Pagi yang cerah untuk hati yang sungguh hancur, berkeping tak terhingga. Seperti biasanya, kelas sebelas ipa 5 takkan pernah sepi. Jikapun lengang itu karena dia belum menampakkan batang hidungnya.
Keadaanku memang tidak pernah berubah, setiap harinya setiap detiknya selalu saja sama. Di kelas aku terkenal tomboy dan sedikit pendiam. Yah, kata "pendiam" lahir hanya karena aku sering diam menyendiri di tempatku memikirkan hal yang tak harusnya ku pikirkan.
Kala itu, kami sedang sibuk menggambar dengan cara kami masing - masing, termasuk aku. Bagiku, gambarku harus menjadi yang terbaik dan penghasil nilai tertinggi di kelas. Bukannya sombong tapi itulah prinsipku.
"Zein kau sebenarnya suka kan sama Ika," bisik Dea, si Jeber di depanku. "Zein... Jujur kau Zein! Kau suka kan sama Ika!" kali ini suaranya terdengar memojokkan.
Zein berbalik melihatku yang sibuk menggambar dan tersenyum malu - malu.
Oh Tuhan itu sungguh bodoh. Dia sama sekali tak berpihak padaku. Baiklah mari bermain - main dengan hati, ucapku dalam hati.
Terlihat Dea dengan sengaja berpindah tempat dari sisi Zein dan inilah giliranku. Kuangkut seluruh alat gambarku ke meja di samping Zein, berpura - pura sibuk dengan gambarku. Kala itu aku lupa membawa penggaris jadi aku mengambil miliknya. Yang kupikirkan adalah dia akan marah karna itu tapi ternyata aku salah. Zein si manusia sok coll itu malah tersenyum dan mengumpat berbisik.
"Do... Do... pinjem penggarismu lah. Diambil si Sem punyaku," ucapnya dengan wajah yang lucu. Tentu saja aku melihatnya dan tertawa kecil. Tiba - tiba segerombolan anak lelaki bernyanyi tak jelas dari belakang kami dengan nadanya yang cempreng.
… si Zein jatuh cinta kepada si Ika. Sungguh dia cinta oh apa adanya….lalala….
Entahlah. Sudah terlalu banyak orang gila di kelas ini, hingga tak satu pun dari mereka yang terlihat waras, meski hanya untuk sekilas dilihat.
Esok adalah Hari Guru artinya sekolah takkan belajar untuk dua hari lamanya, bertepatan dengan hari raya islam. Rencana selalu menjadi potongan rencana, begitulah kami.
Kami berkumpul di meja Zein pagi itu berencana untuk pergi berjalan - jalan bersama sekalian merayakan setahun kebersamaan kami menjadi keluarga Milimeter. Yah nama Milimeter adalah hasil keputusan rapat antar perwakilan barisan dalam kelas, meski kutahu bahwa kepanjangannya sama sekali tak mengarah ke situasi kelas kami.
Pendapat demi pendapat mulai di berikan dan aku hanya menjadi pendengar yang setia di pergumulan itu. Selalu dan hanya akan selalu begitu.
"Ahh, gak jelas pun kelen wee!! Udahlah tak usah jadi pigi kita! Modom aja kelen di rumah masing - masing" situasi mulai tak stabil. Aku mulai meringsut dari keramaian takut akan sesuatu yang akan melayang nantinya.
Tampak zein yang mulai menggrogoti kuku tangannya, tanda mulai bosan termasuk aku. Hari itu berakhir dengan hasil rapat yang tak jelas. Beberapa di antara mereka memilih pergi berdua dengan pacarnya dan selebihnya dengan temannya dari kelas lain. Ahh… entahlah, kepalaku mulai berdenyut memikirkannya.
***
Sebuah kebodohan terjadi padaku sendiri. Selesai menyematkan pita, aku malah berbalik ke arah berlawanan, padahal yang seharusnya terjadi adalah aku mengikuti lajur para penyemat untuk menyalami para guru yang tengah berbaris. Ahh, bodohnya!
Seperti biasanya, usai Hari Guru semua murid akan pergi berjalan - jalan bersama teman sekelasnya. Begitupun aku.
Millimeter tadinya ada rencana bagus untuk itu, tapi gagal. Sebagian dari mereka lebih memilih pergi bersama temannya dari kelas lain dan pacarnya.
Sedangkan kami yang tersisa membuat rencana dadakan dengan keadaan sekarat. Dan rencana berjalan lancar. Di perjalanan banyak hal bodoh terjadi, terlebih - lebih dengan si coeg. Mulut lebarnya terlalu sering berkicau dengan kata - kata manisnya yang menjijikkan.
***
"Ahh akhirnya sampe juga!"
"Lepas sepatu yok we!! Kan di sana pasir semua!" saran Rini membuat kami semua benar - benar turun tanpa sepatu. Kesenangan pun mulai merasuki saraf kami masing - masing.
Tertawa, kejar - kejaran, main air, cari kerang , poto - poto, lempar batu ke pantai. Banyak kesenangan yang terjadi sampai - sampai lupa waktu.
"Ehh ada rujak. Zein beliin dong!" sepertinya aku terlalu memanfaatkan keadaan, tapi apa boleh buat. Kantongku juga lagi kritis kan. Rengekan demi rengekan pun kulakukan demi rujak tercinta. "Zein beliin naapa!" ngedeketin si dia biar di kasih dan akhirnya dapat juga. Selesai makan rujak gratisan ternyata perutku masih pengen lagi. Kalau tadi di beliin zein sekarang giliran aldo yang beliin. Mulai ngerek lagi sama aldo samapai aku di kata - katain sama temen. Aku mah bodo amat. Yang penting perut kenyang ya bo!
"Wei, balek yok!! Udah jam segini jugak. Aku jugak mau les jam 3!!" ajakku. Mereka semua setuju tapi pak supirnya ngilang gitu aja. Padahal pengen cepat-cepat pulang.
Udah clingak - clinguk ke sana ke mari tapi gak kelihatan juga batang hidungnya. Udah di jeritin jugak gak muncul-muncul. Sempat kesel juga. Rasanya kalau ketemu pengen di hajar dulu sampek babak belur terus di suruh bawa kita balik. Tapi itu terlalu lebay.
Sempat jumpa pak supir yang lain terus nanyain supir kita, tapi nihil juga. Alhasil kita main-main di tempat parkiran dulu. Apalagi kejahilan si zein timbul dari antah berantah sampai tega meletakkan tasku di atas mobil.
Perjalanan balik dari pantai masih sama seperti suasana awal kepergian kami. Bertingkah seperti orang gila dan tertidur kelelahan. Itu hal yang wajar, bukan?
Itu juga kesempatan luang bagi rini mengambil gambar kami dengan pose memalukan. Ketegaannya juga tak selesai sampai di situ. Semua poto di kolase dan di masukkan ke social media. Hufft, sungguh memalukan!
Semuanya terjadi begitu saja seperti air yang mengalir seakan segalanya takkan pernah terlupakan dan memang benar takkan pernah terlupakan. Karena setiap detiknya terekam dengan jelas di benakku. Terkumpul dalam satu ruang menjadi cerita lucu yang member kesan indah. ***