Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Cerpen

Terlambat... Ini Sudah 2016

* Karya Natalia Situmorang, UHN Medan
- Minggu, 10 Januari 2016 21:17 WIB
385 view
Terlambat... Ini Sudah 2016
Sore berganti senja. Matahari memerah di ufuk barat. Aku berdiri di sepanjang jalan, menapaki jalanmu yang dahulu. Di sini aku menatap kehidupanku. Sekilas terdengar dendang kisah lagu-lagu pilu.

Jejak tapak bayangan samar, detak jantung dan hati yang gusar, udara pengap, nafas terasa sesak berbinar, bahkan nyanyian burung tidak lagi menyapaku, lantas aku hanya terdiam tak mampu berkelakar.

Hari ini aku kembali hening memikirkan keadaanku yang hancur akibat pergaulan bebas. Aku seperti hanya harum bunga di pusaran luar yang tak layu tertiup bersama angin senja nan lembut. Hmmm…. Betapa aku sangat ingin tau apa yang kau rasakan saat ini. Apakah takut menguasaimu ? Sungguh aku tak pernah merasakan ini.

“Nandira, Nandira…!" nyaring suara ibuku memanggil namaku. Kulangkahkan kakiku ke luar kamar. Karena aku merasa malu untuk ke luar kamar.

Tak lama aku ke luar dari kamar ini. Untung saja, jadi ibu tak perlu masuk untuk melihat keadaanku yang semakin tak tau arahnya karena aku tak tau harus bagaimana lagi. Setelah ibu pergi ke luar rumah untuk bekerja sebagai wanita karier yang tidak pernah memberikan waktunya untuk bermain atau canda tawa, aku di rumah hanya bersama bibi di sampingku selalu. Sampai di kamarku aku langsung masuk ke kamar, tak kupedulikan kedatangan ibuku. Karena ia tak pernah tau keadaanku.

Aku menangis di kamarku karena aku hamil. Ini pekan kedua aku tidak datang tamu bulanan. Air mata mulai mengenang membasahi pipiku. Karena aku tak sanggup menghadapi ini semua.

Hah, Erik? Dialah yang menjadi sebab aku menangis saat aku tau bahwa diriku hamil. Erik, itu namanya. Dia adalah pacarku. Kumenganggap bahwa dirinya selalu sopan kepadaku dan selalu membuat bahagia. Namun semua itu adalah kebohongan, karena dia telah menodaiku.

Dia seharusnya ada di sisiku, di saat aku seperti ini tetapi ia pergi meninggalkanku tanpa tanggung jawab kepadaku dan tak pernah kembali lagi. Tapi aku tau dimana dia berada.

Pintu luar di ketuk. Tak lama kudengar suara ibu memanggilku. Kuusap air mataku. Aku tak ingin ibu melihatku menangis di depannya. Tapi terlambat, dia keburu tau.

"Nangis lagi. Kulihat kau selalu mengurung di kamarmu tidak seperti biasanya kamu pergi bersama Erik, apa yang terjadi denganmu.”

Aku diam saja. Aku malas berdebat dengan ibu. Toh dia tidak perduli dengan keadaanku.

"Ibu...,” suaraku melambat tapi hatiku melanjutkan kepedihanku. Aku ingin mengabarkan kondisiku seutuhnya.

Ibuku terkejut mendengarkannya seakan dia tidak menerima keadaanku ini. Aku jujur mengungkapkan nama Erik. Ibu hanya terdiam, mungkin ia merenungkan karena selama ini tidak pernah ada di sampingku. Kondisi itu membuat aku malu untuk bertemu dengan sahabatku. Ibu saja yang menemaniku

Pagi-pagi aku sudah bangun. Aku berolahraga. Aku sengaja mengambil lokasi di kamar, supaya ibu tidak melihatku karena aku ingin membuang isi di dalam perutku. Aku tak ingin suatu hari nanti ia lahir tanpa seorang ayah.

Aku ingin menangis, tapi berusaha tegar. Olahraga makin kugiatkan, berharap calon bayiku keluar. Siang harinya aku minum obat untuk keinginanku. Perutku rasanya mulai membesar. Pupus sudah harapanku untuk ingin kembali normal.

Hari pun berlalu. Tetapi, kabar gembira datang dalam kesedihanku. Ibu dan ayahku kembali bersatu lagi. Mereka dulu berpisah ketika aku berumur enam tahun.

Bukan main gembiranya hatiku, karena kedua orangtuaku di sampingku sekarang ini.

Pada ayahku kunekatkan cerita tentang keadaanku. Meski terkejut, ayah mencoba mencari jalan ke luar. Sama-sama ke dokter tapi ternyata isi perutku bukan benda yang selama ini kutakutkan akibat perbuatanku tapi penyakit.

Meski demikian, aku telah melakukan perbuatan tercela. Jangan pernah terjadi lagi. Tak hanya di tahun 2016 tapi selamanya.(r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru