Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026

Johannes Siregar Jadi Filter Anak Muda Bersih Narkoba

- Minggu, 14 Februari 2016 20:49 WIB
1.023 view
Johannes Siregar Jadi Filter Anak Muda Bersih Narkoba
SIB/Dok
Ka BNN Komjen Pol Budi Waseso menyalam komando Ketua GMDM Sumut Johannes Siregar disaksikan Sekretaris GMDM Sumut Johny Silaban di Kompleks Gereja Bethel Indonesia (GBI) Rayon IV Sumatera Resort Jl. Jamin Ginting - Deliserdang.
Deliserdang (SIB)- Ketua Gerakan Mencegah Daripada Mengobati (GMDM) Sumut Johannes Siregar menyiapkan diri sebagai bagian dari bala tentara memfilter anak muda bersih dari penyalahgunaan narkoba. “Semakin hari, tak hanya jumlah korban meningkat tapi pengguna semakin lama semakin muda. 

Data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumut, kini anak-anak SD sudah kenal dan mengguna barang haram tersebut,” ujarnya didampingi Sekretaris GMDM Sumut Johny Silaban di Kompleks Gereja Bethel Indonesia (GBI) Rayon IV  Sumatera Resort Jl. Jamin Ginting - Deliserdang, usai seminar nasional dengan pembicara Ka BNN Komjen Pol Budi Waseso.

Menurutnya, gerakan awal untuk memfilter adalah keluarga tapi ketika individu berada di luar rumah, lingkungan terdekat, khususnya rekan-rekan sepergaulan menjadi filternya. “GMDM ingin berada di sana,” tegasnya.

Menurutnya, begitu banyak dana dialokasikan untuk merehabilitasi korban kecanduan narkoba. Di Sumut, hingga Mei 2015, sekira 700 lebih pengguna narkoba. Target BNNP Sumut merehabilitasi sebanyak 3.972 orang tapi karena kemampuan terbatas, proses tersebut terpotong begitu saja. "BNN Sumut merilis, prediksi korban narkoba tahun 2015 mencapai 400 ribu orang yang berasal dari berbagai kalangan mulai anak SD hingga dewasa. Ini harus diantisipasi dengan preventif, mencegah. Cara itu lebih baik,” ujar Johannes Siregar.

Cara yang dilakukan pihaknya adalah mendekati anak-anak dan remaja. Mengajak bersosialisasi dengan kegiatan yang digemari. Tetapi, semuanya diselingi dengan materi moral dan agama. “Tidak mudah mengalihkan perhatian anak-anak dan remaja dari apa yang sudah digemarinya. Jika sudah mahir teknologi, maka semakin sulit. Itulah perlunya gerakan mencegah,” paparnya sambil mengatakan tidak ada tugas atau tanggung jawab siapa dalam rangka mencegah.

 â€œJika menindak, ada otoritas resmi tapi mencegah, semua individu punya kewajiban,” tutupnya sambil mengatakan fokus apda anak-anak dan remaja karena kelompok tersebut adalah masa depan tumpuan bangsa. (T/R9/f)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru