Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 23 Maret 2026

Menangkap Peluang dari Resesi

Redaksi - Selasa, 29 September 2020 10:59 WIB
1.188 view
Menangkap Peluang dari Resesi
Foto: Luthfy Syahban/Tim Infografis
Ilustrasi resesi
Pandemi Covid-19 merupakan tragedi kesehatan dan kemanusiaan. Namun kemudian menyebar menjadi persoalan sosial-ekonomi. Menangani ini, berbagai negara mengedepankan kebijakan pembatasan sosial (social distancing). Sebisa mungkin manusia dibuat berjarak antara satu dengan yang lain, agar risiko penularan virus bisa diminimalkan. Di Indonesia, kebijakan ini diterjemahkan dalam bentuk Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Pembatasan kegiatan masyarakat ini yang kemudian membuat pandemi Covid-19 menjadi problema sosial ekonomi.

Saat masyarakat diminta sebisa mungkin untuk #dirumahaja, maka aktivitas produksi terhambat karena permintaan konsumen pun berkurang.

Akibatnya Covid telah memukul ekonomi di dua sisi sekaligus, penawaran (supply) dan permintaan (demand). Hasilnya, ekonomi Indonesia menciut. Ukuran ekonomi yang dicerminkan dalam Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II-2020 turun 5,32%.

Kuartal III-2020 memang belum berakhir, tinggal hitungan hari. Namun kemungkinan besar kontraksi (pertumbuhan negatif) ekonomi akan kembali terjadi.

Indonesia kini di ambang kontraksi PDB selama dua kuartal beruntun. Ini adalah definisi dari resesi, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak 1999.

Resesi memang sangat berat. Namun bukan berarti kita sudah habis. Karena resesi ini juga dialami sebagian besar negara-negara di dunia. Tergantung bagaimana kita memanfaatkan situasi agar bisa kembali normal, bahkan mungkin saja akan menjadi lebih baik dari masa-masa sebelumnya.

Orang bijak mengatakan, kondisi sulit dan berat adalah pelajaran yang sangat berharga untuk bisa memutar keadaan agar menjadi lebih baik lagi. Presiden Jokowi juga menangkap momentum ini sebagai suatu kesempatan untuk memperbaiki ekonomi desa secara mendasar.

Karenanya ia menegaskan bahwa pandemi harus jadi sebuah momentum untuk menginstal ulang, memperbaiki, mereformasi strategi besar transformasi ekonomi desa. Artinya, kondisi terpuruk ini menjadikan semangat baru supaya kita tetap optimis bahwa akan datang kondisi baru yang lebih baik.

Bagi masyarakat mampu yang mempunyiai modal atau memiliki dana lebih, periode ini bisa menjadi peluang untuk memupuk keuntungan pada masa mendatang dengan berinvestasi, misalnya. Bisa dengan 'menyerok' saham, memborong reksadana, dan sebagainya. Karena saat ini harga sedang diskon. Bila pemulihan ekonomi benar-benar terwujud, maka nilai aset yang dibeli sekarang akan berlipat-lipat nilainya. Ini salah satu contoh sebuah peluang yang besar.

Bagi masyarakat kurang mampu atau miskin, momentum ini bisa jadi peluang untuk membuka usaha, baik berbisnis online atau bertani dan lainnya. Karena banyak masyarakat yang tadinya bekerja di kota kini kembali ke desa.

Kondisi ini membuat beban pemerintahan desa menjadi berat, selain menanggung masyarakat desa yang ada, juga ditambah warganya yang terpaksa pulang kampung karena kehilangan pekerjaan atau usahanya bangkrut.

Momentum ini ditangkap Presiden Jokowi sebagai suatu kesempatan untuk memperbaiki ekonomi desa secara mendasar. Dalam jangka pendek, semua skema jaring pengaman sosial seperti PKH, bansos tunai, BLT Desa dipastikan tepat sasaran dan berjalan efektif.

Dalam situasi apapun, kita tidak boleh menyerah. Karena manusia memiliki ilmu dan kemampuan lebih, selayaknya memanfaatkannya secara optimal agar bisa lepas dari keterpurukan. Bahkan kalau bisa membalikkan keadaan menjadi lebih baik. Ingat juga kata-kata bijak, sebuah keberhasilan atau kesuksesan selalu dibangun dari kesulitan atau keterpurukan. (***/a)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru