Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026

Latih Kepekaan, Libatkan Anak dalam Pemecahan Persoalan Sosial

- Minggu, 17 Januari 2016 22:00 WIB
419 view
Latih Kepekaan, Libatkan Anak dalam Pemecahan Persoalan Sosial
SIB/Dok
Ade Rosda saat menyerahkan bantuan Palang Merah Indonesia (PMI) Medan mewakili Ketua PMI Drs Musa Rajek Shah MSi kepada masyarakat kelurahan Gaharu Kecamatan Medan Timur korban musibah kebakaran. Menyertakan anak-anak untuk melatih kepedulian sosial.
Medan (SIB)- Fungsionaris Ikatan Alumni Resimen Mahatara Indonesia (IARMI) Sumut Ade Rosda mengatakan, Indonesia kini dan ke depan semakin membutuhkan pribadi yang memiliki kepedulian sosial tinggi di seluruh sendi kehidupan. Satu syarat menjadi bangsa disegani dalam pergaulan global adalah di mana warganya memiliki kepekaan sosial. “Untuk cakupan dalam negeri, Indonesia butuh masyarakatnya yang memiliki kepedulian. Misalnya, satu komunitas mendapat persoalan, lingkungannya langsung menyingsingkan lengan baju, membantu semaksimalnya,” tandas perempuan yang bakal dilantik menjadi Ketua Perempuan LIRA Sumut tersebut di jeda kegiatan sosialnya, Kamis, (14/1). Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) adalah lembaga swadaya masyarakat yang khusus menangani persoalan perempuan Indonesia.

Ade Rosda mengatakan, Indonesia berada dalam lintasan cincin api yang rentan bencana alam. Dalam kondisi itu, diperlukan warga yang peduli pada sesama. Hanya individu pemilik kepekaan sosial yang mau berbuat ikhlas membantu sesama. Untuk menciptakan kader seperti itu, lanjutnya, harus dilatih sejak dini, sejak kanak ketika si individu sudah dapat merespon lingkungan sosialnya. “Anak-anak yang sudah dapat merespon lingkungan sosial, harus semakin sering dilibatkan dalam menangani persoalan sosial. Misalnya, ada bencana alam, langsung sigap membantu. Tak perlu dalam porsi besar. Contoh ada kebakaran, anak-anak dilibatkan dalam pengumpulan dana, dapur umum atau hal sosial lain,” tegasnya.

Ketua Alumni SMAN2 Medan itu mengusulkan, orangtua yang memiliki anak-anak membebaskan buah hatinya dalam organisasi sosial seperti Pramuka, kelompok pencinta alam dan lainnya. Dengan cara bersosialisasi sosial, otomatis memorinya terisi dan terasah akan hal-hal sosial.

Ia melihat fenomena istimewa di media sosial ketika celoteh anak-anak dan remaja Indonesia yang mengarah ke hal-hal positif. Saat teror terjadi di Jalan Thamrin Sarinah, Jakarta, percakapan di dunia maya didominasi hal positif, mulai dari  mengunggah kata-kata inspiratif seperti #prayforjakarta hingga #kamitaktakut dan sebagainya. “Hal-hal cverbal itu harus diaktulisasikan dengan perbuatan,” tutup Ade Rosda. (r9/c)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru