-satunya raper kulit putih yang berhasil di dunia hip hop dan 50 Cent.

Untuk artis Indonesia, Glen mengagumi Agnez Mo karena biarpun sudah populer tingkat dunia tapi dekat denganNya dan rapper Saykoji. Langkah selanjutnya, auditor di BFI Finance Indonesia itu ingin melahirkan koreo indah dalam Mezbah seperti yang dilakonkan para personel tambourine church dance. (R9/d)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru