Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026

Mardian Sanjayadan Kue Bakul Imlek

- Minggu, 07 Februari 2016 14:52 WIB
531 view
Mardian Sanjayadan Kue Bakul Imlek
SIB/Dok
Mardian Sanjaya dengan kue bakul di Jalan Merbau Nomor 11/7, Kecamatan Medan Petisah, Medan, Rabu (29/ 1).
Jakarta (SIB)- Mardian Sanjaya itu seorang pemburu yang sangat memerhatikan menjaga konservasi hutan dan satwa. Menjelang Imlek 2567, fokusnya tertuju pada kue bakul. Secara turun-temurun, selebritas kelahiran Medan, 5 Maret 1992 itu sudah berkutat dengan kuliner yang tak terpisahkan dengan perayaan hari besar umat Buddha dan Kong Hu Cu tersebut. "Sebenarnya, kapan saja kue bakul bisa dinikmati tapi karena tradisi dan turun-temurun, ramai dan meriah berkaitan Imlek," cuitnya di dunia maya.

Mardian mengatakan, secara turun-temurun keluarganya sudah menggeluti makanan khas itu. Di rumahnya, dibuat sendiri yang kemudian berkembang menjadi usaha rumahan tapi musiman. "Saya generasi keempat melakoninya. Mulai dari kakeknya orangtua saya, kemudian diteruskan kakek yakni Ng Boek Koen dan diwariskan ke Haidin Wijaya. Sekarang saya," ujar pria anak kedua dari empat bersaudara namun ayahnya menurunkan kemampuan dan bakat mengolah kue yang kerap dicetak budang itu padanya. Abang tertuanya, Iwan Sanjaya bulat-bulat terjun ke dunia selebritis. Mulai dari broadcast yang mengudara dengan bahasa Mandarin dan sekarang mengembangkan kemampuan di bidang olahraga sepeda.

Sama seperti abangnya, Mardian yang berprofesi sebagai pemburu satwa juga mengembangkan hobinya ke barang antik. "Dua-duanya butuh konsentrasi dan seni," ujar pria yang memilih berhenti mengikuti pendidikan formal demi berbisnis.

Bakat seni kuliner dan berburunya diturunkan oleh ayahnya, tapi bakat seni dari garis ibunya.

Ibunya, Lisa lahir di Tebingtinggi, Sumatera Utara pada 30 Desember 1971. Sebagai orang Jawa dari keturunan warga perantau, putri pasangan Keri -  Ny Sariah tersebut memiliki kebudayaan sendiri. Perpaduan dua kebudayaan, dari ibu dan ayahnya membuat Mardian cepat melebur dengan dua kesenian dimaksud.
Uniknya, sang ibu yang suka keroncong, tidak mengalir padanya. "Aku sekali-sekali dengar musik, tapi kalau berburu, baik itu di  hutan atau barang-barang antik, oke," cerita Mardian.

Menurutnya, karena banyaknya jiwa seni yang diturunkan oleh leluhurnya, membuat saudara kandungnya punya hobi berbeda-beda. Abangnya, Iwan Sanjaya menekuni dunia kepenyiaran. Adiknya, Yanuardi Sanjaya menjadi birokrat dalam jasa keuangan. Adiknya yang lain, Dewi Handayani masih sekolah. "Kekayaan kebudayaan dan kesenian dari orangtua menjadikan kehidupan kami dalam keluarga jadi ramai," cerita Mardian.

Sama halnya dengan Imlek, tidak spesifik merayakan tapi tetap terlibat karena baginya Tahun Baru China tersebut adalah kebudayaan yang tak terpisahkan bagi orang-orang yang punya hubungan darah maupun emosional dengan Tionghoa. (T/R9/f)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru