Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

Empati Terhadap Pelaku Bunuh Diri

Tajuk
Redaksi - Jumat, 31 Januari 2020 11:36 WIB
381 view
Empati Terhadap Pelaku Bunuh Diri
beritatagar.id
Ilustrasi
Kasus bunuh diri tidak terjadi begitu saja, dan jarang sekali yang sifatnya spontan. Biasanya ada latar belakang atau alasan yang mendorong seseorang mengakhiri hidupnya. Sayangnya kebanyakan orang hanya menyalahkan korban mengapa berpikiran pendek.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, setiap detik terdapat satu orang yang melakukan bunuh diri di seluruh dunia. Angka orang yang kehilangan nyawa akibat bunuh diri bahkan lebih parah dibanding jumlah orang yang terbunuh dalam perang. Total terdapat 800 ribu orang yang tercatat melakukan bunuh diri setiap tahunnya.

Di Indonesia dilaporkan, setiap satu jam setidaknya satu orang Indonesia bunuh diri. Pada 2016, catatan terakhir data yang dipunya WHO, angka bunuh diri di Indonesia diestimasi 3,4 kasus per 100.000 penduduk. Indonesia berada pada posisi 103 dari 183 negara dan sembilan di ASEAN.

Keinginan bunuh diri bisa dirasakan siapa saja, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dan lansia. Alasannya sangat beragam dan sebenarnya bisa dicegah jika orang di sekitarnya memiliki kepekaan. Dukungan dan perhatian orang terdekat bisa menggagalkan niat seseorang bunuh diri.

Ada beberapa pemicu seseorang ingin mengakhiri hidupnya. Antara lain stres, tidak ada harapan, sakit berkepanjangan, merasa terancam, tekanan ekonomi, masalah keluarga dan merasa tak berguna. Keputusan bunuh diri tetap tergantung kemampuan seseorang bertahan hidup. Sebab ada banyak orang mengalami masalah lebih berat, tetapi lebih memilih melanjutkan hidupnya, meski sulit.

Sebenarnya jika orang sekitar peka dan peduli, pelaku bunuh diri biasanya sudah menunjukkan tanda-tanda. Namun ada pendapat yang menyebutkan bunuh diri sulit dicegah apabila yang bersangkutan sudah membuat keputusan. Jadi peluang mencegahnya adalah saat pelaku masih bimbang atau mempertimbangkan apakah bunuh diri atau tidak.

Mari tunjukkan empati kepada orang terdekat yang menunjukkan gejala keputusasaan. Ada banyak kasus bunuh diri gagal karena ada yang mau mendengar mereka. Ajak bicara dan bila perlu konseling kepada psikolog atau rohaniwan.

Kita prihatin dengan dua kasus percobaan bunuh diri dari jembatan layang yang terjadi dua hari ini. Satu di Jawa Timur, dan satu lagi di Medan, Sumatera Utara, yang merupakan anggota Polri. Berhenti menghakimi mereka, dan pemicunya harus ditangani dengan bijak.

Mereka mesti diperlakukan sebagai korban dan dirawat secara intensif. Semangat hidup harus dibangkitkan kembali. Tak ada manusia yang tak memiliki masalah, dan itu hanya bisa diselesaikan jika masih tetap hidup. Bunuh diri adalah sikap pengecut yang mencoba melarikan diri dari masalah! (**)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru