Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Cerpen

Sulit Dipercaya

* Karya: Meita Damanik SMAN  Pematangsiantar
- Minggu, 07 Februari 2016 14:46 WIB
445 view
Rheina geram setengah mati. Sudah hampir sejam menunggu tapi yang dinanti tak kunjung tiba. Sekolah saja sudah hampir tutup. Tengok tuh, mobil-mobil jemputan anak-anak orang kaya saja sudah pada berhamburan. Tetapi mama belum juga datang.

Mending tadi minta tumpangan sampai ke simpang, biar menyambung naik angkot. Atau apalah, biar gak boring melototin setiap pengendara sepeda motor dan berharap orang dimaksud memberi bantuan.

Mengelak dari cowok-cowok yang mulai usil Rheina berjalan ke kantin. Pura-pura cari bakmi yang lezat itu. Namun lokasi yang jadi pusat ngerumpi itu nyaris tutup. Dah tak ada lagi tanda-tanda kehidupan.

Rheina berkesimpulan, mama pasti tak menjemput. Soalnya sudah dua jam menunggu tapi tak datang juga.

Setengah berlari mengejar angkot, Rheina pun bersungut-sungut masuk ke rumah. Terus mencampakkan tas ranselnya dan membuang begitu saja sepatunya. Tanpa membuang kaus kaki, langsung menelungkupkan badan dan menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.

Mama sampai bingung. Meski terus membujuk dan membelai, Rheina tak juga diam. Bahkan makin keras menangis.

"Mama kok tega kali!"

"Ban kereta bocor. Tambal ban gak ada, Nak," ujar mama lembut dengan bibir bergetar. "Mama pun baru sampai."

"Maksud Mama...kita lomba lama sampai ke rumah, gitu!"

"Gak sih, tapi itulah kenyataannya!"

"Tapi kenyataannya aku ketakutan!"

"Kok takut?"

"Takutlah," sambut Rheina lebih keras. "Begitu banyak begal di jalan. Banyak kali cowok-cowok usil di jalan. Kalau kenapa-kenapa..."

"Lho, apalah yang mau dibegal darimu, Nak," bujuk mama lebih pelan. "Kau anak orang miskin. Ke sekolah bermodal jalan kaki."

"Tapi..."

"Kalau soal cowok usil, kamu kan senang. Mama pun giranglah. Berarti anak mama cantik. Kalau jelek, pesek lagi, pasti lelaki-lelaki cuek bebek!"

Dibecandain, Rheina makin geram. "Besok mama jemput aku apa gak?"

"Kenapa? Udah janjian ama cowok baru?"

"Mama pikir aku segatal mama waktu muda dulu?"

"Mama waktu muda dulu gak gatal, tapi centil. Mama kan kembang kota!"

"Kalau bunga kok dapat papa yang jelek gitu? Mana miskin lagi!"

"Mama kan korban rahasia Ilahi," lanjut mama. "Suka ngejek cowok jelek. Akhirnya takluk sama papamu. Makanya, kamu jangan ngikut jejak mama. Mulutmu direm. Kalau ada orang pesek, puji. Bilang mancung ke dalam!"

Rheina makin geram. Ingin sekali menjambak bibir mamanya yang maju itu tapi takut kualat. Ia memilih nangis. Dalam hatinya, menjawab-jawab mamanya sama dengan menyerah kalah. Lebih baek mendesak mama agar diizinkan bawa kereta ke sekolah. Seperti usul Fani. Namun mamanya melarang. Soalnya sepeda motor itu satu-satunya alat trasportasi dan harta termewah milik mama. Papanya ke kantor naik mobil, kendaraan pribadi merangkap bus antar-jemput anak sekolahan.

Karena sudah sering tidak menjemput dan terlambat sampai ke sekolah, mama akhirnya mengizinkan Rheina bawa kendaraan. Itu pun dengan puluhan bahkan ratusan kata jangan. Jangan ngebut. Jangan lewat dari jalan protokol. Jangan melawan arah. Jangan santai-santai. Jangan mengendarai di belakang becak karena angkutan warga itu suka egois di jalanan. Jangan lupa melihat razia. Soalnya Rheina belum punya SIM. Jangan lupa minta maaf kalau kena stop polisi.

"Sudahlah, Ma. Bising kali. Aku pun mau bilang, jangan lupa ngisi BBM. Full!"

"Full? Emangnya papamu tauke minyak? Papamu itu aduhai, agen dunia akhirat!"

"Berarti hebatlah, Ma?"

"Hebat apa? Mama ini cuma dapat jatah sehari seliter!" Bentak mama. "Papamu itu pelik. Tapi kalau untuk kemauannya, bukan main boros. Makan maunya gulai kakap, pakai buah naga. Gak sadar, barang-barang mahal semua!"

"Mama kan wonder women, jago ngerayu pewdagang. Atau beli makanan BS aja, biar murah!"

"Papamu itu korektif. Tak enak masak, ngerepet. Kamu pikir papamu itu pria idola?"

Rheina jadi kesal. Kok mama terus meleceh papa. Padahal papa kerja keras, mulai pagi hingga petang.

"Kamu itu sama seperti papa. Dikasih hati minta jantung! Kolonialisme."

"Mama kok asyiknya menghujat papa? Kalau papa buruk, kenapa mama mau!"

"Kan sudah mama bilang, aku ini korban rahasia Ilahi!"

Rheina geram tapi tak mau lagi melanjutkan. Percuma berdebat, mamanya jauh lebih berkelas. Entah dari mana saja perbendaharaan kata-katanya. Ada saja jawabannya. Pelampiasannya pada kereta. Bersungut-sungut dibukanya tangki sepeda motor. Ngecek persediaan BBM. Ya Tuhan, minyaknya minim.

Mama pun ikut geram. "Kalau gak mau pakai, gak usah. Biar mama antar."

Rheina mengalah. Bukan apa-apa. Soalnya dah janji sama Fani mau jalan-jalan. Konon Fani boncengan sama Rico, Wira membonceng Rheina. Kereta Rheina titip di parkiran sekolah.

Tetapi skenario bubar. Wira gak bawa kendaraan. Kereta Rheina jadi sasaran. Gak apalah, sekali ini saja. Kan dalam keadaan terdesak.

Hanya saja, Rheina jadi geram. Kok Fina jadi keseringan minjam. Tiap hari ada aja keperluannya. Mulai dari cari buku keperluan sekolah hingga catatan tertinggal di rumah. Kalau gak dikasih, marah. Tetapi karena sudah tak enak, Rheina bersikeras tak mengizinkan kendaraannya dipinjam.

Fina marah. Disuruhnya Rico meminjam, Rheina tetap tak mengizinkan. Bahkan Wira sampai bermohon. Ketika berulang, barulah dipenuhi Rheina. Soalnya, entah kenapa, sejak berkeras urat leher dengan Fina karena tak diizinkan minjam sepeda motor, perasaan Rheina selalu tak enak. Ia jadi was-was. Ditambah lagi mamanya selalu berkhotbah untuk hati-hati. "Biarpun kawan, jangan percaya seratus persen. Pokoknya jangan..." ucap mamanya.

Rheina pun berterus-terang. Keretanya masih kredit. Angsuran per bulan dibayar dari keringat papanya yang tiap hari menyabung nyawa di jalanan. Eh, dijelaskan begitu, Fina jusru makin sensi. Sekarang terang-terangan memusuhi. Rheina pun sudah patah arang. Tak berkawan dengannya pun tidak apa-apa. Apalagi Fina, Rico dan gangnya anak sekolah lain kok. Hanya dipertemukan secara tak sengaja ketika ada aksi di tengah kemacetan.

Yang tak masuk pencernaan pikirannya, sahabat Rheina menyampaikan, Fina menyumpah-serapah. Bahkan memprediksi sebentar lagi Rheina bakal tak naik kereta.

Rheina sampai pusing memikirkan prakiraan Fina. Kenapa sahabatnya itu bisa bilang seperti itu? Apa Fina malaikat. Atau ahli nujum? Atau anak dukun saktikah?

Sambil berpikir sendirian, Rheina berkumpul di seberang depan parkiran sekolah. Sambil ketawa-ketiwi, seketika Rheina bertumbuk tatap dengan Fina yang sedang mengaba-aba. Ada apa pula si cewek benalu itu di sini, pikir Rheina.

Buru-buru diceritakannya pada kawan-kawannya. Rheina mengantisipasi, jika Fina mau buat jahat, tolong dibantu. Tetapi anggapan itu ditepisnya sendiri. Jika mau buat jahat, tidaklah mungkin sendirian. Hanya saja, batin Rheina makin risih.

Bersama kawan-kawan, ditinggalkannya tempat itu. Rheina memilih hendak pulang. Tetapi betapa terkejutnya dia karena keretanya sudah tidak ada di tempat semula. Rheina lari sekencangnya ke arah Fina. Dilihatnya Rico sedang duduk di atas sepeda motornya.

Rheina berteriak. Fina dan Rico langsung pergi berboncengan dengan kendaraan mereka. Saat memegang keretanya, Rheina mendapatkan kunci kontak sepeda motornya dalam kondisi siap jalan. "Berarti kunci keretaku diduplikasi ya," ujarnya pada kawan sesekolahnya.

"Kamu pernah ngasih pinjam?"

"Ya, pernah.

"Ya itulah digandakan!"

"Itu sebabnya, jangan mudah percaya,"

Rheina bingung sendiri. Namun sudah ditemui jawaban atas pertanyaan kenapa Fina memprediksi bahwa Rheina bakal tidak naik kereta lagi.

Atas kejadian itu, Rheina tak mau ke sekolah naik sepeda motor lagi. Mamanya juga riang, karena ngaku bisa leluasa bergerak. Apalagi sekarang sedang latihan fitnes untuk membentuk tubuh seksi. "Biar papamu yang jelek itu tak terpesona dengan perempuan lain!"

"Mama sudah hampir menopause pun masih dandan," tutup Rheina geram. (l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru