Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Cerpen

Valentine Come Back!

* karya Aprilianju Kristesia Purba, SMK Bintang Timur Pematangsiantar
- Minggu, 14 Februari 2016 21:00 WIB
419 view
Ketika kau percaya dengan suasana mentari yang enggan mengeluarkan sinarnya dari pada waktu yang menuntunmu untuk berbuat bahkan untuk hidup. Kadang ini yang menyesatkan. Hidup tanpa suasana mentari membuat hati tak yakin untuk berbuat. Hidup dengan suasana waktu yang begitu memprihatinkan juga tak akan bisa berbuat. Lalu apa? Yang harus kau lakukan adalah hidup berdampingan dengan mentari dan juga waktu.

Tak salah jika hari ini disebut Hari Kasih Sayang.Tak salah jika hari ini menghabiskan waktu ini bersama dengan orang yang kau sayangi. Apa Valentine harus bersama seorang pria yang kau sebut pacar? Tidak bukan. Yang jomblo seperti saya bagaimana? Bukankah Valentine juga bisa dirayakan bersama sahabat, orangtua, saudara dan juga orang lain yang kita sayangi.

Kutahu Valentine harus dibarengi dengan cokelat dan kado bukan? Tak usah tanyakan tentang mereka berdua, sudah jelas bukan? Semua sibuk dengan cokelat dan kadonya. Kalau ditanya untuk siapa, pasti jawaban mereka untuk seseorang yang kusayangi. Jika ditanya siapa yang kausayangi pasti jawaban mereka."Dia pacarku".

Pacar lagi! Pacar lagi! Yang nggak punya pacar nggak usah risau. Oh iya ya yang jomblo juga manusia keles.

"Hai…April. Valentine kali ini kemana? Nggak jalan?Jalan yok. Oh..iya sebelumnya happy Valentine Day ya. Ngomong-ngomong udah siapin kado apa buat sang kekasih." Itu sms yang tak lain dari makhluk asing yang tak pernah diundang.

"Bego! Mau jalan gimana kau aja bukannya di sini. Ngeledekin aku kali ya. Kado apaan? Nggak ada rencana buat siapin kado apa-apa. Cukup dengan ucapin Happy Valentine Day buat orang-orang yang kusayang udah cukup kali." balasku.

Bukan apes namanya dapat kata-kata menyanjung seperti itu di hari yang berharga ini. Malah bisa lebih tersenyum melewati hari yang lebih indah ini. Senyum dan senyum, itu bahkan lebih dari cukup. Tersenyum seperti matahari, menari seperti burung yang beterbangan di awan yang biru.

Cemerlang terlihat, kagum melihat semua suasana ini. Cokelat di mana-mana,boneka juga tak kalah darinya. Aku ingin cokelat, aku ingin boneka. Bisakah itu tercapai? Burung tampak tertawa mendengar keinginanku, bunga juga ikut-ikutan menertawakanku. 

Getaran HP-ku membuat suasana semakin kaku. Ada nomor baru. Angkat tidak, angkat tidak.Angkat aja kali ya.

"Selamat Hari Valentine."

Suara yang indah didengar telinga. Suaranya merdu membuatku terpaku. Gila! Siapa ini. Tak tahu kenapa rasanya saat mendengar suaranya hati begitu tenang tak memikirkan masalah yang sedang melanda.

"Ini siapa?"
"Yang pasti ini manusia. Dijawab dulu kek salamku."

"Oh iya iya. Selamat Valentine juga."

Saat kuberpikir ini siapa kok dia kenal samaku. Kenapa Cuma bilang Selamat Valentine aja. Apa ini? Aku ragu siapa ini. Oh tidak. Tidak mungkin dia. Suaranya bukan seperti ini. Tidak ini pasti yang lain. Mungkin penggemar rahasia kali ya.

Tak salah jika dia kusebut. Dia Valentino. Nama yang tak asing lagi bagiku. Nama yang membuatku sering dalam masalah besar. Orang yang tak pernah mengerti aku. Orang yang telah menyia-nyiakanku. Aku berusaha tak open dengannya. Aku kaku mendengar ucapannya. Aku bahkan histeris mendengar suaranya.

"Kenapa muncul lagi."

"Aku hanya mengingat kenangan yang sudah berlalu."

"Tak perlu mengingatku lagi."

"Aku tidak mengingatmu. Aku hanya mengingat waktu yang berlalu tepatnya di hari ini."

"Aku tahu maksudmu."

Walau setiap hari bertemu disekolah. Aku bisa melupakannya. Bahkan impian terbesarku saat melihatnya seakan hancur berkeping-keping. Aku membencinya sungguh! Lalu apa! Tak ada yang bisa kubilang benci. Bukankah benci itu bisa berubah jadi cinta?

Kubilang benci karena aku kadang benar-benar marah ketika harus melihatnya selalu berdampingan dengan cewek yang lain. Marah ketika dia asyik bersama cewek lain. Risih melihat ketika dia lebih senang bersama cewek lain. Memang, aku yang mungkin cemburuan. Aku tak bisa menjauhkan pikiran-pikiran yang sebenarnya sangat bertentangan dari kenyataan.

Tapi ketika saling bertatapan dengannya jantung serasa masih berdegup kencang. Salah tingkah ketika dia menatapku. Sok sinis ketika dia tersenyum padaku. Memang aku yang salah. Terlalu salah saat mengucapkan satu kata yang sangat berat yaitu putus.

Kata putus tepat di tanggal 14 Februari tahun lalu. Kenapa? Hanya karena cemburu. Hanya karena bukan dia yang pertama mengucapkan tentang hari kasih sayang itu padaku. Aku egois! Jelas! Aku egois. Tak pernah mengerti perasaannya.

"Sudahlah abaikan" kata yang selalu dia ucapkan ketika aku selalu merasa bersalah.Tahun lalu bisa kusebut Valentine yang suram karena hanya masalah endingnya aku dan dia. Tapi Valentine kali ini berubah 360 derajat. Kaukembali tepat di mana tepat 1 tahun aku merasakan nikmatnya sendiri. Terima kasih sudah mau kembali. Terima kasih untuk valentine kali ini. Terima kasih juga untuk Valentine tahun lalu.

Bukan hanya cokelat yang kudapat kali ini. Bukan hanya cokelat yang membuatku bahagia di Valentine kali ini.Tapi karena berkat Valentine ini sesuatu yang pernah sangat berharga bagiku bisa kembali tepat dihari ending tahun lalu. Intinya. Dia sudah kembali.***
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru