Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Curhat Lucia Judika Lumbantobing, Medan

Berdoa Demi Kedamaian Pembegal Kalung Hadiah Valentine

- Minggu, 14 Februari 2016 20:58 WIB
443 view
Bertemu dengan pembegal tidak membuatku geram apalagi sampai ingin menumpahkan kekesalan. Sebagai bentuk membalas sakit hati. Atau apalah namanya.

Terus terang, aku sakit hati ketika terjadi insiden yang menakutkanku. Bahkan mengerikan. Kejadiannya setahun lalu.

Kala itu, untuk membuktikan, penghormatan pada pemberi hadiah Valentine’s Day, aku mengenakan kalung pemberian orang istimewa di hatiku. Sungguh, niatnya bukan untuk pamer tapi karena benda itu memiliki memori yang sangat dalam.

Ketika melintas di sekitar Simpang Limun, Medan dari pertigaan sepi, seorang pemuda mengendarai sepedamotor memepetku. Aku tidak menaruh curiga padanya. Soalnya, masih siang dan udara sangat terik. Tetapi, dalam hitungan detik, sap... tangannya menelingsut leherku dan mencengkerap kalung.

Secepat kilat benda berharga terbang dari tubuhku. Saking gugupnya, aku tidak bisa berkata apa-apa. Ketika sadar, hanya menangis yang bisa kulakukan.

Sampai di rumah, semakin menangis. Kupikir, hari ini adalah hari ternahas buatku. Padahal, aku baru pulang melayani, mengabarkan firmanNya.

Sambil berdoa, air mataku tumpah. Menyesali diri dan mohon ampun padaNya. Aku merasa sangat bodoh. Mengapalah kalung itu kupakai ke gereja. Hanya karena mengenang pemberian yang paling bersejarah, aku seperti pamer. Mengundang pembegal beraksi.

Aku mencoba melupakan tapi tak bisa. Seperti kupaparkan di atas, kalung itu hadiah terindah saat Valentine’s Day. Wajar dong kalau aku bahagia menerima dan memakainya. Tetapi begitulah, cerita menjadi lain ketika harus berpindah pada orang lain secara liar dan kasar.

Sudah melapor pada yang berwajib, tapi sia-sia. Tak ada tanda-tanda bakal kembali. Aku pun mencoba melupakannya. Tetapi, entah mengapa, di tempat yang sama, tiga bulan setelah kejadian, aku bertemu dengan pemuda yang sama. Kali ini dalam aroma berbeda.

Pemuda itu sedang ditabrak becak. Mereka terlibat adu urat leher. Sambil menahan detak di jantungku, aku turun dari kendaraan dan melerai. Yang kujamah adalah tangan si pemuda dan memohon padanya untuk sabar. Padahal, demi Tuhan, hatiku meronta-ronta, ingin mempertanyakan sudah dikemanakan kalung yang dijambretnya.

Sejak kejadian itu, aku semakin mengenalnya. Ia adalah korban broken home hingga jatuh ke permainan ilegal, sebagai pecandu narkoba.
Mengetahui hal itu, aku cuma bisa berdoa kiranya tanganNya menjamah si pemuda untuk hidup damai dalam kerajaanNya. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru