Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Curhat

Sahabat Kecilku Semakin Jauh

*
- Minggu, 31 Januari 2016 21:29 WIB
249 view
Sahabat Kecilku Semakin Jauh
Waktu itu, aku tak tahu apa klasifikasi getar di hatiku. Rasanya ingin dekat terus sama Daus. Jika tak dengar suaranya, aku bingung.  Andai sehari tak ketemu, aku kelimpungan. Tetapi perasaan tersebut hanya sampai di situ saja.

Hanya saja, tatkala kami dipisahkan oleh jarak, aku ingin berontak. Begitu berat hatiku jauh darinya. Rasa pedih berganti dengan pasrah. Soalnya, orangtuanya pindah ke Bali, kan tidak mungkin aku ikut ke Pulau Dewata.

Kami masih sama-sama sekolah. Dan perpisahan itu seperti terlalu cepat. Begitu usai ujian semester, sebelum bagi raport, Daus sudah berangkat. Aku ditinggal sendiri. By.

Berpisah dengannya membuatku semakin ingin ketemu. Rasanya ingin tiap saat. Tetapi lama-kelamaan rasa itu tergerus. Apalagi aku sudah punya kesibukan baru, mulai dari les hingga ekstra kurikuler. Meski demikian, jika Daus menghubungi, aku senang.

Suaranya yang merdu pun terngiang di telinga. Tiba-tiba, Daus muncul lagi. Kayak mimpi saja karena orangtuanya kembali pindah ke Sumatera. Tepatnya ke Pematangsiantar.

Jabatannya pun mentereng, district manager. Fasilitasnya bejibun.  Meskipun berada 128 kilometer dari ibu kota Sumut namun serasa dekat sebab Daus kost di Medan.

Getar di hatiku melihat Daus, sepertinya sama seperti dulu. Sekarang aku sudah tahu, Daus ternyata ganteng. Tak hanya tampan, tapi punya perhatian lebih. Ditopang isi kantung yang tebal, aku makin senang padanya.

Hanya saja, bila malam Minggu, aku benci padanya. Daus lebih suka pergi ke Bali ketimbang menghabiskan waktu denganku. Memang, setiap Jumat petang hendak terbang, Daus memaksaku mengantar hingga Kuala Namu International Airport. Jika aku menolak, Daus menjemputku ke sekolah.

Andai aku sembunyi dan pesan pada petugas parkir tidak masuk sekolah, Daus rela menungguku di depan rumah. Bahkan cerita pada orangtuaku bahwa aku tidak sekolah. Akibatnya, ibuku murka.

Tega-teganya di depan Daus marah dan mencubit bokongku. Aku jadi malu karena Daus ikut-ikutan sedih sebab aku menangis meraung ke kamar. 

Kadung ditunggu, aku pun mengantar Daus meninggalkan Medan. Minggu malam, Daus minta dijemput lagi. Terus-menerus begitu.

Segala oleh-oleh dari Bali diberikan padaku. Pokoknya, tiap Minggu aku dimanjakan dengan bingkisan, mulai cokelat hingga Roasted Duck Betutu dengan Orange Pumpkin. Bebek khas Bali itu membuat pipiku chubby.

Saking tembemnya, Daus selalu mencomot hingga aku cemberut. Lebih dari itu, tidak ada lagi action di antara kami. 

Aku jadi bingung. Rasa apa sih di hati Daus? Tak mungkinlah aku berharap dan menunggu terus. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru