Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 07 Maret 2026

Sempat Dipenjara dan Disiksa, Dilma Rousseff Jadi Presiden Wanita Pertama Brasil

- Minggu, 02 Agustus 2015 14:57 WIB
681 view
Sempat Dipenjara dan Disiksa, Dilma Rousseff Jadi Presiden Wanita Pertama Brasil
Dilma Vana Rousseff mengukir namanya dalam sejarah sebagai wanita pertama yang dipilih menjadi Presiden Brasil ketika dilantik pada  1 Januari 2011. Presiden Brasil ke-36 ini sebelumnya juga menjadi wanita pertama yang ditunjuk oleh presiden kala itu, Luiz Inacio Lula da Silva menjadi Kepala Staf Presiden Brasil.

Lahir di keluarga menengah ke atas dengan ayah pengacara dan wiraswastawan dan ibu guru sekolah, perkenalan awal Dilma di bidang politik terjadi di tahun 1964 ketika dia mulai bersekolah menengah atas pada usia 16 tahun.  Saat itu dia bergabung dengan perjuangan bersenjata melawan kediktatoran militer.  Di tahun 1967, Dilma menyeriusi semangat politiknya dengan bergabung dengan Politik Pekerja (Politica Operaria, POLOP), suatu organisasi yang didirikan di tahun 1961 sebagai salah satu faksi Partai Sosialis Brasil. Di masa inilah Dilma bertemu dengan Claudio Galeno Linhares yang kemudian dinikahinya di tahun 1968 setelah berpacaran selama satu tahun, Dilma kemudian berpartisipasi pada kegiatan-kegiatan militan.

Keterlibatan Dilma dan Linhares dalam kegiatan-kegiatan militan, dimana keluarga Dilma sama sekali tidak tahu menahu, menyebabkan kehidupan pernikahannya tidaklah berjalan mulus. Mereka bercerai baik-baik di tahun 1969 untuk kemudian Rousseff menikahi Carlos Franklin Paixao de Araujo, Ketua Partai Komunis Brasil (Partido Comunista Brasileiro, PCB). Araujo kemudian menggabungkan partainya dengan beberapa partai lain sehingga membentuk Vanguarda Armada Revolucionaria Palmares yang akrab dengan nama VAR Palmares.

Ibu dari Paula Rousseff de Araujo ini ditangkap pihak militer pada  16 Januari 1970 selama hampir tiga tahun dan mengalami penyiksaan kemudian dibebaskan pada  1972. Karena ditangkap untuk tindakan subversif, Dilma dikeluarkan dengan tidak hormat dari Universitas Federal Minas Gerais dan dilarang menlanjutkan kuliahnya. Dia kemudian memutuskan untuk pindah ke Universitas Federal Rio Grande do Sul dan lulus di tahun 1977. Aktifitas politiknya berlangsung kembali di Institut Ilmu Politik dan Sosial walaupun sekali ini tidak dalam bentuk militan.

Kantor Komisi Khusus untuk Perbaikan Hak Azasi Manusia untuk Rio de Janeiro menyetujui permintaan ganti rugi bagi Dilma dan 8 tahanan politik lainnya. Total besarnya kompensasi yang dibayarkan kepada korban penganiayaan politik mencapai 72,000 reais. Namun seperti yang digaungkan para penasehatnya, bagi Dilma, ganti rugi ini hanyalah sebagai simbol belaka.

Dilma dan Araujo mencurahkan waktu mereka untuk terpilihnya Alceu Collares sebagai walikota Porto Alegre di tahun 1985. Setelah terpilih, Alceu Collares menunjuk Dilma sebagai Sekretaris Bendahara Kota dimana ia menjabat sampai  1988. Di tahun 1990, Alceu Collares terpilih sebagai Gubernur dan menunjuk Dilma sebagai presiden Lembaga Ekonomi dan Statistik (Fundacao de Economia e Estatistica, FEE) dimana ia menjabat sampat akhir 1993 ketika ia ditunjuk sebagai Sekretaris Energi dan Komunikasi.

Di tahun 1998, Gubernur Olivio Dutra menunjuknya menjadi Sekretaris Energi kembali.

Prestasi Dilma selama menjabat sebagai Sekretaris Energi membuatnya dipilih sebagai Menteri Energi oleh Presiden Luiz Inacio Lula da Silva di tahun 2001.Setelah Jose Dirceu berhenti dari jabatannya sebagai kepala staff terkait dengan keterlibatannya dalam skandal Mensalao, Presiden Luiz Inacio menunjuk Dilma untuk menggantikan posisinya. Menurut Gilberto Carvalho, sekretaris pribadi Presiden, Dilma menarik perhatian Luiz Inacio karena keberaniannya dalam menghadapi situasi sulit dan keahlian teknisnya.

Pada  13 Juni 2010, setelah spekulasi selama lebih dari dua tahun, Dilma mengumumkan pencalonan dirinya sebagai presiden dari Partai Buruh untuk pemilihan tahun 2010. Dengan jumlah perolehan suara 56%, pada 1 Januari 2011, Dilma dilantik sebagai presiden wanita Brasil yang pertama. (merdeka.com/k)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru