Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 26 Oktober 2026

Tragedi Pendidikan Kita

- Senin, 28 April 2014 09:59 WIB
712 view
Tragedi  Pendidikan Kita
Belum seminggu kasus pelecehan seksual di Jakarta International School (JIS), dan masih dalam proses penyidikan oleh tim terkait, mulai dari Dinas Pendidikan dan aparat penegak hukum, muncul lagi tragedi  dunia pendidikan yang lebih sadis. Seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda Dimas Dikita Handoko (19) asal Medan Sumatera Utara tewas dianiaya  para senior mereka.

Doktrin pendidikan sesat dengan pasal senior tidak pernah salah membuat para senior bertindak arogan. Inilah tragedi pendidikan yang dari dulu karena arogansi senior pada juniornya berakibat pada pengilangan nyawa. Mungkin bisa saja para senior tidak menyadari apa yang mereka lakukan berujung pada hilangnya nyawa junior, tetapi kenyataannya nyawa para junior mereka sering melayang karena arogansi.

Banyak sekali tragedi dalam dunia pendidikan kita. Ada  tawuran antar pelajar, tawuran mahasiswa, bahkan seks bebas di dunia kampus. Ini   gambaran betapa pendidikan sudah mulai kehilangan ruh yang sebenarnya. Pendidikan adalah tempat menempa manusia untuk punya kepribadian, punya karakter, dan punya bekal ilmu pengetahuan agar kelak punya masa depan sebagai harapan bangsa tetapi nyatanya bukan demikian.

Bahkan dunia pendidikan tinggi selalu menekankan betapa perlunya Tri Darma Pendidikan Tinggi, pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Apa yang membuat Tri Darma Pendidikan Tinggi ini tidak jalan dan justru  bersifat ironi? Ini merupakan  efek dari tata kelola pendidikan tinggi yang salah. Sudah saatnya budaya senior dan junior itu di ubah. Bahkan OSPEK dikenal sebagai ajang arogansi senior dan junior sampai sekarang masih diperlakukan. Terakhirnya ukuran keilmuan jadi terabaikan hanya karena persoalan senioritas. Lantas kalau senior bersalah, apakah dibenarkan hanya karena lebih senior?

Untuk itu, Dirjen Dikti dan pihak kampus saatnya membangun budaya akademik, tradisi keilmuan di pendidikan tinggi. Ukuran keilmuan, karakter harus diutamakan. Ilmu, karakter tidak mengenal senior dan junior. Interaksi mahasiswa di kampus harus berdasarkan basis keilmuan. Karena tujuan pendidikan tinggi sebagaimana yang dikemukakan oleh Edward Shills (1983) adalah membebaskan mahasiswa dari kekeliruan, agar apa yang diyakini tentang ilmu pengetahuan benar adanya.

Apa yang menimpa Dimas mahasiswa STIP Jakarta harus jadi pembelajaran bagi semua kampus yang ada di negara ini untuk memperbaiki pola interaksi senior dan junior. Persoalan saling menghormati, jangankan senior dan junior, masyarakat miskin sekalipun, gelandangan, penderita kusta juga harus dihormati. Sebagai mahasiswa, jangan lagi membiasakan senior lebih hebat di kampus. Ukuran kehebatan saatnya bertitik tolak dari kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) serta karakter dan sifat yang dimilikinya.

Semoga aparat hukum dan kampus STIP menuntaskan kasus ini agar hal yang sama jangan lagi terjadi. Kita tidak mengerti mengapa hal yang sama banyak terjadi di sekolah kedinasan, seperti Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Sudah banyak korban hilang di kampus hanya karena persoalan senior dan junior.

Ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan tinggi kita agar kembali berbenah. Saatnya tradisi senior dan junior  ditinjau ulang kembali. Kapan lagi pendidikan tinggi kita menjadi salah satu dari universitas kelas dunia (World Class University) jika hal –hal kecil seperti ini terus menerus terjadi.

Tidakkah kita menyadari bahwa fungsi dan tujuan utama pendidikan tinggi adalah mencetak manusia sebagai generasi teknologi tingkat tinggi dan generasi berkarakter mumpuni.  Bukan mempertontonkan kekerasan yang berujung pada hilangnya nyawa mahasiswa secara cuma-cuma. Sungguh, ini merupakan tragedi dan ironi dalam dunia pendidikan tinggi. (#)    

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru